Kebesaran yang Sesungguhnya ( 28 September 2026 )

Renungan hari ini dari bacaan Ayub 1:6-22; Lukas 9:46-50.
“Yang terkecil di antara kamu sekalian, dialah yang terbesar” (Luk. 9:48)

      Satya Nadella, yang menjadi CEO Microsoft pada 2014, pernah bercerita bahwa putra sulungnya, Zain, lahir dengan cerebral palsy yang berat. Pengalaman merawat anaknya yang sangat rentan mengubah cara pandangnya terhadap kehidupan. Ia belajar menempatkan diri pada posisi orang yang tidak berdaya dan memahami dunia dari sudut pandang mereka. Bahkan sebelum menjadi CEO, ia terlibat sebagai sukarelawan yang mendampingi karyawan difabel di Microsoft. Dengan demikian, bukan jabatan tertinggi di sebuah perusahaan besar yang terutama membentuk dirinya, melainkan pengalaman merawat seorang anak yang bergantung sepenuhnya pada orang lain.

Kisah ini membantu kita memahami pesan Injil hari ini. Dalam Lukas 9:46-50, para murid bertengkar tentang siapa yang terbesar di antara mereka. Mereka masih memahami kebesaran dengan ukuran dunia: kedudukan, pengaruh, dan posisi. Yesus menjawab dengan cara yang mengejutkan. Ia mengambil seorang anak kecil, menempatkannya di sisi-Nya, lalu berkata bahwa siapa pun yang menyambut anak itu, menyambut Dia sendiri. Kemudian Yesus menegaskan: “Yang terkecil di antara kamu sekalian, dialah yang terbesar.”

Bagi Yesus, kebesaran tidak pertama-tama diukur dari seberapa tinggi seseorang berdiri, melainkan dari kesediaannya merendahkan diri dan memberi tempat kepada mereka yang kecil dan tidak berdaya. Karena itu, kebesaran dapat diwujudkan dalam tindakan-tindakan sederhana: menyapa asisten rumah tangga atau petugas kebersihan dengan menyebut namanya, bukan sekadar memberi perintah; memberi kesempatan kepada mahasiswa yang pendiam agar bertumbuh dalam keberanian; atau menghargai kebaikan yang datang dari komunitas dan paroki lain, tanpa merasa bahwa hanya kelompok kita yang dapat melakukan sesuatu yang baik.

Sikap yang sama tampak ketika Yohanes melaporkan kepada Yesus bahwa ada seseorang yang mengusir setan demi nama-Nya, tetapi bukan bagian dari kelompok mereka. Para murid mencegah orang itu. Yesus justru mengoreksi sikap eksklusif tersebut: “Jangan kamu cegah, sebab siapa yang tidak melawan kamu, ia ada di pihak kamu.” Kebesaran sejati tidak merasa terancam oleh kebaikan yang dilakukan orang lain. Sebaliknya, ia mampu bersyukur dan memberi ruang bagi siapa pun yang menghadirkan kebaikan.

Kisah Ayub menunjukkan dimensi lain dari kebesaran tersebut. Dalam satu hari, Ayub kehilangan harta, para hambanya, dan bahkan kesepuluh anaknya. Namun di tengah kehilangan yang begitu besar, ia sujud dan berkata: “Tuhan yang memberi, Tuhan yang mengambil, terpujilah nama Tuhan.” Penulis Kitab Ayub bahkan menegaskan bahwa dalam semua itu Ayub tidak berbuat dosa dengan menuduh Allah berbuat tidak patut. Kebesaran Ayub bukan terletak pada kekayaannya yang besar, melainkan pada imannya yang tetap bertahan ketika segala sesuatu yang dimilikinya direnggut.

Kedua bacaan ini mengajak kita menghayati kebesaran melalui dua sikap konkret. Pertama, melayani dalam diam tanpa mencari pengakuan. Seorang pendidik, misalnya, tidak hanya memberi perhatian kepada mahasiswa yang berprestasi dan dapat mengharumkan nama lembaga, tetapi juga meluangkan waktu bagi mereka yang tertinggal, kurang percaya diri, atau jarang didengar. Demikian pula kita dipanggil untuk membantu orang yang mungkin tidak pernah dapat membalas kebaikan kita.

Kedua, belajar menyerahkan hidup kepada Tuhan. Ketika kehilangan pekerjaan, usaha gagal, penelitian ditolak, jabatan dilepaskan, atau orang yang kita kasihi pergi, kita dapat belajar berdoa seperti Ayub: “Tuhan yang memberi, Tuhan yang mengambil, terpujilah nama Tuhan.” Doa itu mungkin pada awalnya keluar dari hati yang masih terluka dan belum sepenuhnya memahami kehendak Tuhan. Namun, iman yang terus diucapkan dan dihidupi perlahan-lahan membentuk hati menjadi semakin berserah.

Maka, ketika sesuatu yang berharga dalam hidup kita hilang, pertanyaannya bukan hanya: “Mengapa Tuhan membiarkan ini terjadi?” Melainkan juga: “Apakah dalam kehilangan ini saya masih mampu percaya dan memuji Tuhan?” Selama ini, apakah kebesaran kita diukur dari apa yang kita miliki, jabatan yang kita pegang, atau pengaruh yang kita miliki? Ataukah kita mulai belajar mengukurnya dari kerendahan hati, kesediaan melayani, dan keteguhan iman? Marilah kita belajar menjadi besar menurut cara Tuhan: merendahkan hati, memberi tempat kepada yang kecil, melayani tanpa mencari pujian, dan menyerahkan hidup sepenuhnya kepada-Nya. Sebab, di sanalah kebesaran yang sesungguhnya ditemukan

Penulis

satu Respon

  1. Renungan ini mengingatkan ku untuk belajar rendah hati. Ukuran Tuhan berbeda dengan ukuran manusia.
    Ternyata melayani dengan tulus membawa damai dalam hati yang tidak bisa dijelaskan dengan kata kata. Semua ini milik Tuhan, Praise The Lord.
    Terima kasih renungan nya, semoga senantiasa dapat memberkati banyak orang, Amin.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *