| Renungan hari ini dari bacaan 2 Tawarikh 24:17-25; Matius 6:24-34. “Janganlah khawatir tentang tubuhmu, mengenai apa yang hendak kamu pakai. Bukankah hidup itu lebih daripada makanan dan tubuh itu lebih daripada pakaian? (Mat. 6:25) |
Bacaan-bacaan selama pekan ini merupakan bahan pengajaran yang sangat khas bagi para pengikut Kristus. Bila diajarkan kepada mereka yang tidak memiliki konteks iman Kristen, mungkin akan menimbulkan kebingungan atau keheranan, seperti seseorang yang mengalami situasi dalam film Lost in Translation. Karena itu, perikop-perikop hari ini perlu dibaca, dipahami, dan dilaksanakan oleh para murid Kristus.
Pertanyaannya, apakah pesan-pesan ini masih relevan bagi kita sekarang? Tidak relevan? Atau justru sangat relevan?
Bacaan pertama, 2Taw. 24:17-25, mengisahkan tentang obrolan Daud dengan Tuhan, perjumpaannya dengan Gad yang merupakan tanggapan langsung Tuhan terhadap sapaan Daud, dan dialog Daud dengan Arauna.
Ketika membaca secara berulang dialog-dialog dalam perikop ini, muncul pertanyaan: apakah para pemimpin bangsa kita juga berdialog dengan Tuhan ketika menghadapi berbagai persoalan negara, khususnya kondisi saat ini? Apakah yang terjadi hanya ritus-ritus keagamaan dan doa-doa permohonan, ataukah benar-benar ada dialog yang hidup dengan Allah?
Dialog Daud dan Arauna adalah dialog antar pemimpin, raja penguasa dan ketua suku taklukan, bukan obrolan antara raja dan rakyat, seperti bacaan beberapa hari lalu yang berakhir dengan perampasan tanah, seperti yang terjadi di banyak tempat di Indonesia sejak zaman kemerdekaan. Walaupun sudah menaklukkan daerah orang Yebus, Raja Daud tidak merampas tanah pengirikan Arauna, seperti biasanya kelakuan raja-raja penakluk.
Arauna memang menawarkan tanah dan ternaknya secara sukarela, tetapi Daud menolak menerimanya cuma-cuma. Ia membeli tempat pengirikan dan lembu-lembu itu dengan harga yang layak, lalu membangun mezbah. Sampai di sini, saya terbayang, apakah kurban yang disampaikan oleh para petinggi-petinggi dan orang-orang kaya di Indonesia juga seperti ini? Dibayarkan dari pendapatan yang diperoleh secara sah dan legal? Bukan hasil perampasan?
Kutipan film “Pesta Babi” kembali melintas cepat. Teringat juga bagaimana kasus-kasus perampasan tanah-tanah adat/ulayat yang disertai dengan pembunuhan orang-orang yang menolak. Apakah negara kita ini memang sungguh mempunyai Pancasila dengan sila 1, Ketuhanan Yang Mahaesa? Sebagai pengikut Kristus zaman ini perikop ini mengingatkan kita untuk bertindak apa?
Perikop kedua, Mat. 6:24-34 memberi kita minimal 3 pesan, antara lain siapa yang kita abdi? Kekuatiran dan apa yang perlu dicari di dalam hidup ini?
Membaca perikop ini akan membantu bila membayangkan Matius, murid Yesus, seorang Lewi, bekas pemungut cukai, ketika menuliskannya untuk orang-orang Yahudi yang sudah percaya Kristus di Antiokhia (Turki Sekarang).
Pesan tentang mengabdi ini merupakan ungkapan logis. Kesetiaan terhadap siapa yang dilayani. Ini pertanyaan relevan dan aktual buat kita yang menjadi pengikut Kristus zaman ini?
Apakah kita juga ikut arus yang menghamba uang, posisi, kekuasaan, popularitas? Pertanyaan ini sangat menantang bagi yang bekerja di sektor pemerintahan, dunia usaha atau hiburan. Sharing tentang orang-orang Kristen yang pindah agama demi pasangan hidup atau demi promosi jabatan entah sipil atau militer atau peluang beasiswa juga sudah lazim kita dengar. Dari kisah seperti itu kita juga dapat memahami siapakah yang diikuti? Apakah yang dicari di dalam hidup ini?
Setiap pilihan itu sebagian besar didasari oleh kekuatiran. Entah kuatir tidak dapat promosi, kesempatan, pasangan, atau pendapatan.
Matius mengingatkan umat Kristen Yahudi zamannya mengenai pesan Yesus tentang pengenalan siapa yang diikuti.
Apakah kita sudah sungguh mengenal siapa yang kita ikuti? Siapa yang kita cari? Apakah uang, kekuasaan, popularitas, kenikmatan yang kita cari dalam hidup ini? Apakah ketika mempunyai uang, kekuasaan, popularitas, kenikmatan sudah cukup?
Allah, terima kasih untuk teladan Raja Daud yang menunjukkan bahwa memuliakan-Mu juga berarti bertindak adil, bahkan terhadap mereka yang telah ditaklukkannya. Berilah kami rahmat untuk menemukan-Mu, mengikuti-Mu, mengabdi kepada-Mu, dan memuliakan nama-Mu melalui kehidupan kami sehari-hari. Amin.
