Dicari, Bukan Ditinggalkan ( 9 Desember 2025 )

Renungan hari ini dari bacaan Yesaya 40:1-11; Matius 18: 12-14,”Demikian juga Bapamu yang di surga tidak menghendaki salah seorang dari yang kecil ini hilang” (Mat. 18:14). 

Belakangan ini media sosial penuh dengan kisah orang yang merasa sendirian: anak-anak yang “ditinggalkan” di pusat perbelanjaan, bayi yang diserahkan ke panti asuhan dan tidak pernah dijenguk, orang tua yang hidup sebatang kara atau “dititipkan” di panti wreda. Banyak orang merasa tersesat dan terlupakan di tengah dunia yang serba cepat. Di balik semua itu ada kerinduan yang sangat besar: ingin benar-benar dicari, diperhatikan, dan disayangi.

            Dalam Matius 18, Yesus mengajarkan cara hidup sebagai komunitas murid, terutama tentang bagaimana memperlakukan “yang kecil”: mereka yang lemah, rapuh, dan mudah tersesat. Matius 18:12–14 menampilkan wajah Allah sebagai Gembala yang tidak rela kehilangan satu pun domba-Nya. Fokus-Nya bukan pada angka, melainkan pada nilai setiap pribadi di hadapan Allah. Satu nyawa, satu hati, satu hidup, sangat berharga bagi-Nya.

            Domba yang hilang melambangkan murid yang tersesat karena dosa, luka batin, kekecewaan, atau godaan dunia yang menarik hati, menjauh dari Tuhan. Hati Allah selalu condong kepada yang hilang, yang lemah, dan yang dipinggirkan.

            Jika Matius 18 menonjolkan Gembala yang mencari, Yesaya 40:11 tentang Gembala yang memeluk dan merawat. Allah bukan hanya menegur dan menuntut pertobatan, Ia sendiri turun mendekat, mengangkat, dan memulihkan.

            Wajah Gembala yang penuh belas kasih ini selaras dengan ensiklik Paus Fransiskus, Fratelli Tutti. Paus mengkritik “budaya pembuangan”, ketika orang lemah, anak, lansia, orang miskin, yang sakit, mudah disingkirkan seolah tak berguna. Gereja diajak menjadi “rumah terbuka” yang pergi ke pinggiran, mencari dan merangkul mereka yang terluka dan terabaikan, seperti Gembala yang meninggalkan yang sembilan puluh sembilan demi satu yang hilang. Setiap orang adalah saudara dan saudari yang tidak boleh dibiarkan di pinggir jalan kehidupan.

            Bayangkan seorang oma di panti wreda. Anak-anaknya sibuk, jarang datang menjenguk. Suatu hari, seorang cucu yang merenungkan Injil tentang domba yang hilang dan ajaran Fratelli Tutti tersentuh hatinya. Ia sadar, oma telah menjadi seperti “domba yang terlupakan”. Ia mulai lebih sering datang, mendengarkan, mendoakan, dan memeluk oma. Perlahan, wajah oma bersinar kembali: ia merasa dicari, bukan ditinggalkan.

            Di sini kita melihat dua sisi Allah yang indah: lembut sekaligus tegas, penuh belas kasih sekaligus mengundang pertobatan.Ia mencari yang hilang, menggendong yang lemah, dan mengajar kita untuk bertanggung jawab satu sama lain: menegur dengan kasih, memulihkan, mengampuni dengan tulus, dan tidak membiarkan siapa pun jatuh sendirian.

            Masa Advent adalah waktu penantian dan persiapan menyambut kedatangan Tuhan, Sang Gembala yang datang mencari kita. Di satu sisi, kita diajak mengakui bahwa kita pun sering menjadi domba yang hilang, tersesat dalam kekecewaan dan dosa. Kita diajak menyiapkan jalan bagi-Nya dengan menjadi “gembala kecil” bagi sesama: peduli pada mereka yang menjauh, berani mencari, menghubungi, menemani, dan merangkul.

