JANGAN SUKA MENUNDA-NUNDA ( 8 November 2026 )

Renungan hari ini dari bacaan Kebijaksanaan 6:12-17; Matius 25:1-13.
“Karena itu, berjaga-jagalah, sebab kamu tidak tahu akan hari maupun akan saatnya.” (Mat 25:13)

Bacaan hari ini mengajak kita untuk menyadari pentingnya mencari kebijaksanaan dan mempersiapkan diri dalam kehidupan iman. Dalam bacaan pertama, Kitab Kebijaksanaan menggambarkan kebijaksanaan sebagai sesuatu yang bercahaya dan tidak pernah pudar. Kebijaksanaan mudah ditemukan oleh mereka yang sungguh mencarinya dan merindukannya. Sementara itu, dalam Injil, Yesus menyampaikan perumpamaan tentang sepuluh gadis yang menantikan kedatangan mempelai laki-laki. Lima gadis bijaksana membawa persediaan minyak, sedangkan lima lainnya tidak mempersiapkannya. Ketika mempelai datang, hanya mereka yang siap dapat masuk ke dalam perjamuan. Melalui kedua bacaan ini, kita diajak untuk tidak menunda-nunda dalam mencari Tuhan dan memelihara iman.
Saudara-saudari yang terkasih, dalam kehidupan sehari-hari, kita sering melakukan hal yang sama seperti lima gadis yang tidak bijaksana. Kita tahu bahwa berdoa itu penting, tetapi sering menundanya karena merasa masih punya banyak waktu. Kita tahu bahwa mengampuni itu baik, tetapi masih menyimpan sakit hati. Kita sadar bahwa ada orang yang membutuhkan bantuan, tetapi terkadang memilih untuk tidak peduli. Kita sering berkata, “Nanti saja, masih ada waktu.” Tanpa disadari, kebiasaan menunda membuat kita lupa bahwa kesempatan untuk berbuat baik adalah anugerah yang perlu digunakan. Lalu, apa yang dapat kita lakukan? Kita bisa mulai dengan menyediakan waktu untuk berdoa, berani meminta maaf ketika melakukan kesalahan, belajar mengampuni, dan peduli terhadap orang-orang di sekitar kita. Hal-hal sederhana ini menjadi cara untuk menjaga agar pelita iman kita tetap menyala.
Menjaga iman memang tidak selalu mudah. Ada saatnya kita merasa lelah, sibuk dengan pekerjaan, menghadapi persoalan, atau bahkan mulai kehilangan semangat untuk berdoa. Namun, perumpamaan Yesus mengingatkan bahwa kesiapan tidak dapat dibangun secara mendadak. Iman perlu dipelihara setiap hari melalui hubungan yang dekat dengan Tuhan dan kesetiaan melakukan kehendak-Nya. Kita tidak bisa hanya mengandalkan iman yang pernah kita miliki, tetapi perlu terus bertumbuh dan memperbaruinya. Sebab, berjaga-jaga bukan berarti hidup dalam ketakutan akan kedatangan Tuhan, melainkan menjalani kehidupan dengan hati yang selalu terbuka bagi-Nya.
Karena itu, marilah kita bertanya kepada diri sendiri: apakah pelita iman kita masih menyala, atau justru mulai redup karena kita terlalu sibuk dengan urusan sendiri? Jangan menunggu sampai hubungan dengan sesama rusak untuk belajar mengampuni. Jangan menunggu sampai orang lain membutuhkan kita baru belajar peduli. Jangan menunggu sampai mengalami kesulitan baru kembali mencari Tuhan. Mulailah dari satu langkah sederhana yang dapat kita lakukan hari ini. Semoga kita menjadi pribadi yang bijaksana, yang tidak hanya menantikan Tuhan, tetapi juga mempersiapkan diri melalui iman yang hidup, kasih yang nyata, dan kesetiaan dalam kehidupan sehari-hari. Amin.

Penulis
Bible Learning Loving The Truth
Paskalis Edwin I Nyoman Paska

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *