| Renungan hari ini dari bacaan Yesaya 66: 10–14b; Matius 18:1–5 “Barangsiapa merendahkan diri dan menjadi seperti anak kecil ini, dialah yang terbesar dalam Kerajaan Surga.” (Mat18:4) |
Dalam bacaan pertama, Allah digambarkan seperti seorang ibu yang menghibur anaknya. Allah hadir bagi umat-Nya yang sedang mengalami kesedihan dan memberikan penghiburan serta kedamaian. Gambaran ini mengingatkan saya bahwa hubungan manusia dengan Allah bukan hanya tentang mengetahui siapa Allah, tetapi juga tentang menyadari bahwa kita membutuhkan-Nya.
Dalam Injil, ketika para murid bertanya siapa yang terbesar dalam Kerajaan Surga, Yesus justru menunjukkan seorang anak kecil. Menjadi seperti anak kecil bukan berarti kita harus menjadi kekanak-kanakan. Seorang anak kecil memiliki satu hal yang sangat jelas: ia bergantung kepada orang tuanya. Ia belum mampu melakukan semuanya sendiri dan membutuhkan orang tuanya untuk menolong serta merawatnya, dan ia tahu itu tanpa merasa malu. Begitu juga manusia di hadapan Allah. Kita perlu menyadari bahwa tanpa Allah, kita sebenarnya tidak dapat melakukan apa-apa.
Sebaliknya, ketika manusia mulai merasa dapat mengandalkan dirinya sendiri, kesombongan mulai muncul. Adam dan Hawa jatuh karena ingin menjadi seperti Allah dalam menentukan apa yang baik dan yang jahat. Bangsa Israel juga pernah jatuh ke dalam kesombongan setelah mengalami keselamatan dari perbudakan di Mesir. Mereka lupa bahwa keselamatan mereka berasal dari Allah. Karena itu, menjadi seperti anak kecil berarti berani mengakui bahwa kita membutuhkan Allah, dan tidak menjadikan diri sendiri sebagai pusat.
Saya teringat ketika saya masih duduk di SD, sekitar usia sebelas atau dua belas tahun. Saat Natal, ayah saya harus dirawat di rumah sakit karena kondisi katup kiri jantungnya terbuka. Ia dirawat selama kurang lebih empat sampai lima hari. Karena itu, saya melewatkan perayaan Natal. Itu adalah pertama kalinya saya tidak merayakan Natal seperti biasanya.
Waktu itu saya masih terlalu kecil untuk memahami kondisi ayah. Saya hanya tahu bahwa ayah saya sakit dan saya takut. Saya menangis sambil berdoa supaya ayah saya membaik dan dokter mengizinkannya pulang. Setelah beberapa hari dirawat, keadaan ayah saya membaik dan akhirnya ia diperbolehkan pulang. Sebagai seorang anak, saya menerimanya dengan sederhana. Saya tidak tahu harus melakukan apa selain berdoa kepada Tuhan karena saya membutuhkan pertolongan.
Kini saya mahasiswa yang belajar tentang agama, dan justru karena itu iman saya tak lagi sesederhana dulu. Ada banyak hal yang saya pertanyakan dan pergumulkan. Saya juga tidak ingin berkata bahwa ayah saya sembuh semata-mata karena doa saya. Namun, kenangan itu tetap tinggal, sebagai saat ketika saya benar-benar tak berdaya dan hanya bisa bergantung kepada Tuhan.
Memasuki Oktober, bulan Rosario, saya teringat pada Maria. Ia teladan kerendahan hati dan ketergantungan kepada Allah. Kerendahan hatinya tidak berarti ia bebas dari pertanyaan; ia hanya memilih percaya. Ia tidak menempatkan dirinya sebagai pusat, melainkan membuka diri bagi kehendak Tuhan dan mempercayakan hidupnya kepada-Nya.
Barangkali menjadi seperti anak kecil bukan berarti kita tak boleh bertanya atau bergumul. Kita tetap boleh berpikir, belajar, dan mempertanyakan iman. Tetapi, di tengah semuanya itu, kita diajak mengingat bahwa kita membutuhkan Allah. Dahulu, ketika ayah saya sakit, saya datang kepada Tuhan karena saya tahu saya tak mampu berbuat apa-apa. Kini, dengan lebih banyak pengetahuan dan lebih banyak pertanyaan, saya justru perlu belajar kembali merendahkan diri seperti seorang anak.
Di tengah segala kemampuan, pengetahuan, dan pergumulan saya, masihkah saya mau merendahkan diri dan sungguh-sungguh bergantung kepada Allah?
