| Renungan hari ini dari bacaan Galatia 1:6–12; Lukas 10:25–37 “Pergilah dan perbuatlah demikian!” (Lukas 10:37) |
Injil hari ini mengisahkan perumpamaan tentang orang Samaria yang baik hati. Yesus menceritakan seorang musafir yang dirampok, dipukuli, dan ditinggalkan tergeletak dalam kondisi sekarat. Ada beberapa orang yang melintas dan melihat keadaannya, tetapi mereka memilih untuk melewatinya begitu saja. Mereka melihat penderitaan sesamanya, tetapi hati mereka tidak tergerak untuk mengulurkan tangan. Sebaliknya, seorang Samaria yang melihat orang itu justru tergerak oleh belas kasihan dan segera memberikan pertolongan nyata.
Membaca kisah ini membuat saya berkaca pada kehidupan sehari-hari. Sering kali saya berada di posisi orang-orang yang hanya melintas. Saya melihat teman yang sedang kesulitan, tampak sedih, kewalahan mengerjakan tugas, atau memendam masalah pribadi. Saya melihat keadaan mereka, tetapi enggan langsung bertanya atau menawarkan bantuan. Sering kali muncul alasan di benak saya: “Mungkin dia bisa menyelesaikannya sendiri,” atau “Saya juga sedang sibuk dengan urusan saya.” Akhirnya, saya hanya menjadi penonton tanpa melakukan apa-apa.
Dari kisah orang Samaria ini, saya belajar bahwa menjadi seorang Kristiani bukan sekadar mampu mengamati penderitaan sesama, melainkan memiliki hati yang mau bertindak. Orang Samaria itu tidak berhenti pada rasa iba; ia berhenti melangkah, mendekat, merawat luka-luka, dan memberikan apa yang ia miliki tanpa memandang latar belakang orang tersebut. Ia melihat seorang manusia yang terluka dan memilih untuk hadir secara nyata.
Panggilan bertindak ini selaras dengan bacaan pertama dari Surat Rasul Paulus kepada Jemaat di Galatia. Paulus mengingatkan jemaat agar tetap setia berpegang pada Injil Kristus yang sejati dan tidak tersesat oleh ajaran lain. Bagi saya, menghidupi Injil yang sejati bukan sekadar mendengar atau memahaminya di kepala, melainkan mewujudkannya dalam laku hidup. Jika saya sungguh-sungguh mengimani ajaran Kristus tentang kasih, maka kasih itu harus tampak dalam perbuatan konkret terhadap orang-orang di sekitar saya.
Sebagai seorang mahasiswa, panggilan kasih ini dapat saya mulai dari hal-hal yang sederhana: Bertanya dan menawarkan bantuan saat melihat teman sedang kesulitan; Meluangkan waktu untuk mendengarkan ketika ada teman yang sedang bersedih; Berbagi pemahaman atau membantu semampu saya ketika ada teman yang tertinggal dalam pelajaran.
Saya menyadari bahwa saya tidak selalu bisa menuntaskan semua masalah orang lain. Namun, setidaknya kehadiran saya dapat menunjukkan bahwa saya peduli dan tidak membiarkan mereka berjuang sendirian. Menolong sesama tidak melulu menuntut hal-hal besar; perhatian tulus, kehadiran, waktu yang disisihkan, atau kata-kata yang menguatkan adalah wujud nyata dari kasih itu sendiri. Yang terpenting adalah kemauan untuk membuka hati dan tidak menutup mata.
Semoga melalui sabda Tuhan hari ini, kita semakin dimampukan untuk tidak hanya melihat kesulitan sesama, tetapi membiarkan hati kita sungguh tergerak oleh kasih. Menjadi pengikut Kristus berarti berani hadir, peduli, dan menolong sesuai dengan kemampuan yang kita miliki. Marilah kita tidak hanya berhenti menjadi orang yang tahu tentang kasih, tetapi menjadi pribadi yang sungguh menghidupinya dalam keseharian.
