| Renungan hari ini dari bacaan Yehezkiel 18:25-28; Matius 21:28-32. “Hendaklah kamu dalam hidupmu bersama, menaruh pikiran dan perasaan yang terdapat juga dalam Kristus Yesus.” (Flp. 2:5) |
Dalam hidup, saya menyadari betapa mudahnya mengatakan “ya” kepada Tuhan, tetapi tidak selalu mudah melakukannya. Saya tahu mana yang baik, mengerti apa yang Tuhan kehendaki, bahkan mungkin mengajarkannya kepada orang lain. Namun, ketika berhadapan dengan ego, kemarahan, keinginan diri, luka hati, atau kepentingan pribadi, ternyata melakukan kehendak Tuhan tidaklah semudah mengucapkannya.
Bukankah pengalaman seperti ini juga menjadi pergumulan kita sebagai manusia?
Melalui perumpamaan tentang dua anak, Yesus menunjukkan bahwa yang terutama bukan apa yang kita ucapkan atau tampilkan di hadapan orang lain, melainkan kesediaan untuk berubah dan akhirnya melakukan kehendak Bapa.
Nabi Yehezkiel mengingatkan bahwa setiap orang bertanggung jawab atas pilihan dan tindakannya di hadapan Allah. Orang benar yang berbalik dari kebenaran dan melakukan kejahatan harus menanggung akibat perbuatannya. Sebaliknya, orang yang menyadari kesalahannya, berbalik dari kejahatan, dan melakukan keadilan serta kebenaran akan memperoleh kehidupan.
Di sinilah kita menemukan anugerah pertobatan. Tuhan tidak mengunci hidup kita pada kesalahan masa lalu. Selama kita mau berbalik, selalu terbuka jalan untuk kembali kepada-Nya.
Namun, pertobatan tidaklah mudah. Kita terus bergumul dengan kedagingan: ego, kesombongan, kemarahan, iri hati, keinginan dipuji, dan berbagai kelemahan diri. Karena itu bersama pemazmur aku berdoa: “Beritahukanlah jalan-jalan-Mu kepadaku, ya Tuhan, tunjukkanlah itu kepadaku.” (Mzm. 25:4). Aku membutuhkan Tuhan untuk menunjukkan jalan-Nya, mengampuni dosaku, dan membimbing langkahku.
Paulus kemudian menunjukkan jalan pembaruan yang lebih dalam: “Hendaklah kamu menaruh pikiran dan perasaan yang terdapat juga dalam Kristus Yesus” (Flp. 2:5).
Inilah tantangan pertobatanku: bukan hanya berhenti melakukan kesalahan, tetapi membiarkan cara berpikir, perasaan, dan sikapku semakin menyerupai Kristus.
Yesus, walaupun dalam rupa Allah, tidak mempertahankan hak-Nya bagi diri-Nya sendiri. Ia mengosongkan diri, mengambil rupa seorang hamba, merendahkan diri, dan taat sampai mati di kayu salib. Maka, sebagai murid-Nya, aku pun dipanggil untuk belajar menyangkal ego, melepaskan keinginan untuk selalu menang dan dianggap benar, serta berani memikul salib kelemahanku setiap hari.
Dalam kehidupan bersama – keluarga, pekerjaan, pelayanan, dan komunitas – pembaruan itu menjadi nyata ketika kita belajar hidup sehati, tidak mencari kepentingan atau pujian bagi diri sendiri, tetapi dengan rendah hati memperhatikan kepentingan sesama.
Anak dalam Injil awalnya berkata, “Aku tidak mau,” tetapi kemudian ia menyesal, berubah, dan pergi melakukan kehendak ayahnya. Di situlah pertobatan menjadi nyata.
Tuhan tidak hanya melihat bagaimana aku memulai. Ia melihat apakah aku mau berubah.
Mungkin hari ini aku masih jatuh dalam kelemahan yang sama. Mungkin kedagingan, ego, atau karakter lamaku kembali muncul. Namun, aku tidak boleh berhenti pada penyesalan. Bersama Roh Kudus aku harus bangkit, berubah hati, berubah sikap, lalu melangkah melakukan kehendak Tuhan.
Pertobatan sejati bukan hanya berkata, “Tuhan, aku menyesal,” tetapi berani berkata melalui hidupku: “Tuhan, sekarang aku mau melakukan kehendak-Mu.”
Tuhan selalu memberi kesempatan kepada kita untuk berubah. Yang menentukan bukan hanya bagaimana kita memulai, tetapi apakah kita mau berbalik dan akhirnya berjalan dalam kehendak-Nya.
Pembaruan hidup terjadi sedikit demi sedikit: ketika pikiranku semakin menjadi pikiran Kristus, hatiku semakin memiliki hati Kristus, dan tindakanku semakin mencerminkan ketaatan Kristus.
Berubah hati, berubah sikap, dan melakukan kehendak Tuhan – itulah pertobatan yang hidup.
Tuhan Yesus, aku menyadari kelemahan dan kedaginganku yang sering membuatku sulit melakukan kehendak-Mu. Tunjukkanlah jalan-Mu dan bentuklah hati, pikiran, serta sikapku semakin menyerupai-Mu. Ketika aku jatuh, berilah aku keberanian untuk bertobat, bangkit kembali, dan bersama Roh Kudus melakukan kehendak Bapa. Amin.
