| Renungan hari ini dari bacaan Ayub 9:1-12: Lukas 9:57-62. “Rubah mempunyai liang dan burung mempunyai sarang, tetapi Anak Manusia tidak mempunyai tempat untuk meletakkan kepala-Nya” (Luk. 9:58). |
Dewasa ini, ketika orang memutuskan untuk mengikut Yesus, kita sering mengatakan bahwa mereka tidak hanya akan mendapatkan hidup yang baru, tetapi juga gaya hidup yang lebih baik. Di tengah gereja dengan bangku empuk, ruang ibadah berkarpet, dan katedral berpendingin udara, kita merasa janggal untuk berbicara seperti yang dilakukan Yesus. Dia bahkan tidak menjanjikan tempat bernaung bagi para pengikut-Nya (lih. Luk. 9:58). Namun, kita sering menjanjikan kemakmuran, kenyamanan, harta benda, dan kesenangan. Yesus memang terkadang memperbaiki gaya hidup seseorang, tetapi Dia menghindari menjadikan semua itu sebagai daya tarik untuk mengikut Dia.
Faktanya, Yesus tidak memberikan iming-iming apa pun bagi orang yang hendak mengikut Dia. Meskipun Dia bisa saja menjanjikan kemakmuran surgawi yang luar biasa, Dia tampaknya tidak menekankan hal itu ketika memanggil seseorang untuk menjadi pengikut-Nya. Dia tidak memanggil kita untuk mengejar surga atau sekadar menghindari neraka. Dia memanggil kita untuk mengikut Dia.
Bacaan pertama dari Kitab Ayub hari ini mengajak kita menyadari dengan sungguh bahwa sebagai manusia yang lemah, kita tidak mungkin melawan Allah. Ayub berkata, “Allah itu bijak dan sangat kuat, siapakah dapat bersikeras melawan Dia, dan tetap selamat? … yang melakukan perbuatan-perbuatan besar yang tak terselami, dan keajaiban-keajaiban yang tak terbilang banyaknya” (Ayb. 9:4.10). Di hadapan kebesaran dan kuasa Allah, manusia dipanggil untuk merendahkan diri dan berserah kepada-Nya.
Bacaan Injil Lukas hari ini menegaskan hal yang sama. Ketika seseorang berkata kepada Yesus, “Aku akan mengikut Engkau, ke mana saja Engkau pergi,” Yesus menjawab, “Rubah mempunyai liang dan burung mempunyai sarang, tetapi Anak Manusia tidak mempunyai tempat untuk meletakkan kepala-Nya” (Luk. 9:57–58). Jawaban Yesus ini seolah-olah mengingatkan bahwa mengikuti-Nya bukanlah jalan menuju kenyamanan dan keuntungan duniawi. Mengikut Yesus berarti siap meninggalkan rasa aman dan bersedia menanggung konsekuensi dari pilihan tersebut.
Ketika Yesus memanggil seseorang kepada diri-Nya, Dia memanggil mereka menuju salib: menuju penderitaan, kematian, dan kasih tanpa syarat (lih. Luk. 9:23). Karena itu, pengikut Yesus yang sejati tidak menjadikan iman sebagai sarana untuk mendapatkan keuntungan bagi dirinya sendiri. Sebaliknya, ia berusaha melepaskan diri dari sikap egois dan keinginan untuk selalu mendapatkan sesuatu dari Allah.
Saat Yesus menjadi manusia dan mati bagi kita, Dia tidak membutuhkan apa pun dari kita. Dia melakukannya karena Dia mengasihi kita. Maka, tanggapan kita terhadap kasih itu semestinya juga bukan pertama-tama mencari apa yang dapat kita peroleh dari Allah, melainkan memberikan diri kepada-Nya. Mengikut Yesus berarti belajar mengasihi tanpa syarat, berserah pada kehendak Allah, dan tidak menentang-Nya, bahkan ketika jalan yang harus ditempuh bukanlah jalan kenyamanan.
Pada akhirnya, pertanyaan bagi kita bukanlah, “Apa yang saya dapatkan jika mengikut Yesus?” melainkan “Apakah saya tetap mau mengikut Yesus ketika tidak ada keuntungan duniawi yang saya dapatkan?” Sebab, mengikuti Yesus bukanlah sebuah perjanjian untuk mendapatkan hidup yang nyaman, melainkan panggilan untuk menyerahkan hidup kepada Dia yang terlebih dahulu menyerahkan diri-Nya bagi kita.
