ROH KUDUS DIMINTA DENGAN IMAN, DITERIMA DENGAN CUMA CUMA ( 8 Oktober 2026 )

Renungan hari ini dari bacaan Galatia 3:1-5; Lukas 11:5-13.
“Karena itu Aku berkata kepadamu: Mintalah, maka kamu akan diberi; carilah, maka kamu akan mendapat; ketoklah, maka pintu akan dibukakan bagimu.” (Luk. 11:9)

Dua bacaan hari ini seolah berbicara tentang satu hal yang sama: Roh Kudus adalah anugerah Allah. Dalam bacaan pertama, Paulus menegur jemaat di Galatia dengan keras. Ia menyebut mereka “bodoh”, bukan karena mereka kurang cerdas, melainkan karena mereka mudah tergoda untuk kembali mengandalkan kekuatan sendiri. Paulus mengingatkan bahwa Kristus yang disalibkan sudah dipaparkan dengan jelas di depan mata mereka. Lalu ia mengajukan pertanyaan sederhana: apakah Roh Kudus mereka terima karena melakukan hukum Taurat, atau karena mendengar pewartaan dengan iman? Jawabannya sudah jelas. Mereka telah memulai dengan Roh, mengapa sekarang hendak menyelesaikannya dengan kekuatan sendiri?

Kita mudah menegur jemaat Galatia, padahal kita sering melakukan hal yang sama. Diam-diam kita menghitung: sudah berapa kali ikut misa, berapa banyak pelayanan yang dijalankan, berapa lama waktu doa. Seakan-akan kasih Allah dapat “dibeli” dengan daftar prestasi rohani. Ketika sedang rajin, kita merasa dekat dengan Tuhan. Ketika sedang lelah dan gagal, kita merasa tidak layak lagi datang kepada-Nya. Padahal iman kita bermula dari hadiah, bukan dari upah.

Dalam Injil, Yesus menceritakan seorang yang mengetuk pintu sahabatnya pada tengah malam untuk meminjam tiga roti, karena ada tamu yang datang sementara ia tidak punya apa-apa untuk dihidangkan. Sahabatnya semula enggan. Pintu sudah terkunci dan anak-anaknya sudah tidur bersamanya. Tetapi, karena orang itu terus mendesak tanpa rasa malu, akhirnya sahabatnya bangun dan memberikan apa yang dibutuhkan. Yesus tidak sedang mengatakan bahwa Allah itu malas dan harus dibujuk. Justru sebaliknya: jika seorang sahabat yang enggan saja akhirnya memberi, betapa lebih lagi Bapa kita yang penuh kasih. Perumpamaan ini mengajak kita berdoa dengan tekun dan tidak mudah menyerah.

Yesus kemudian mengajarkan tiga kata kerja: mintalah, carilah, ketuklah. Ketiganya adalah gerakan orang yang sadar bahwa dirinya tidak punya apa-apa. Meminta berarti mengakui bahwa kita bergantung. Mencari berarti mau berjalan dan berusaha. Mengetok berarti tidak berbalik pergi di depan pintu yang tampak tertutup. Yesus lalu memberi gambaran yang dekat dengan kehidupan kita: seorang anak yang meminta ikan tidak akan diberi ular, dan yang meminta telur tidak akan diberi kalajengking. Orang tua yang tidak sempurna pun tahu bagaimana memberikan yang baik kepada anaknya.

Puncak ajaran Yesus ada di akhir bacaan: Bapa di surga akan memberikan Roh Kudus kepada mereka yang meminta kepada-Nya. Perhatikan bahwa Yesus tidak berkata Allah akan memberi apa saja yang kita minta, tetapi Roh Kudus, pemberian yang terbaik. Sering kali doa kita seperti anak kecil yang meminta permen, sementara Bapa hendak memberikan diri-Nya sendiri. Ketika jawaban Tuhan tampak lambat atau berbeda dari yang kita harapkan, mungkin bukan karena Ia menolak, melainkan karena Ia hendak memberi sesuatu yang lebih baik daripada yang kita minta.

Jika dua bacaan ini kita satukan, pesannya menjadi terang. Menurut Paulus, Roh diterima melalui iman, bukan melalui jasa. Menurut Yesus, Roh diberikan kepada mereka yang meminta. Kita tidak perlu membuktikan diri layak terlebih dahulu. Kita hanya perlu terbuka, percaya, dan meminta. Namun, meminta bukan berarti pasif. Orang dalam perumpamaan itu bangun di tengah malam dan berjalan ke rumah sahabatnya. Iman yang meminta adalah iman yang mau bergerak dan tekun.

Penulis
Bible Learning Loving The Truth

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *