| Renungan hari ini dari bacaan Keluaran 23:20–23; Matius 18:1–5,10 “Ingatlah, jangan menganggap rendah seorang pun dari anak-anak kecil ini.” (Mat 18:10) |
Bacaan Injil hari ini mengingatkan bahwa setiap manusia berharga di hadapan Tuhan. Tidak seorang pun terlalu kecil, terlalu lemah, atau terlalu sederhana untuk diperhatikan oleh-Nya. Karena itu, Yesus mengajarkan kepada para murid agar belajar dari seorang anak kecil: memiliki hati yang rendah hati, sederhana, tulus, dan mau percaya. Kebesaran di hadapan Tuhan bukan pertama-tama ditentukan oleh kemampuan, kedudukan, atau keberhasilan, melainkan oleh kerendahan hati dan keterbukaan untuk menerima kasih-Nya.
Pada saat yang sama, Yesus memberikan peringatan yang sangat kuat: “Jangan menganggap rendah seorang pun.” Perkataan ini mengajak setiap orang untuk melihat sesama sebagaimana Tuhan melihatnya. Sering kali manusia mudah menilai orang berdasarkan pendidikan, pekerjaan, kekayaan, kemampuan, penampilan, bahkan kesalahan masa lalunya. Tanpa disadari, seseorang dapat merasa lebih tahu, lebih mampu, atau lebih penting daripada orang lain. Bahkan dalam percakapan sehari-hari, sikap itu dapat muncul ketika seseorang sulit mendengarkan karena merasa pendapatnya sendiri sudah paling benar.
Sabda Tuhan hari ini mengajak kita untuk melihat kembali sikap tersebut. Kerendahan hati bukan berarti merendahkan diri, melainkan menyadari bahwa setiap orang mempunyai martabat dan nilai di hadapan Tuhan. Karena itu, belajar mendengarkan, memberi ruang kepada pendapat orang lain, menghargai mereka yang berbeda, dan tidak mudah menghakimi merupakan bagian dari kehidupan iman.
Bacaan pertama memberikan gambaran yang indah tentang penyertaan Tuhan. Tuhan mengutus malaikat untuk berjalan di depan umat-Nya, menjaga dan menuntun mereka dalam perjalanan. Umat tidak dibiarkan berjalan sendirian. Di tengah jalan yang tidak selalu mudah dan masa depan yang belum diketahui, Tuhan hadir sebagai penuntun dan pelindung.
Demikian pula dalam kehidupan sehari-hari. Ada saat-saat ketika seseorang merasa takut menghadapi sesuatu yang belum diketahui. Ada pula saat ketika pilihan hidup terasa membingungkan dan jalan yang harus ditempuh tidak jelas. Dalam situasi seperti itu, sabda Tuhan mengingatkan kita bahwa kehidupan tidak pernah berjalan tanpa penyertaan-Nya. Tuhan hadir, bahkan ketika kehadiran-Nya tidak selalu segera dirasakan. Karena itu, yang dibutuhkan bukanlah mengetahui seluruh jalan di depan, melainkan memiliki keberanian untuk melangkah sambil tetap percaya kepada Tuhan.
Penyertaan Tuhan juga memanggil setiap orang untuk menjadi tanda penyertaan-Nya bagi sesama. Kasih Tuhan tidak hanya diterima dalam doa, tetapi juga diwujudkan melalui sikap dan tindakan konkret. Menyapa dengan ramah, berbicara dengan sopan, mau mendengarkan, membantu orang yang membutuhkan, memberi perhatian kepada mereka yang tersisih, dan tidak membeda-bedakan orang merupakan tindakan sederhana yang dapat menghadirkan kasih Tuhan.
Kadang-kadang kebaikan seperti itu tampak kecil dan tidak berarti. Namun, justru melalui hal-hal kecil itulah seseorang dapat membuat orang lain merasa dihargai dan diterima. Sebuah sapaan dapat menguatkan hati. Kesediaan mendengarkan dapat membuat seseorang merasa tidak sendirian. Sebuah pertolongan kecil dapat menjadi tanda bahwa Tuhan tidak meninggalkannya.
Sabda Tuhan hari ini mempertemukan dua pesan penting: Tuhan berjalan di depan untuk menuntun manusia, dan manusia dipanggil untuk berjalan bersama sesama dengan hati yang rendah hati. Karena Tuhan menyertai, tidak perlu hidup dalam ketakutan. Karena setiap orang berharga di hadapan Tuhan, tidak ada alasan untuk merendahkan atau mengabaikan sesama.
Mari belajar memiliki hati seperti anak kecil: sederhana, rendah hati, dan percaya kepada Tuhan. Mari pula belajar melihat setiap orang dengan penghargaan, bukan dengan penilaian. Sebab mungkin saja orang yang dianggap kecil oleh dunia justru sangat berharga di mata Tuhan.
Semoga dalam setiap perjalanan hidup, kita semakin percaya bahwa Tuhan berjalan di depan, menuntun dan menjaga. Dan semoga melalui kata-kata, sikap, dan tindakan kita, orang-orang yang kita jumpai dapat merasakan bahwa mereka juga berharga, dikasihi, dan tidak pernah sendirian di hadapan Tuhan.
