| Renungan hari ini dari bacaan Galatia 3:7-14; Lukas 11:15-26 “Barangsiapa tidak bersama Aku, ia melawan Aku, dan barangsiapa tidak mengumpulkan bersama Aku, ia mencerai-beraikan” (Luk 11:23) |
Injil hari ini berbicara tentang Yesus yang mengusir setan dari seseorang. Namun, setelah melihat apa yang dilakukan Yesus, ada orang yang justru menuduh bahwa Ia mengusir setan dengan kuasa Be’elzebul. Yesus kemudian menjelaskan bahwa kerajaan yang terpecah tidak akan dapat bertahan. Ia juga mengatakan bahwa ketika roh jahat keluar dari seseorang, roh itu dapat kembali lagi apabila menemukan rumah yang sudah dibersihkan tetapi tetap kosong.
Ketika membaca bagian ini, saya teringat pada pengalaman sederhana dalam kehidupan sehari-hari. Ada kalanya kita sudah memiliki niat untuk meninggalkan sesuatu yang kurang baik. Kita tahu bahwa kebiasaan itu tidak membawa kita menjadi lebih baik, bahkan mungkin membuat kita semakin jauh dari Tuhan. Kita sudah mencoba untuk berhenti, tetapi ternyata tidak selalu mudah. Setelah beberapa waktu, kita bisa kembali lagi pada kebiasaan yang sama.
Saya sendiri pernah merasakan bahwa sesuatu yang sebenarnya ingin kita tinggalkan bisa terasa sulit ketika kita sudah terbiasa menikmatinya. Apalagi kalau dari hal tersebut kita mendapatkan kesenangan yang cepat. Misalnya ketika kita terlalu lama menggunakan HP. Kita tahu bahwa waktu yang kita habiskan bisa digunakan untuk berdoa, belajar, beristirahat, atau melakukan hal yang lebih berguna. Tetapi, ketika sudah memegang HP dan menemukan sesuatu yang kita sukai, rasanya sulit untuk berhenti. Kita mendapatkan kesenangan secara cepat, sehingga niat untuk berhenti kadang kalah dengan keinginan untuk terus menikmatinya.
Dari sini saya merasa perkataan Yesus tentang rumah yang kosong menjadi sangat dekat dengan kehidupan kita. Meninggalkan sesuatu yang buruk memang penting, tetapi ternyata itu belum cukup. Kalau kita hanya berusaha menghilangkan kebiasaan buruk tanpa mengisi hidup kita dengan sesuatu yang lebih baik, kita bisa dengan mudah kembali lagi. Kita perlu mengisi hati dan hidup kita dengan Tuhan.
Mungkin inilah yang sering kita lupakan. Kita ingin berubah, tetapi kadang hanya mengandalkan niat dan kekuatan diri sendiri. Ketika gagal, kita merasa kecewa lalu menyerah. Padahal, kita bisa datang kepada Tuhan dan memohon pertolongan-Nya. Bukan berarti setelah berdoa semuanya langsung berubah. Kita tetap harus berusaha, menetapkan niat, dan belajar untuk memilih yang baik setiap hari.
Bacaan pertama juga mengingatkan kita tentang Abraham yang percaya kepada Allah. Paulus menunjukkan bahwa iman kepada Allah mempunyai tempat yang penting dalam kehidupan orang beriman. Karena itu, perjalanan hidup kita tidak hanya bergantung pada kemampuan diri sendiri. Ada Tuhan yang selalu menyertai dan memberikan kekuatan ketika kita berusaha untuk hidup lebih baik.
Mungkin kita perlu bertanya kepada diri sendiri: apa yang selama ini sebenarnya ingin saya tinggalkan, tetapi masih sering saya lakukan? Dan setelah saya meninggalkannya, dengan apa saya mengisi hati saya?
Tuhan tidak meminta kita berubah sekaligus menjadi sempurna. Ia hanya mengajak kita untuk terus berjalan bersama-Nya. Ketika jatuh, kita mencoba bangun lagi. Ketika gagal, kita mencoba lagi. Yang penting, kita tidak membiarkan hati kita kosong. Sebab, hati yang kosong mudah diisi oleh apa saja. Karena itu, mari mengisi hati kita dengan Tuhan, supaya dalam setiap pilihan kecil yang kita buat, kita semakin mampu berjalan bersama-Nya.
