| Reungan hari ini dari bacaan Kisah Para Rasul 14:19-28; Yohanes 14: 27-31 “Damai sejahtera Kutinggalkan bagimu. Damai sejahtera-Ku Kuberikan kepadamu.” (Yoh. 14:27a). |
Ada kalanya kita berada dalam badai kehidupan yang sangat besar. Kita tetap bekerja, tetap melayani, tetap tersenyum, tetapi di dalam hati ada beban berat: masalah keluarga, sakit yang belum sembuh, ekonomi yang menekan, relasi yang retak, atau masa depan yang tidak jelas. Dari luar kita tampak kuat, tetapi di dalam kita lelah. Kadang kita berpikir, “Kalau Tuhan sungguh menyertai, mengapa hidupku tetap sekacau ini?” Di situlah kita perlu membedakan antara hidup tanpa masalah dan hidup dengan damai Kristus. Damai Kristus bukan berarti semua persoalan langsung hilang. Damai Kristus adalah kekuatan batin bisa membawa kita kuat, meski keadaan belum baik. Santa Teresa dari Avila berkata, “Jangan biarkan apa pun mengganggumu, jangan biarkan apa pun menakutkanmu. Allah saja cukup.”
Yesus berkata, “Damai sejahtera Kutinggalkan bagimu. Damai sejahtera-Ku Kuberikan kepadamu.” (Yoh. 14:27a). Kata-kata ini disampaikan bukan saat suasana mudah. Yesus sedang mendekati sengsara dan salib. Para murid akan terguncang, takut, bingung, dan merasa kehilangan. Di saat yang mencekam itu, Tuhan Yesus malah memberikan damai sejahtera. Dan Ia berkata, “Janganlah gelisah dan gentar hatimu.” (Yoh. 14:27b). Yesus tidak berjanji, “Kamu tidak akan dalam masalah”. Masalah bisa saja tetap ada, tetapi hati kita bisa bebas dari kecemasan, khawatir, dan rasa takut. Dunia menjanjikan ada damai jika semua aman saja, sebaliknya Yesus memberi damai ketika banyak hal di luar kendali.
Kisah Para Rasul menegaskan hal itu. Paulus dirajam sampai disangka mati. Tetapi, ia bangkit dan kembali menguatkan murid-murid. Inilah wajah nyata dari damai yang Yesus janjikan: bukan damai yang membuat Paulus bebas dari batu, tetapi damai yang membuat ia tidak berhenti setelah terluka.Paulus tidak menyangkal penderitaan. Ia berkata untuk masuk ke dalam Kerajaan Allah kita harus mengalami banyak sengsara. Maka damai Kristus bukan pelarian dari kenyataan, melainkan keberanian untuk tetap setia di tengah kenyataan yang berat. Iman Kristen bukan jalan pintas dari luka, tetapi jalan bersama Kristus melewati luka.
Untuk bisa hidup dalam damai Kristus, di tengah masalah, berhentilah memberi makan kepada kegelisahan. Setiap kali cemas, berhenti sejenak, tarik napas, lalu doakan singkat, “Yesus, berilah aku damai-Mu.” Jangan langsung lari ke keluhan, kepanikan, atau pikiran buruk. Tetap lakukan yang benar meski hati sedang berat. Pilih satu kewajiban hari ini yang harus diselesaikan dengan setia: bekerja, meminta maaf, melayani, atau merawat keluarga. Damai tumbuh ketika kita taat, bukan ketika menunggu semua terasa ringan. Kuatkan orang lain dari luka kita. Seperti Paulus yang terluka tetap menguatkan jemaat. Hubungi satu orang yang sedang susah. Dengarkan, doakan, atau beri dukungan sederhana. Luka yang diserahkan kepada Tuhan bisa menjadi berkat.
Hari ini mungkin hidup kita belum tenang: masalah belum selesai, luka belum sembuh, dan jawaban yang dinanti belum juga datang. Namun justru di tengah keadaan seperti itu, Kristus tetap hadir dan menyertai. Karena itu, jangan biarkan persoalan merebut pusat hati kita. Damai Tuhan tidak menunggu semua keadaan membaik, melainkan hadir ketika kita tetap berdoa di tengah kekhawatiran dan kecemasan, tetap melakukan yang benar meski terasa berat, serta berani bangkit kembali setelah terluka. Iman bukan sikap menunggu hidup menjadi baik terlebih dahulu, melainkan keberanian untuk terus berjalan bersama Tuhan justru ketika beban hidup terasa paling berat. Di sanalah damai Kristus bekerja: menguatkan hati, meneguhkan langkah, dan memampukan kita tetap bertahan dengan pengharapan.

satu Respon
Terima kasih bu Enny, renungannya menguatkan iman dan memberi semangat. Tuhan selalu ada dan menyertai kita walau dalam kondisi terpuruk dan tak ada harapan akan baik, keadaan ini menguatkan kita dalam perjuangan, membuat kita lebih suka cita karena ada Tuhan yg selalu menyertai dan damai dalam-Nya. Amin