| Renungan hari ini dari bacaan Roma 15:14-21; Lukas 16:1-8 “Bendahara yang tidak jujur itu dipuji tuannya, karena telah bertindak dengan cerdik. Sebab anak-anak dunia ini lebih cerdik terhadap sesamanya daripada anak-anak terang” (Luk. 16:8) |
Pernahkah kita merasa kagum pada seorang yang mampu keluar dari situasi sulit dengan cara yang cerdik? Misalnya seorang rekan kerja yang tahu bagimana mengatur waktu dan relasi supaya tetap dipercaya atasan, meski sebenarnya ia sering terlambat. Atau seorang teman yang pandai “bernegosiasi” agar selalu mendapat keuntungan dalam setiap situasi. Kita mungkin sempat menggelengkan kepala atau merasa kagum, tapi dalam hati kita, pasti kita juga berpikir “coba saja yaa aku secerdik itu”
Hari ini, Yesus bercerita tentang seorang bendahara yang tidak jujur, namun dipuji oleh tuannya karena tindakannya yang cerdik (Luk. 16:8). Sekilas, kisah ini membingungkan. Mengapa Yesus memuji orang yang curang? Tentu bukan karena ketidakjujurannya, melainkan karena kecerdikan dan kepekaannya untuk bertindak cepat dalam menghadapi situasi yang krisis. Yesus menegaskan, “sebab anak-anak dunia ini lebih cerdik terhadap sesamana daripada anak-anak terang”. Dengan kata lain, orang dunia ini sering lebih sigap dan kreatif memperjuangan kepentingannya daripada orang beriman dalam menupayakan nilai-nilai kerajaan Allah.
Dalam kehidupan sehari-hari, kita juga bisa begitu pasif dalam hal rohani. Kita tau apa yang benar, tetapi sering menunda melakukannya. Kita tahu harus memperdalam iman, tetapi menunggu waktu luang. Kita tahu harus membangun kasih, tetapi menunggu orang lain lebih dulu. Sementara itu, orang-orang dunia bahkan yang tujuannya bukan demi kebaikan justru bekerja keras, merencanakan dengan cermat, dan bertindak cepat. Dalam hal ini Yesus igin membangunkan kesadaran kita agar anak-anak terang juga harus cerdik, bijaksana, dan sigap dalam menghidupi iman.
Dalam bacaan pertama, Rasul Paulus menulis kepada jemaat di Roma “aku sendiri memang yakin tentang kamu bahwa kamu juga telah penuh dengan kebaikan dan dengan segala pengetahuan, dan sanggup untuk saling menasihati” (Rm. 15:14). Paulus menyemangati umat agar tidak puas hanya menjadi baik saja, tetapi juga menggunakan pengetahuan dan kebijaksanaan untuk meneguhkan sesama. Ia bahkan menyebut pelayanannya sebagai rahmat yaitu mewartakan Kristus bukan sekedar tugas, tetapi bentuk kecerdikan rohani dengan memanfaatkan setiap kesempatan supaya bangsa-bangsa mengenal Allah.
Pada hari ini kita masing-masing diajak untuk bertanya kepada diri sendiri, apakah aku sudah cerdik dalam berbuat kasih atau justru membiarkan diriku pasif dalam berbuat baik, malas mengembangkan talenta rohani, dan takut mengambil langkah dalam pelayanan?
Menjadi anak terang berarti menggunakan akal budi, kreativitas, dan kebranian untuk mengusahakan kebaikan. Seorang guru bisa cerdik dalam menumbuhkan karakter murid-muridnya lewat pendekatan kasih, bukan hanya dengan aturan. Seorang pelajar bisa cerdik mengelola waktunya agar studinya tidak menghalangi pelayanannya. Seorng pekerja bisa cerdik menjaga integitas di tengah godaan ketidakjujuran. Kecerdikan rohani berarti tidak kalah sigap dari dunia, tetapi justru mengubah kecerdikan menjadi alat kasih.
Yesus memuji kecerdikan bendahara itu karena ia tahu bahwa situasi darurat telah tiba dan ia harus bertindak. Dunia ini pun sedang dalam “waktu darurat” yang artinya sedang mengalami krisis kasih, krisis iman, dan krisis kejujuran. Maka anak-anak terang harus bangkit, bukan dengan kelicikan melainkan dengan kecerdikan yang dipimpin oleh Roh Kudus. Dengan berfikir kreatiif, bertindak cepat, dan berbuat kasih dengan bijak.
Semoga kita tidak kalah cerdik daari dunia ini, tetapi menjadi cerdik dalam kasih, teguh dalam kebenaran, dan sigap dalam pelayanan.

2 Responses
Khám phá 888slot app – nhà cái được bình chọn là thương hiệu đáng tin cậy nhất năm. Minh bạch, công tâm và trả thưởng nhanh chóng là ưu điểm tại đây. TONY01-16
phdream23 https://www.gophdream23.com