| Renungan hari ini dari bacaan Efesus 6:10-20; Lukas 13:31-35. “Berkali-kali Aku ingin mengumpulkan anak-anakmu, sama seperti induk ayam mengumpulkan anak-anaknya di bawah sayapnya, tetapi kamu tidak mau” (Luk 13:34). |
Setiap dini hari, Bu Wati terjaga di ruang tamu. Ia mendengar anaknya, Raka, di dalam kamarnya masih sibuk dengan ponselnya. Ya sudah tiga bulan ini anaknya kena jerat judi online. Hidupnya jadi tanpa arah, gaji habis, utang semakin banyak. Tentu sebagai ibu, ia ingin berkomunikasi, memeluk, dan bahkan melindunginya, tetapi apa daya pintu dikunci rapat. Malam itu ia berdoa lirih, “Tuhan, jadilah naungan bagi anakku, dan beri aku kekuatan untuk tidak menyerah.”
Dalam Injil, Yesus mendengar ancaman Herodes. Ia tidak lari. “Pergilah dan katakanlah kepada si rubah itu” (Luk 13:32). Ia tetap melanjutkan karya-Nya menuju Yerusalem. Hati-Nya meratap: “Berkali-kali Aku ingin mengumpulkan anak-anakmu, sama seperti induk ayam mengumpulkan anak-anaknya di bawah sayapnya, tetapi kamu tidak mau” (Luk 13:34). Herodes disebut serigala, sedangkan Yesus memilih gambaran induk ayam yang melindungi dengan merentangkan sayap dan rela menjadi korban demi anak-anaknya.
Kerinduan Yesus itulah yang perlahan mengubah Bu Wati. Ia berhenti menunggu dengan cemas di depan pintu dan mulai berdoa Rosario bersama kelompok doa lingkungan. Di bawah naungan Tuhan, hatinya menjadi tenang, dan ia sanggup berbicara dengan sabar dan kasih pada Raka tanpa marah. Beberapa minggu kemudian, Raka sendiri membuka pintu dan bersedia didampingi konselor paroki.
Santo Paulus berkata, “Kenakanlah seluruh perlengkapan senjata Allah, supaya kamu dapat bertahan melawan tipu muslihat Iblis” (Ef. 6:11). Ia menyebut ikat pinggang kebenaran, baju zirah keadilan, perisai iman, ketopong keselamatan, dan pedang Roh, yaitu firman Allah. Dengan perisai iman, kita dapat memadamkan semua panah api si jahat (Ef. 6:16), dan seluruh perlengkapan itu dihidupi dalam doa setiap waktu (Ef. 6:18).
Panah api zaman ini sering datang lewat genggaman tangan kita sendiri. Seorang mahasiswi yang dulu gemar meneruskan berita viral, memilih mengenakan ikat pinggang kebenaran: ia memeriksa setiap berita sebelum membagikannya, lalu mengajak teman-teman OMK membuat konten singkat tentang bahaya hoaks dan judi online. Mereka menjadi saksi kecil di tengah dunianya.
Bernaung dan berperisai adalah dua sisi hidup beriman. Kita datang berlindung di bawah sayap kasih Kristus, lalu kita dibekali untuk bisa berdiri teguh dan melindungi sesama.
Bagaimana kita bisa bernaung dalam Tuhan dan berperisai iman?
Pertama, menyediakan sepuluh menit buat hening setiap akan beristirahat dalam doa, mencoba merenungkan satu ayat Kitab Suci. Berikan waktu untuk mendengarkan tanpa menghakimi. Bila diperlukan pendamping, cari bantuan pastur atau konselor.
Kedua, tulis satu “panah api” yang melukai kita: kecanduan media sosial, mudah emosi. Tangkal (berperisai) panah api itu dengan kebiasaan rutin sederhana: Doa singkat “Yesus, lindungi aku” sebelum bertindak, bisa juga dengan sadar meletakkan handphone di luar kamar tidur setelah jam sembilan malam, melakukan pemerikasaan batin setiap malam, lalu bawa hasilnya ke Sakramen Tobat bulan ini.
Sudahkah aku bernaung pada Tuhan? Perisai apa yang sudah kupakai buat menangkal godaan hari ini? Marilah kita bernaung di bawah sayap kasih Kristus dan mengenakan perisai iman, supaya kita sanggup berdiri teguh, sekaligus menjadi naungan bagi mereka yang sedang terluka.