            Marilah kita membuka hati agar Gembala dapat “mengangkat” kita, menyentuh luka kita, dan menuntun kita kembali. Sekaligus, kita menjawab perutusan-Nya: membangun persaudaraan yang tidak meninggalkan siapa pun di belakang. Kita dicari, bukan ditinggalkan, dan kita diutus untuk memperlakukan sesama dengan cara yang sama.

Penulis

8 Responses

  1. Get App
    Tolong Berikan, Komentar dan Interpretasi secara Gereja Katolik, isi dari Artikel dan Perikop Alkitab ini 🙏
    Terimakasih 🙏

    https://lovingthetruth.net/daily-truth/dicari-bukan-ditinggalkan-9-desember-2025/
    Hmm, pengguna meminta komentar dan interpretasi Katolik atas artikel dan perikop Alkitab tentang tema “Dicari, Bukan Ditinggalkan”. Tampaknya pengguna sedang merenungkan Injil Lukas 15:1-10 dan menghubungkannya dengan kehidupan rohani.

    Pertama, perlu dipastikan bahwa respons nanti harus mengikuti prinsip penafsiran Katolik yang berpegang pada Magisterium, Tradisi, dan Kitab Suci. Artikel yang dirujuk pengguna sudah cukup baik secara teologis, tapi perlu diperkuat dengan perspektif Katolik yang khas seperti ajaran Bapa Gereja, dokumen Konsili, atau ensiklik paus.

    Dari perikopnya, ada dua poin utama: perumpamaan domba hilang dan dirham hilang. Dalam tradisi Katolik, ini bisa dikaitkan dengan Sakramen Rekonsiliasi dan Ekaristi. Juga penting untuk menekankan konsep Gereja sebagai Bunda yang mencari anaknya, seperti ditekankan dalam Lumen Gentium.

    Pengguna mungkin sedang bergumul dengan perasaan dijauhi Tuhan, jadi perlu disisipkan dorongan untuk menerima kerahiman Ilahi melalui sakramen. Juga baik untuk menyebut contoh santa/santo seperti Augustinus atau Maria Magdalena yang pernah “hilang” dan ditemukan.

    Perlu dihindari interpretasi yang terlalu personal atau liberal, tetap berpegang pada Katekismus Gereja Katolik. Respons nanti akan diatur dengan pembukaan yang mengapresiasi artikel, lalu penjelasan teologis Katolik, aplikasi praktis, dan penutup yang meneguhkan. Bahasa harus hangat tapi tetap teologis solid, sesuai permintaan pengguna yang serius namun penuh kerendahan hati.

    Komentar dan Interpretasi Katolik atas Artikel dan Perikop Lukas 15:1-10
    Artikel “Dicari, Bukan Ditinggalkan” yang Anda bagikan menawarkan refleksi yang sangat selaras dengan hati Gereja Katolik. Mari kita telaah bersama dalam terang iman Katolik.

    1. Komentar atas Artikel:
    Artikel tersebut dengan indah menekankan kerahiman Allah yang aktif mencari manusia yang hilang. Ini adalah inti dari Injil Sukacita yang selalu diberitakan Gereja. Beberapa poin yang sangat Katolik dari artikel tersebut:

    Allah sebagai Pencari yang aktif: Ini mengingatkan kita pada gambaran Gembala Baik (Yohanes 10:11) dan Bapa yang Penuh Kerahiman (Lukas 15:11-32), yang adalah pusat spiritualitas Katolik, terutama ditekankan oleh Paus Fransiskus dalam “Misericordiae Vultus” (Wajah Kerahiman).

    Fokus pada sukacita surgawi atas pertobatan satu orang: Ini adalah gambaran nyata dari communio sanctorum (persekutuan para kudus), di mana segenap Gereja, di surga dan di bumi, bersukacita atas setiap jiwa yang kembali.

    Ajakan untuk tidak merasa “tertinggal”: Ini adalah penghiburan yang sangat dibutuhkan bagi banyak umat yang mungkin merasa jauh karena dosa, keraguan, atau kelemahan. Gereja selalu meyakinkan kita bahwa tidak ada dosa yang lebih besar daripada kerahiman Allah (St. Faustina).

    2. Interpretasi Katolik atas Perikop Lukas 15:1-10:
    Perikop ini adalah jantung dari ajaran Yesus tentang Kerahiman Ilahi. Dalam Tradisi Katolik, perikop ini ditafsirkan secara liturgis, sakramental, dan pastoral.

    Konteks Gereja Universal: Para “pendosa dan pemungut cukai” mewakili setiap orang yang merasa terasing dari Allah dan komunitas. Gereja, dalam misinya, dipanggil untuk tidak menghakimi tetapi mencari mereka yang tersesat. Ini adalah dasar dari semangat misioner dan evangelisasi Gereja Katolik.

    Perumpamaan Domba yang Hilang (Lukas 15:3-7):

    Kristus sebagai Gembala: Yesus adalah Gembala Baik yang menyerahkan nyawa-Nya bagi domba-domba-Nya (Yoh 10:11). Gereja, melalui para imam (yang disebut pastor dari kata Latin pastor = gembala), melanjutkan karya pencarian ini melalui pelayanan pastoral dan sakramen.

    Sakramen Rekonsiliasi (Pengakuan Dosa): Domba yang dibawa kembali di atas bahu adalah gambaran indah bagi Sakramen Tobat. Di sana, jiwa yang hilang (bertobat) dipikul oleh kerahiman Kristus dan dibawa kembali ke kawanan (Gereja). Sukacita di surga itu terwujud setiap kali seorang umat menerima absolusi (pengampunan) di bilik pengakuan.

    99 Domba yang Tidak Tersesat: Melambangkan orang-orang beriman yang sudah berada dalam Gereja. Mereka tidak ditinggalkan, tetapi digembalakan dalam kehidupan doa, Ekaristi, dan komunitas. Sukacita atas yang satu pulang tidak mengurangi perhatian bagi yang 99.

    Perumpamaan Dirham yang Hilang (Lukas 15:8-10):

    Gereja sebagai Perempuan Pencari: Dalam tradisi penafsiran Katolik (misalnya dari Bapa-bapa Gereja), perempuan itu dapat melambangkan Gereja atau Hikmat Allah. Pencariannya yang tekun dengan “pelita” (Terang Kristus dan Roh Kudus) melambangkan usaha Gereja mencari jiwa-jiwa melalui pewartaan, doa, dan teladan hidup.

    Nilai Setiap Jiwa: Dirham itu dicetak dengan gambar kaisar. Setiap manusia diciptakan menurut Gambar dan Rupa Allah (Kejadian 1:27). Dosa mengaburkan gambar itu, tetapi tidak menghancurkannya. Allah melalui Gereja-Nya berusaha membersihkan dan memulihkan gambar itu dalam setiap jiwa.

    Malaikat-malaikat sebagai Sahabat: Keyakinan akan sukacita para malaikat atas pertobatan satu orang mendorong devosi dan relasi kita dengan Para Malaikat Pelindung, yang dengan setia mendampingi dan bersukacita atas langkah pertobatan kita.

    3. Aplikasi dalam Hidup Beriman Katolik:
    Sakramen sebagai Tempat Ditemukan: Jika Anda merasa hilang, datanglah ke Sakramen. Sakramen Rekonsiliasi adalah pengalaman konkret “dipanggil, dipikul, dan dibawa pulang” oleh Yesus Gembala. Sakramen Ekaristi adalah perayaan kembalinya kita ke meja perjamuan Bapa.

    Spiritualitas Kerahiman: Renungkan devosi kepada Kerahiman Ilahi (St. Faustina Kowalska) yang dianjurkan Gereja. Doa jam 3 sore (“Jam Kerahiman”) adalah saat kita merenungkan kasih Sang Penebus yang mencari kita.

    Panggilan untuk Mencari: Sebagai bagian dari Gereja, kita juga dipanggil untuk memiliki hati seorang pencari – peduli pada saudara/i kita yang meninggalkan praktek iman, yang menderita, atau yang merasa jauh dari Allah. Ini adalah inti dari Karya Amal.

