| Renungan hari ini dari bacaan Keluaran 22:21-27; Matius 22:34-40. “Kasihilah Tuhan, Allahmu, dengan segenap hatimu, dengan segenap jiwamu, dan dengan segenap akal budimu” (Mat. 22:37). |
Panggilan menjadi murid Kristus bermuara pada satu ketetapan batin yang mendasar: hidup kudus melalui keteguhan hati dalam mengasihi Allah dan sesama. Perintah utama dalam Matius 22:37 bukanlah tuntutan beban moralistik yang dingin, melainkan sebuah respons syukur. Dasar dari kemampuan kita mencintai berakar pada inisiatif ilahi: “Kita mengasihi, karena Allah lebih dahulu mengasihi kita” (1 Yoh. 4:19). Kasih-Nya telah dicurahkan melimpah ke dalam palung batin kita oleh Roh Kudus (Rm. 5:5).
Kasih sejati tidak pernah berhenti pada rasa puas diri atau kesalehan emosional yang statis. Kasih yang hidup selalu rindu bertumbuh dan diperluas. Digerakkan oleh kasih Kristus (2 Kor. 5:14), kita diundang memohon hati yang baru (Yeh. 36:26), sebuah batin yang elastis untuk menampung curahan rahmat-Nya yang tak bertepi. Semakin kita mengecap kebaikan Tuhan, semakin jiwa kita rindu tinggal di dalam-Nya (1 Yoh. 4:16). Siklus relasional ini berlangsung seumur hidup, menempa keteguhan iman hingga saat kita berpulang dan memandang wajah-Nya secara berhadapan muka (1 Kor. 13:12).
Namun, bagaimana keteguhan mengasihi Allah dengan segenap hati, jiwa, dan akal budi itu mewujud nyata dalam keseharian? Bacaan Keluaran 22:21–27 memberi jangkar konkret: kasih vertikal kepada Allah selalu diuji melalui integritas kasih horizontal kepada sesama, khususnya mereka yang paling rapuh. Kasih bukanlah konsep abstrak, melainkan praksis hidup sehari-hari:
Keluaran 22 secara tegas mengingatkan bangsa Israel untuk tidak menindas orang asing, janda, dan anak yatim piatu. Keteguhan hati seorang murid teruji saat ia peka terhadap orang-orang yang tersingkir di sekitarnya. Mengasihi Allah dengan segenap hati berarti membuka pintu rumah, dompet, dan telinga kita bagi mereka yang sedang berduka serta membutuhkan pertolongan tanpa pamrih.
Firman Tuhan melarang pemungutan bunga yang mencekik terhadap sesama yang miskin, serta memerintahkan pengembalian jubah pinjaman sebelum matahari terbenam agar orang tersebut tidak kedinginan. Di era modern, mengasihi Allah dengan akal budi menuntut etika profesional yang adil: tidak memeras bawahan, tidak mencari untung di atas penderitaan rekan kerja, dan senantiasa mempertimbangkan dampak moral dalam setiap keputusan finansial.
Mencintai dengan Segenap Jiwa kita lakukan melalui Ketergantungan Total. Keteguhan hati menuntut kita bersandar sepenuhnya pada pemeliharaan Tuhan, bukan pada jaminan materi atau posisi duniawi. Ketika situasi hidup menekan, jiwa yang terpaut pada kasih Kristus tetap memilih jalur integritas daripada kompromi dosa.
Mengasihi Allah adalah komitmen tindakan yang terus diperbarui setiap fajar merekah. Hari ini, mari meminta Tuhan meluaskan kapasitas hati kita agar keteguhan mengasihi-Nya tampak nyata dalam keberanian membela keadilan, merawat sesama yang lemah, dan menjaga kemurnian hidup di tengah dunia. Amin.
