Cinta yang Bertumbuh Dewasa ( 27 Desember 2025 )

Rrenungan hari dari bacaan 1Yohanes 1:1-4; Yohanes 20:2-8. “Tuhan telah diambil orang dari kuburnya dan kami tidak tahu di mana ia diletakkan”(Yoh. 20:2).

Cinta tidak lahir dalam bentuk yang matang. Ia sering dimulai dari rasa ingin tahu, keterikatan, bahkan kebingungan. Namun, cinta yang sejati tidak berhenti di sana. Ia bertumbuh, diuji, dan dimurnikan seiring perjalanan. Proses inilah yang tampak jelas dalam bacaan Yohanes 20:2–8 dan 1 Yohanes 1:1–4, ketika cinta para murid kepada Yesus bergerak dari keterikatan emosional menuju iman yang dewasa.

Dalam Yohanes 20:2–8, kita melihat Maria Magdalena dan para murid yang berlari ke kubur. Tindakan mereka menunjukkan kegelisahan, cinta yang takut kehilangan. Kubur yang kosong bukan langsung dipahami sebagai kemenangan, melainkan sebagai kehilangan. Namun, di tengah kebingungan itu, cinta mereka mendorong mereka untuk mencari, untuk bergerak, dan untuk melihat sendiri. Cinta yang belum dewasa sering kali penuh dengan kebingungan, keraguan.

Ketika murid yang dikasihi Yesus akhirnya masuk ke dalam kubur, ia melihat tanda-tanda yang ada dan mulai percaya. Tidak ada penampakan Yesus, tidak ada penjelasan lengkap, tetapi hatinya terbuka. Di sinilah cinta mulai bertumbuh menuju kedewasaan dari cinta yang ingin memiliki, menjadi cinta yang mau percaya. Cinta yang dewasa tidak menuntut semua jawaban, tetapi bersedia mempercayakan diri pada kebenaran yang sedang Allah nyatakan.

Pengalaman ini kemudian direfleksikan dengan lebih dalam pada 1 Yohanes 1:1–4. Penulis tidak lagi berbicara sebagai murid yang kebingungan, melainkan sebagai saksi yang matang secara iman. Ia menegaskan bahwa Yesus adalah Firman hidup yang nyata, yang dialami secara langsung. Di sini kita melihat bahwa cinta yang dewasa lahir dari hubungan yang dijalani dalam waktu, bukan dari perasaan sesaat.

Cinta yang bertumbuh dewasa tidak disimpan untuk diri sendiri. Penulis 1 Yohanes menyatakan bahwa kesaksiannya dibagikan agar orang lain masuk dalam persekutuan. Ini adalah tanda penting dari cinta yang matang: ia selalu ingin mengajak, bukan menguasai; membagikan, bukan menyimpan. Cinta kepada Tuhan yang dewasa tidak mengeksklusifkan diri, melainkan mengalir keluar untuk membangun relasi dengan sesama.

Tujuan akhirnya adalah sukacita yang penuh dalam pengenalan akan Tuhan. Sukacita ini bukan emosi sementara, tetapi buah dari hubungan yang sehat dan utuh dengan Tuhan. Cinta yang dewasa tidak bergantung pada situasi ideal, tetapi berakar pada keyakinan bahwa Tuhan hidup dan hadir dalam perjalanan hidup manusia.

Dari kedua bacaan ini, kita belajar bahwa cinta kepada Tuhan adalah sebuah perjalanan. Ia dimulai dari pencarian, bertumbuh melalui pengalaman, dan dimatangkan melalui kesaksian. Cinta yang dewasa adalah cinta yang percaya tanpa harus selalu melihat, cinta yang setia dalam proses, dan cinta yang rela dibagikan agar orang lain pun mengalami kehidupan sejati.

Penulis


Editor

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *