| Renungan hari ini dari bacaan Yesaya 5:1-7; Matius 21:33-43 “Sebab itu, Aku berkata kepadamu bahwa Kerajaan Allah akan diambil dari kamu dan akan diberikan kepada suatu bangsa yang menghasilkan buah kerajaan itu.” (Mat 21:43) |
Injil hari ini mengisahkan seorang pemilik kebun anggur yang mempercayakan kebunnya kepada para penggarap. Pemilik kebun sudah menyiapkan semuanya dengan baik. Ia menanam kebun anggur, memasang pagar, menggali tempat pemerasan anggur, dan mendirikan menara. Ketika musim panen tiba, ia mengutus hamba-hambanya untuk menerima hasil kebun. Namun, para penggarap justru menangkap, memukul, dan membunuh mereka. Bahkan ketika anak pemilik kebun datang, mereka tetap menolaknya dan membunuhnya.
Perumpamaan ini membuat saya melihat bahwa para penggarap sebenarnya sudah menerima kepercayaan yang besar. Mereka hanya bertugas mengelola kebun, tetapi mereka bertindak seolah-olah kebun itu sepenuhnya milik mereka. Mereka lupa bahwa suatu saat pemilik kebun akan datang dan meminta hasil dari apa yang telah dipercayakan kepada mereka.
Saya kemudian teringat pada pengalaman ketika saya mulai terlibat dalam pelayanan. Pada awalnya, saya tidak selalu merasa siap ketika mendapatkan suatu tanggung jawab. Ada rasa takut, ragu, dan keinginan untuk menolak karena saya merasa belum memiliki kemampuan yang cukup. Saya sering berpikir, “Apakah saya bisa menjalankan tanggung jawab ini dengan baik?” Kadang saya merasa bahwa orang lain lebih mampu daripada saya.
Namun, ketika saya mencoba menjalaninya, perlahan saya menyadari bahwa kesempatan tersebut bukan hanya sebuah tugas. Ada kepercayaan yang diberikan kepada saya. Saya belajar bahwa Tuhan dapat memberikan kesempatan kepada seseorang bukan karena orang tersebut sudah sempurna, tetapi karena Tuhan ingin orang itu bertumbuh melalui tanggung jawab yang dipercayakan kepadanya.
Dalam proses menjalani pelayanan dan tanggung jawab itu, saya juga mengalami bahwa tidak semuanya berjalan sesuai dengan yang saya harapkan. Ada saat ketika saya lelah, kurang percaya diri, atau merasa apa yang saya lakukan tidak menghasilkan sesuatu yang besar. Tetapi, saya belajar untuk tetap menjalankannya. Saya mulai memahami bahwa buah kehidupan tidak selalu terlihat dalam hasil yang besar atau mendapatkan pujian dari orang lain.
Buah dapat muncul dalam hal-hal sederhana. Ketika saya mau membantu seseorang, menyelesaikan tugas dengan bertanggung jawab, mendengarkan orang lain, atau tetap melakukan kebaikan meskipun tidak ada yang melihat, sebenarnya saya sedang belajar menghasilkan buah. Dari hal-hal kecil itulah Tuhan membentuk saya.
Saya juga tersentuh melihat kesabaran pemilik kebun dalam Injil. Berkali-kali para penggarap menolak orang-orang yang diutusnya, tetapi ia tetap memberikan kesempatan. Saya melihat bahwa Tuhan pun sering memberikan kesempatan kepada saya. Ketika saya gagal, Tuhan masih memberi kesempatan untuk mencoba lagi. Ketika saya kurang bertanggung jawab, Tuhan masih mengajak saya untuk belajar. Kasih Tuhan tidak berhenti hanya karena saya belum mampu menghasilkan buah yang sempurna.
Tetapi, kesempatan itu tidak boleh saya sia-siakan. Saya tidak ingin hanya menerima segala sesuatu dari Tuhan tanpa menghasilkan apa-apa. Tuhan sudah memberikan kehidupan, kesempatan, kemampuan, dan orang-orang yang hadir dalam perjalanan hidup saya. Semua itu adalah kepercayaan yang perlu saya kelola dengan baik.
Karena itu, pertanyaan yang muncul dalam diri saya adalah: apa yang sudah saya hasilkan dari semua yang Tuhan percayakan kepada saya? Pertanyaan ini membuat saya sadar bahwa Tuhan tidak hanya melihat apa yang saya terima, tetapi juga bagaimana saya menggunakannya.
Saya mungkin belum mampu menghasilkan buah yang besar. Namun, saya ingin mulai dari hal-hal sederhana yang dapat saya lakukan dengan setia. Sebab Allah mengharapkan buah kehidupan dari saya. Bukan kehidupan yang sempurna, tetapi kehidupan yang mau bertumbuh, mau belajar, dan mau memberikan sesuatu yang baik bagi orang lain.
Pada akhirnya, saya belajar bahwa menjadi penggarap kebun Tuhan berarti menerima kepercayaan sekaligus menjalankan tanggung jawab. Tuhan telah memberikan banyak hal dalam hidup saya. Sekarang, saya dipanggil untuk tidak hanya menikmati pemberian-Nya, tetapi juga menghasilkan buah dari semuanya. Semoga hidup saya tidak berhenti sebagai kebun yang hanya menerima, tetapi menjadi kehidupan yang sungguh menghasilkan buah bagi Tuhan dan sesama.
