| Renungan hari ini dari bacaan : Efesus 2:19–22; Lukas 6:12–19 “Di dalam Dia kamu juga turut dibangunkan menjadi tempat kediaman Allah, di dalam Roh.” (Ef. 2:22) |
Dalam kehidupan beriman, kita sering merasa cukup dengan berdoa, membaca Kitab Suci, dan mengikuti Misa. Namun, ketika diajak terlibat dalam komunitas atau pelayanan, terkadang kita enggan. Mengapa? Mungkin karena perbedaan karakter, pengalaman yang kurang menyenangkan, atau keinginan untuk hidup nyaman tanpa menghadapi persoalan orang lain. Padahal, Tuhan tidak memanggil kita untuk bertumbuh sendirian.
Rasul Paulus mengingatkan bahwa melalui Kristus, kita bukan lagi orang asing, melainkan anggota keluarga Allah. Kita dipersatukan menjadi satu bangunan rohani, dengan Kristus sebagai Batu Penjuru, dan dibangun menjadi tempat kediaman Allah dalam Roh Kudus.
Bayangkan diri kita seperti batu alam yang masih kasar, tidak beraturan, bahkan memiliki sisi-sisi tajam. Agar dapat tersusun menjadi sebuah bangunan yang kokoh, batu-batu itu perlu dibentuk dan disesuaikan.
Demikian pula kehidupan iman kita. Melalui keluarga, pekerjaan, komunitas, dan pelayanan, kita berjumpa dengan berbagai karakter manusia. Perbedaan pendapat, kesalahpahaman, bahkan kekecewaan dapat menjadi kesempatan bagi kita untuk belajar mengikis ego, kesombongan, dan keinginan untuk selalu benar.
Namun, bersediakah aku dibentuk? Ataukah aku justru menuntut orang lain berubah mengikuti keinginanku?
Proses pembentukan ini tidak mudah. Kita membutuhkan kerendahan hati, kesabaran, pengampunan, dan terutama bimbingan Roh Kudus. Sebab, tujuan persekutuan bukan sekadar berkumpul, melainkan bertumbuh bersama menjadi kediaman Allah yang kudus.
Dalam Injil, sebelum memilih kedua belas rasul, Yesus menghabiskan malam dalam doa kepada Bapa. Para rasul yang dipilih-Nya pun memiliki latar belakang, karakter, dan kelemahan yang berbeda. Namun, mereka dipanggil untuk bersatu dalam Kristus dan mengambil bagian dalam karya keselamatan-Nya.
Sesudah memilih mereka, Yesus turun menemui orang banyak, mengajar, dan menyembuhkan. Doa membawa kita semakin dekat kepada Allah, sedangkan kasih mendorong kita keluar untuk melayani sesama.
Sebagai pelayan Tuhan, aku menyadari bahwa panggilan bukan berarti aku sudah sempurna. Justru melalui pelayanan dan kehidupan bersama, Tuhan terus membentuk karakterku. Aku belajar bahwa menjadi bagian dari Bait Allah berarti bersedia dibentuk, dipersatukan, dan diutus untuk menghadirkan kasih-Nya.
Kita dipanggil bukan hanya untuk menjadi pribadi yang baik, tetapi juga untuk bertumbuh bersama sebagai keluarga Allah.
Kristus adalah Batu Penjuru, Roh Kudus mempersatukan dan membentuk kita, sedangkan kasih menjadi kesaksian nyata kehadiran Allah dalam kehidupan kita.
Tuhan Yesus, terima kasih karena Engkau memanggilku menjadi bagian dari keluarga-Mu. Bentuklah hatiku agar semakin rendah hati, sabar, dan penuh kasih. Bimbinglah aku dengan Roh Kudus agar mampu bertumbuh bersama sesama dan setia melayani-Mu. Amin.
