| Renungan hari ini dari bacaan Kitab Mikha 7:14–15.18–20; Injil Lukas 15:1–3.11–32 “Ketika ia masih jauh, ayahnya telah melihatnya, lalu tergeraklah hatinya oleh belas kasihan. Ayahnya berlari mendapatkan dia, merangkul dan mencium dia. Kata anak itu kepadanya: Bapa, aku telah berdosa terhadap surga dan terhadap Bapa; aku tidak layak lagi disebut anak Bapa.” (Luk. 15:20–21) |
Injil hari ini menampilkan salah satu perumpamaan paling terkenal yang disampaikan oleh Yesus Kristus, yaitu kisah tentang anak yang hilang. Perumpamaan ini sering kita dengar: tentang seorang ayah dengan dua anak: seorang anak bungsu yang pergi meninggalkan rumah dan seorang anak sulung yang tetap tinggal bersama ayahnya. Namun, inti kisah ini sebenarnya bukan terutama tentang kedua anak itu, melainkan tentang hati sang ayah yang penuh belas kasih.
Perumpamaan ini muncul dalam konteks tertentu. Banyak pemungut cukai dan orang berdosa datang kepada Yesus untuk mendengarkan-Nya. Sikap terbuka Yesus ini menimbulkan keluhan dari orang-orang Farisi dan ahli Taurat, yang bersungut-sungut karena Ia mau bergaul bahkan makan bersama dengan orang-orang berdosa. Melalui kisah ini, Yesus menyingkapkan bagaimana Allah memandang orang yang berdosa: sangat berbeda dengan cara pandang manusia yang sering cepat menghakimi.
Kisah dimulai dengan tindakan mengejutkan dari anak bungsu. Ia meminta bagian warisan dari ayahnya, padahal ayahnya masih hidup. Dalam budaya saat itu, permintaan seperti ini sangat menyakitkan, seolah-olah ia berkata bahwa ayahnya sudah tidak berarti lagi baginya. Dengan kata lain, ia melanggar perintah Allah untuk menghormati orang tua. Namun, sang ayah tidak menolak permintaan itu. Ia membiarkan anaknya pergi dengan kebebasannya.
Anak bungsu kemudian meninggalkan rumah dan hidup jauh dari ayahnya. Ia menghamburkan seluruh hartanya dalam kehidupan yang penuh kesenangan. Tetapi, kebebasan tanpa arah akhirnya membawanya pada kehancuran. Ketika kelaparan melanda negeri itu, hidupnya jatuh ke titik terendah. Ia kehilangan segalanya: harta, kehormatan, bahkan martabatnya.
Dalam keadaan itulah ia mulai sadar. Pengalaman pahit membuatnya merenung dan melihat kembali hidupnya. Ia teringat akan rumah ayahnya, tempat di mana bahkan para pekerja upahan hidup lebih baik darinya. Kesadaran ini menumbuhkan keberanian untuk kembali. Ia tidak lagi berharap diperlakukan sebagai anak. Baginya, cukup jika ia diterima sebagai seorang pekerja.
Namun, yang terjadi justru melampaui semua harapannya. Ketika ia masih jauh, ayahnya sudah melihatnya. Hati sang ayah tergerak oleh belas kasihan. Ia tidak menunggu anaknya datang dan memohon ampun. Ia justru berlari menyongsong anaknya, merangkul dan menciumnya. Bahkan sebelum kata-kata pengakuan dosa selesai diucapkan, sang ayah sudah memulihkan martabat anaknya. Ia tidak diperlakukan sebagai pekerja, tetapi dipulihkan sebagai anak. Sebuah pesta pun diadakan, karena “anak yang hilang telah ditemukan kembali.”
Di sinilah keindahan pesan Injil hari ini. Allah digambarkan seperti sang ayah itu: Allah yang tidak cepat menghakimi, tetapi penuh belas kasih. Ia tidak hanya menunggu manusia kembali; Ia bahkan lebih dahulu menyongsong setiap orang yang mau bertobat. Bacaan dari nabi Mikha juga menegaskan hal yang sama: Allah adalah Dia yang mengampuni kesalahan dan melemparkan dosa-dosa manusia ke dalam tubir laut.
Bagi kita, kisah ini menjadi undangan untuk bercermin. Dalam hidup ini, kita mungkin pernah seperti anak bungsu: menjauh dari Tuhan, mengikuti kehendak sendiri, dan akhirnya merasakan kehampaan. Tetapi, Injil mengingatkan bahwa jalan pulang selalu terbuka. Tidak ada dosa yang terlalu besar bagi belas kasih Allah jika kita mau kembali dengan hati yang rendah.
Di sisi lain, kita juga perlu waspada agar tidak menjadi seperti anak sulung: merasa diri benar, tetapi sulit menerima ketika orang lain mengalami pengampunan.
Hari ini Tuhan mengajak kita untuk percaya pada satu hal: kasih Allah selalu lebih besar daripada dosa manusia. Yang Ia tunggu hanyalah satu langkah kecil dari kita: keberanian untuk bangkit dan kembali kepada-Nya.
Ketika kita kembali, kita akan menemukan bahwa Bapa sudah lebih dahulu menunggu dengan hati yang penuh belas kasih.
