Setarakah Yesus dengan Influencer Jaman Ini? ( 25 September 2026 )

Renungan hari ini dari bacaan Pengkhotbah 3:1–11; Lukas 9:18–22. “Yesus bertanya kepada mereka, “Menurut kamu, siapakah Aku ini?” (Luk. 9:20).

Kedua bacaan di atas mempunyai tema yang kurang lebih sama: tentang siapakah Yesus? Bagi pembaca Kitab Suci secara serius, tema ini terasa sangat akrab. Pertanyaan ini merupakan salah satu pertanyaan abadi, setara dengan pertanyaan-pertanyaan abadi lainnya: Siapakah aku? Ke manakah aku pergi pada akhir hidup?

Membaca kedua perikop ini, Pkh 3:1–11 dan Luk 9:18–22, pada awalnya terasa tidak mudah menemukan benang merahnya. Di mana benang merahnya?

Perikop Pkh 3:1–11 merupakan semacam ringkasan hukum alam yang merupakan sari kebijaksanaan: semuanya ada waktunya. Bagi orang muda, terutama yang kreatif dan berbakat, pernyataan ini kadang terasa membatasi. Bagi seorang muda yang multitalenta, saat inilah saatnya. Tidak pakai waktunya siapa. Sekarang adalah kesempatan untuk berbuat, berkarya, dan mengembangkan diri.

Namun, ketika mulai lanjut usia, pernyataan Pengkhotbah ini terasa semakin selaras dengan pengalaman hidup. Bagi mereka yang hidupnya berjalan selaras dengan musim, pernyataan ini menggarisbawahi pengalaman konkret sehari-hari: ada waktu untuk lahir dan ada waktu untuk mati; ada waktu untuk menangis dan ada waktu untuk tertawa; ada waktu untuk berdiam diri dan ada waktu untuk berbicara. Semuanya ada waktunya.

Mengulang-ulang membaca perikop Luk 9:18–22, seolah-olah isu utamanya adalah pertanyaan: siapakah Yesus? Bagi kita pada zaman ini, kita akrab dengan istilah promotor, motivator, dan influencer. Maka muncul pertanyaan yang mungkin terasa menggelitik: Apakah Yesus setara dengan influencer?

Pertanyaan Yesus terasa sebagai pertanyaan retorik, pertanyaan yang seolah-olah menuntut jawaban dari orang lain, tetapi pada akhirnya justru harus dijawab oleh diri sendiri. “Menurut kamu, siapakah Aku?”

Mengulang pertanyaan itu pelan-pelan kepada diri sendiri, lalu beragam rasa muncul. Ada kegelisahan, ada kerinduan, ada keyakinan, tetapi juga ada ketakutan. Apalagi ketika membaca bagian akhir perikop, Luk 9:22.

Pertanyaan abadi ini, pada zaman sekarang, menjadi pertanyaan yang menohok dan menggugat diri sendiri: Siapakah Yesus bagiku? Sekadar promotor? Motivator? Atau influencer?

Adakah promotor, motivator, atau influencer yang mengorbankan dirinya sampai mati demi memulihkan relasiku dengan Allah?

Yesus tidak hanya mengajar (Luk 4:31; 5:3) dan menyembuhkan (Luk 4:39; 5:13, 24). Yesus juga merekrut murid (Luk 5:10, 27; 6:13). Namun, lebih dari semuanya itu, Yesus akhirnya menyerahkan diri-Nya dan wafat di kayu salib.

Yesus melampaui promotor, motivator, atau influencer yang kita kenal pada zaman ini. Ia bukan sekadar orang yang memengaruhi hidup orang lain melalui kata-kata. Ia memberikan hidup-Nya sendiri.

Iblis dan setan pun mengenal Yesus (Luk 4:9, 41) sebagai Anak Allah. Kalau iblis dan setan saja mengenal Yesus, pertanyaan bagi kita pada zaman ini menjadi semakin tajam: siapakah Yesus bagiku?

Mengenal Yesus ternyata tidak cukup hanya dengan mengetahui siapa Dia. Pertanyaan Yesus kepada para murid akhirnya menjadi pertanyaan kepada setiap orang yang mengaku mengikuti-Nya: siapakah Aku bagimu?

Di zaman Indonesia yang tidak baik-baik saja, pertanyaan ini sungguh menantang kita semua. Pada pekan-pekan ini, ketika situasi semakin kritis, kita seperti semakin dekat dengan pemberitahuan pertama Yesus tentang penderitaan-Nya.

Apakah kita juga bakal mengalami penderitaan yang dialami Yesus? Apakah kita bakal seperti Petrus? Atau Yudas? Atau… kita bakal seperti Maria, Bunda Yesus?

Pertanyaan-pertanyaan ini tidak mudah dijawab.

Namun, benang merah kedua perikop itu sekarang mungkin mulai menjadi jelas. Semua ada waktunya. Ada waktu untuk lahir dan ada waktu untuk mati. Ada waktu untuk tertawa dan ada waktu untuk menangis. Ada waktu untuk membangun dan ada waktu untuk meruntuhkan. Bahkan ada waktu untuk menghadapi penderitaan.

Mungkin masa penderitaan dan masa yang tidak baik-baik ini adalah masa sekarang. Dan justru di dalam waktu seperti inilah pertanyaan tentang Yesus menjadi semakin penting. Bukan hanya: siapakah Yesus menurut orang lain? Tetapi terutama: siapakah Yesus bagiku?

Allah, Putra-Mu adalah Mesias dari Allah, pembawa kabar gembira Allah bagi umat manusia. Di zaman yang tidak baik-baik ini di Indonesia, kami meyakini Dikau tetap menemani kami, seperti kehadiran-Mu pada zaman para Rasul.

Berilah kami keberanian untuk tetap setia, seperti Bunda Maria yang hadir sampai di kaki salib Yesus.

Amin.

Penulis

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *