Berani Bersaksi, Bersatu dalam Kasih ( 21 Mei 2026 )

Renungan hari ini dari bacaan Kisah Para Rasul 22:30; 23:6–11; Yohanes 17:20–26 “Teguhkan hatimu, sebab sebagaimana engkau dengan berani telah bersaksi tentang Aku di Yerusalem, demikian jugalah engkau harus bersaksi di Roma” (Kis. 23:11).

Di sebuah kota kecil di Jawa Tengah, ada seorang ibu rumah tangga bernama Maria. Ia bekerja sebagai guru SD Negeri. Suatu hari, ia dengan lembut menolak mengikuti sebuah upacara adat di sekolahnya karena menurut keyakinannya upacara itu mengandung unsur sinkretisme yang berat. Dengan tenang dan penuh kasih ia menjelaskan bahwa sebagai orang Katolik ia ingin tetap setia pada imannya.

Keputusan itu ternyata membawa konsekuensi yang tidak mudah. Maria mulai diisolasi oleh rekan-rekan kerjanya, difitnah, bahkan menerima ancaman agar tidak “sok suci.” Namun, di tengah tekanan yang semakin berat, ia tetap teguh. Ia tidak membalas dengan kemarahan. Ia tetap mengajar dan melayani anak-anak didiknya dengan kasih dan belas kasih. Dalam doa-doanya, ia justru merasakan damai sejahtera yang sangat kuat. Tuhan meneguhkan hatinya untuk tetap bertahan dan setia.

Pengalaman Maria mengingatkan kita pada keberanian Rasul Paulus. Dalam Kisah Para Rasul, Paulus dihadapkan ke Mahkamah Agama Yahudi (Sanhedrin) dan dituduh dengan berbagai tuduhan berat. Dengan hikmat Roh Kudus, Paulus berkata, “Saudara-saudara, aku adalah orang Farisi… aku diadili karena pengharapan akan kebangkitan orang mati!” (Kis. 23:6). Kesaksiannya itu menimbulkan perdebatan besar di antara mereka.

Namun, yang paling menguatkan adalah apa yang terjadi sesudahnya. Pada malam hari, Tuhan Yesus sendiri datang berdiri di sisi Paulus dan berkata, “Teguhkan hatimu, sebab sebagaimana engkau dengan berani telah bersaksi tentang Aku di Yerusalem, demikian jugalah engkau harus bersaksi di Roma” (Kis. 23:11). Paulus tidak berjalan sendirian. Tuhan menyertai saksi-Nya.

Dalam Injil Yohanes hari ini, Yesus tidak hanya berdoa untuk para murid-Nya, tetapi juga untuk kita semua yang percaya kepada-Nya melalui kesaksian mereka. Yesus berdoa, “Supaya mereka semua menjadi satu… agar dunia percaya bahwa Engkaulah yang telah mengutus Aku” (Yoh. 17:21).

Kesatuan yang didoakan Yesus bukan sekadar kebersamaan lahiriah, melainkan kesatuan yang berakar dalam kasih dan kebenaran Allah sendiri. Dalam Katekismus Gereja Katolik No. 820 ditegaskan bahwa Kristus telah menganugerahkan kesatuan kepada Gereja-Nya sejak semula. Kesatuan itu tetap ada dan dipanggil untuk terus bertumbuh sampai akhir zaman.
Namun, dalam kehidupan sehari-hari, kesatuan itu sering diuji. Di tempat kerja, media sosial, keluarga, bahkan dalam komunitas Gereja, perbedaan pendapat mudah menimbulkan pertengkaran dan perpecahan. Tidak jarang pula kita memilih diam demi kenyamanan, takut ditolak, takut dijauhi, atau takut dianggap berbeda.

Karena itu, Tuhan memanggil kita untuk berani bersaksi tentang kebenaran, tetapi tetap melakukannya dalam kasih. Keberanian tanpa kasih dapat berubah menjadi kekerasan hati. Sebaliknya, kesatuan tanpa kebenaran dapat jatuh menjadi kompromi murahan.
Maka, apa yang dapat kita lakukan?
Pertama, berani bersaksi dengan lembut dan bijaksana. Mulailah dari hal-hal kecil. Ketika ada pembicaraan yang merendahkan iman atau nilai Kristiani di tempat kerja, lingkungan pergaulan, atau grup keluarga, kita dapat menyampaikan pendapat dengan hormat dan penuh kasih, bukan dengan nada menghakimi.
Kedua, membangun kesatuan secara nyata. Cobalah mendekati saudara seiman yang berbeda pendapat, entah soal liturgi, politik, ataupun gaya pelayanan. Undanglah ia untuk berbicara, berdoa bersama, atau sekadar makan bersama. Kesatuan sering kali dimulai dari kerendahan hati untuk mendengar dan mengasihi, bukan dari kesepakatan total.

Marilah kita merenung:Apakah saya sering memilih diam karena takut dijauhi, ataukah saya berani menjadi saksi Kristus dengan kasih? Apakah sikap dan kata-kata saya memperlemah kesatuan umat, atau justru membangun dan menguatkannya?
Semoga kita mampu hidup sebagai saksi Kristus yang berani, tetapi tetap rendah hati dan penuh kasih. Dan melalui hidup kita sehari-hari, orang-orang di sekitar kita dapat melihat wajah Kristus yang hidup.

Penulis

satu Respon

  1. Terkadang hati terasa lelah dengan berbagai penghakiman dari orang lain, dan memilih diam menjadi solusi untuk menghindari konflik yg menguras energi. Menyatakan kebenaran tidak lah mudah, dan harus siap di “bully”.
    Renungan ini mengingat kan saya untuk berani di dalam kasih Tuhan, tetap berusaha meskipun belum sempurna. Terima kasih renungannya, semoga senantiasa bisa menguatkan banyak orang, Amin 😇

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *