| Renungan hari ini dari bacaan Ayub 42:1-3, 5-6, 12-16; Injil Lukas 10:17-24 “Hanya dari kata orang saja aku mendengar tentang Engkau, tetapi sekarang mataku sendiri memandang Engkau.”(Ayub 42:5) |
Sore itu, Daniel duduk termenung di teras rumahnya sambil memandangi sisa-sisa kebunnya yang rusak akibat badai hebat pekan lalu. Hidupnya terasa jungkir balik. Selama bertahun-tahun, ia dikenal sebagai orang yang taat, rajin beribadah, dan hidupnya senantiasa berkecukupan. Ia selalu mengajarkan kepada anak-anaknya bahwa Tuhan itu baik dan melindungi orang benar. Namun, ketika musibah bertubi-tubi merenggut kenyamanan hidupnya, Daniel merasa seisi dunia runtuh. Di dalam hatinya yang sunyi, terselip sebuah tanya besar: di manakah Tuhan selama badai ini terjadi?
Selama berminggu-minggu, Daniel hidup dalam pergumulan batin yang hebat. Ia berdebat dengan keadaannya, merasa frustrasi, dan mempertanyakan keadilan yang selama ini ia yakini. Namun, di titik kelelahan, ketika ia berhenti membela diri dan bersimpuh dalam keheningan total di hadapan Sang Pencipta, sesuatu yang luar biasa terjadi. Ia tidak langsung mendapatkan penjelasan logis mengapa malapetaka itu harus menimpanya. Sebaliknya, ia merasakan kehangatan hadiran Allah yang meredakan segala gemuruh di dadanya.
Saat itulah ia teringat kisah Ayub. Selama ini, iman Daniel adalah iman warisan, iman yang ia dengar dari khotbah, dari buku-buku rohani, dan dari tradisi orang tuanya. Ia tahu tentang Tuhan secara teori. Namun, badai penderitaan yang meremukkan egonya justru membuka mata batinnya untuk melihat siapa Allah yang sesungguhnya. Seperti yang diakuinya dengan air mata kelegaan, Hanya dari kata orang saja aku mendengar tentang Engkau, tetapi sekarang mataku sendiri memandang Engkau. Puing-puing kehidupannya tidak membuat Allah menjauh, justru di sanalah ia mengalami perjumpaan yang paling intim. Dan perlahan, sebagaimana Ia memulihkan Ayub dan memberkatinya berlimpah-limpah di akhir hidupnya, ketenangan dan kekuatan baru mulai mengalir kembali ke dalam hati Daniel.
Kisah perubahan batin ini seirama dengan apa yang disaksikan oleh para murid dalam Injil Lukas ketika mereka kembali dari misi pekabaran Injil. Dengan penuh semangat dan mata yang berbinar-binar, mereka melaporkan kepada Yesus bagaimana kuasa gelap tunduk di dalam nama-Nya. Mereka begitu takjub pada mukjizat dan pencapaian luar biasa yang baru saja mereka saksikan.
Namun, Yesus tersenyum dan memberikan sudut pandang yang jauh lebih dalam. Yesus berkata kepada mereka, Namun, janganlah bersukacita karena roh-roh takluk kepadamu, tetapi bersukacitalah karena namamu terdaftar di surga. Yesus ingin mengalihkan pandangan mereka dari sekadar sensasi kesuksesan duniawi atau kehebatan pelayanan menuju pada realitas hubungan kekal dengan Bapa. Sukacita sejati tidak bergantung pada seberapa mulus keadaan luar atau seberapa besar kuasa yang kita miliki, melainkan pada anugerah keselamatan yang menempatkan kita sebagai anak-anak yang dikasihi-Nya.
Hari ini, mari kita berkaca dari kisah Daniel dan para murid. Sering kali, kita terjebak mengenali Tuhan hanya sebatas status, rutinitas ibadah, atau saat hidup sedang berjalan mulus. Padahal, Allah rindu kita mengenal-Nya secara utuh lewat lembah-lembah kelam yang memurnikan hati, maupun lewat sukacita sederhana karena kita dikasihi-Nya. Di musim kehidupan apa pun yang sedang Anda jalani saat ini, biarlah setiap pengalaman membawa kita semakin dekat untuk benar-benar memandang Dia.
