Setia dalam Iman dan Bijaksana dalam Pelayanan ( 7 November 2026 )

Renungan hari ini dari bacaan : Filipi 4:10–19; Lukas 16:9–15.

Dalam bacaan pertama, Santo Paulus mengungkapkan rasa syukurnya atas perhatian jemaat di Filipi. Ia menegaskan bahwa ia telah belajar mencukupkan diri dalam segala keadaan, baik ketika berkekurangan maupun berkelimpahan. Paulus berkata, “Segala perkara dapat kutanggung dalam Dia yang memberi kekuatan kepadaku.” Ungkapan ini menunjukkan bahwa kekuatan hidupnya tidak bergantung pada banyak atau sedikitnya harta yang dimiliki, melainkan pada imannya kepada Allah. Paulus mengajarkan bahwa kita harus tetap bersyukur dan mengandalkan Tuhan dalam setiap situasi kehidupan.

Pesan Santo Paulus ini memiliki hubungan yang erat dengan Injil hari ini. Jika Paulus menunjukkan bagaimana seorang beriman seharusnya bersikap terhadap kekayaan dan kekurangan, Yesus menegaskan bahwa kekayaan tidak boleh menjadi tuan yang menguasai kehidupan manusia. Yesus berkata, “Kalian tidak dapat mengabdi kepada Allah dan kepada Mamon.” Dengan demikian, kedua bacaan ini mengajak kita untuk tidak menjadikan harta sebagai sumber kebahagiaan dan tujuan utama hidup. Paulus mengajarkan agar kita tidak diperbudak oleh keadaan, baik ketika kekurangan maupun berkelimpahan, sedangkan Yesus mengingatkan agar hati kita tetap tertuju kepada Allah, bukan kepada kekayaan.

Uang dan harta tentu saja tetap kita perlu untuk memenuhi kebutuhan hidup. Namun, persoalannya muncul ketika harta bukan lagi menjadi sarana, melainkan menjadi tujuan utama kehidupan. Ketika seseorang mengutamakan uang daripada kejujuran, mengorbankan sesama demi keuntungan pribadi, atau menyalahgunakan jabatan untuk memperkaya diri, ia mulai diperbudak oleh Mamon.

Yesus juga mengingatkan bahwa siapa yang setia dalam perkara kecil akan setia pula dalam perkara besar.

Sabda ini sangat dekat dengan kehidupan kita. Misalnya, seorang pedagang yang tetap jujur dalam menjual barang, seorang pekerja yang melaksanakan tugas dengan penuh tanggung jawab, orang tua yang menggunakan penghasilan untuk memenuhi kebutuhan keluarga, serta umat yang rela berbagi dengan tetangga yang berkekurangan. Ketika kita memberikan waktu untuk mengunjungi orang sakit, membantu sesama yang mengalami kesulitan, dan melayani Gereja tanpa mengharapkan imbalan, kita sedang menggunakan apa yang kita miliki untuk kebaikan. Sebaliknya, kita perlu waspada apabila demi memperoleh keuntungan, kita rela berbohong, menipu, atau mengabaikan sesama.

Kita semua dipanggil untuk menjadi kudus. Kekudusan bukan hanya panggilan bagi para imam, biarawan, atau biarawati, tetapi bagi seluruh umat beriman. Kekudusan diwujudkan melalui tindakan sederhana dengan memupuk iman, harapan, dan kasih: mendengarkan Sabda Tuhan, tetap mengandalkan-Nya dalam kesulitan, serta berbagi dan melayani sesama.

Maka, marilah kita bertanya: Apakah harta, waktu, kemampuan, dan kedudukan yang kita miliki sudah digunakan untuk kebaikan, atau justru telah menguasai hati kita? Apakah kita tetap bersyukur ketika berkekurangan dan tetap rendah hati ketika berkelimpahan?

Marilah kita menggunakan harta duniawi secara bijaksana, bukan menjadi hambanya, tetapi menjadikannya sarana untuk mengasihi Allah dan sesama. Dengan demikian, kita semakin bertumbuh dalam kekudusan dan memperoleh kehidupan kekal yang dijanjikan Allah. Amin

Penulis
Bible Learning Loving The Truth
Paskalis Edwin I Nyoman Paska

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *