| Renungan hari ini dari bacaan Pengkhotbah 11:9-12:8; Lukas 9:43b-45. “Turutilah keinginan hatimu dan pandangan matamu, tetapi ketahuilah bahwa karena segala hal ini Allah akan membawa engkau ke pengadilan!” (Pkh. 11:9b) |
Ada sebuah paradoks pada kalimat ini. Pengkhotbah berkata kepada orang muda, “Bersukarialah, hai pemuda, dalam kemudaanmu, biarlah hatimu bersuka pada masa mudamu, dan turutilah keinginan hatimu dan pandangan matamu…” Sekilas, nasihat ini terdengar seperti ajakan untuk menikmati hidup sebebas-bebasnya. Tetapi, ayat itu segera disusul dengan peringatan: “… tetapi ketahuilah bahwa karena segala hal ini Allah akan membawa engkau ke pengadilan!”
Pengkhotbah tidak sedang mengajarkan: “Nikmati hidup sesuka hatimu karena hidup ini hanya sekali.” Ia juga tidak sedang berkata: “Jangan menikmati hidup karena semuanya sia-sia.” Pesannya jauh lebih dalam; nikmatilah hidup sebagai anugerah Allah dengan bertanggung jawab.
Pada umumnya manusia sering menghabiskan waktu dan tenaga untuk membangun sesuatu yang akhirnya harus kita tinggalkan. Kita mengejar uang, jabatan, kesuksesan, pengakuan, penerimaan, pencapaian, prestasi, umur panjang bahkan berusaha mempertahankan tubuh agar tetap awet muda demi kebahagiaan. Tetapi, hidup tidak pernah bernegosiasi dengan kita.
Karena itu, persoalannya bukan bagaimana membuat hidup berlangsung bahagia selamanya, melainkan bagaimana menjalani waktu yang diberikan kepada kita dengan benar.
Pengkhotbah tidak anti terhadap kesenangan. Pengkhotbah justru mengingatkan bahwa kita boleh menikmati kehidupan: makan, bersukacita, menikmati masa muda, dan menggunakan kesempatan yang ada. Alkitab tidak mengajarkan bahwa kehidupan harus dijalani dengan wajah muram karena dunia ini sementara.
Justru karena hidup sementara, kita perlu belajar menikmatinya dengan benar. Nikmati percakapan dengan pasangan. Nikmati makan bersama keluarga. Nikmati pekerjaan yang masih dapat dilakukan. Nikmati kesehatan selagi tubuh masih memungkinkan. Nikmati persahabatan. Nikmati keindahan alam. Nikmati kesempatan untuk menolong orang lain.
Tetapi, jangan sampai semua kesenangan itu menggantikan Sang Pemberi sukacita itu sendiri. Sebab, akhirnya Pengkhotbah membawa kita pada sebuah kalimat yang sangat sederhana, “Ingatlah akan Penciptamu.”
Mengingat Tuhan bukan sekadar mengingat bahwa Tuhan itu ada. Mengingat berarti menjalani hidup dengan kesadaran bahwa hidup ini berasal dari-Nya dan suatu hari akan kembali kepada-Nya.
Pengkhotbah menghubungkan sukacita kehidupan, dengan peringatan tentang penghakiman. Kita boleh menikmati hidup, tetapi bukan hidup tanpa arah. Kita bebas menikmati pemberian Allah, tetapi kebebasan itu tetap berada di bawah kehendak dan tanggung jawab kepada Allah.
Yang lebih penting, Tuhan tidak boleh dijadikan “pilihan terakhir” ketika kita sudah kehabisan jalan. Jangan menunggu masalah besar untuk mencari Tuhan. Jangan menunggu tua untuk belajar taat. Jangan menunggu kehilangan kesehatan untuk menyadari betapa berharganya hidup.
Pengkhotbah berkata, “Ingatlah akan Penciptamu pada masa mudamu,” artinya, ketika tenaga masih ada, kesempatan masih terbuka, dan hari depan masih panjang, gunakan semuanya untuk mengenal, mengasihi, dan melayani Allah.
Dengan demikian, mengingat Pencipta berarti menyadari bahwa “Hidup ini bukan milikku sepenuhnya. Aku menerimanya sebagai pemberian Allah, aku menjalaninya di hadapan Allah, dan aku ingin menggunakannya untuk kemuliaan Allah.”
Itulah sebabnya menikmati hidup, tidak bertentangan dengan hidup bagi Tuhan. Justru ketika kita mengingat Sang Pencipta, kita belajar menikmati ciptaan-Nya dengan rasa syukur, bukan dengan keserakahan; menikmati waktu dengan bijaksana, bukan menyia-nyiakannya; dan menikmati kebebasan dengan tanggung jawab, bukan hidup sesuka hati.
Sebab, Pengkhotbah kemudian menggambarkan datangnya usia tua: tubuh kehilangan kekuatan, penglihatan menjadi kabur, pendengaran berkurang, dan akhirnya manusia kembali kepada debu. Gambaran ini bukan untuk menakut-nakuti kita, inilah kenyataan untuk mengingatkan kita bahwa kehidupan memiliki batas.
Saat tubuh kita sehat dan kita masih bisa menikmati hidup, kita mungkin masih merasa bahwa kematian adalah sesuatu yang jauh. Tetapi, mungkin justru sekaranglah waktunya berhenti sejenak dan bertanya: Jika hidup saya ternyata tidak sepanjang yang saya bayangkan, apakah ada sesuatu yang harus saya ubah?
Apakah ada hubungan yang perlu dipulihkan?
Apakah ada permintaan maaf yang terlalu lama ditunda?
Apakah ada orang yang seharusnya lebih sering saya dengarkan?
Apakah saya sedang mengejar sesuatu yang sebenarnya tidak terlalu penting?
Apakah saya sedang mengorbankan kesehatan, keluarga, dan kedamaian demi sesuatu yang suatu hari akan saya tinggalkan?
Hidup bukan hanya tentang berapa lama kita hidup, melainkan untuk siapa dan bagaimana kita menjalani waktu yang dipercayakan kepada kita.
Jika kita menyadari bahwa waktu kita terbatas, apa yang hari ini kita ingin lakukan dengan berbeda? Apa yang perlu kita ubah? Apa yang selama ini kita tunda, padahal sebenarnya sangat berarti?