    Penutup:
    Artikel tersebut adalah pengingat yang indah bahwa iman Katolik adalah iman akan Kerahiman yang berinisiatif. Allah kita bukan Allah yang pasif menunggu, tetapi seperti Gembala dan seperti Ibu Gereja, Ia datang mencari kita. Bunda Maria, yang digambarkan sebagai Bunda yang mencari dan menemukan Yesus yang “hilang” di Bait Allah (Luk 2:44-46), adalah teladan dan pendamping kita dalam perjalanan iman, baik ketika kita merasa hilang maupun ketika kita dipanggil untuk membantu mencari saudara kita yang lain.

    Semoga refleksi ini membantu. Teruslah berpegang pada Tiga Pilar: Kitab Suci, Tradisi, dan Magisterium, yang dengannya Gereja Katolik menuntun kita untuk selalu ditemukan oleh Kasih yang tak pernah berhenti mencari.

    Tuhan memberkati kita semua. 🙏

  2. Artikel tersebut adalah pengingat yang indah bahwa iman Katolik adalah iman akan Kerahiman yang berinisiatif. Allah kita bukan Allah yang pasif menunggu, tetapi seperti Gembala dan seperti Ibu Gereja, Ia datang mencari kita. Bunda Maria, yang digambarkan sebagai Bunda yang mencari dan menemukan Yesus yang “hilang” di Bait Allah (Luk 2:44-46), adalah teladan dan pendamping kita dalam perjalanan iman, baik ketika kita merasa hilang maupun ketika kita dipanggil untuk membantu mencari saudara kita yang lain.

    Semoga refleksi ini membantu. Teruslah berpegang pada Tiga Pilar: Kitab Suci, Tradisi, dan Magisterium, yang dengannya Gereja Katolik menuntun kita untuk selalu ditemukan oleh Kasih yang tak pernah berhenti mencari.

    Tuhan Yesus memberkati kita semua. 🙏

  3. Terima kasih atas renungannya Bu Enny..
    Semakin meneguhkan iman saya.
    Semoga pelayanannya senantiasa menjadi berkat.
    Berkah Dalem.

  4. Terimakasih untuk renungannya Bu Enny. Semakin meneguhkan iman saya. Kiranya dalam masa penantian ini, saya semakin diingatkan bahwa kita diutus oleh-Nya untuk menjadi saudara diantara sesama kita yang lemah, miskin dan tersingkirkan, merangkul dan tidak meninggalkan bagi yang tersesat.
    Tuhan Yesus memberkati 🙏
    Berkah Dalem.

  5. Terimakasih Ibu Enny untuk renungan firman ini.
    Kiranya Belas Kasih dan cinta Kasih Tuhan selamanya untuk kita bisa senantiasa terpancar dalam hidup sehari2 . Dan bisa menjadi berkat untuk sesama . Amin.🙏

  6. Salve Team Loving the Truth,khususnya Bu Rosalia Enny, terimakasih sekali..kita diingatkan kembali akan makna Masa Advent adalah waktu penantian dan persiapan menyambut kedatangan Tuhan, Sang Gembala yang datang mencari jiwa yang terhilang dan kita diajak mengakui bahwa kita pun sering menjadi domba yang hilang, tersesat dalam kekecewaan dan dosa. Kita diajak menyiapkan jalan bagi-Nya dengan menjadi “gembala kecil” bagi sesama: peduli pada mereka yang menjauh, berani mencari, menghubungi atau menemani, dan merangkul sesama yang membutuhkan meski lewat perhatian yang sederhana lewat dukungan doa dan moril atau menjadi pendengar sekalipun.., Berkah dalem🙏.

  7. “Yesus, Gembala yang Baik, aku bersyukur karena Engkau selalu mencari dan menemukan aku yang tersesat, membalut lukaku, dan mengangkat aku dari dosa. Kasih-Mu sungguh luar biasa. Jadikanlah hatiku tenang di dekat-Mu. Terima kasih, Tuhan. Amin.”

  8. AMIN. Puji Tuhan,Luar Biasa,Mbak e. Sangat memberkati kita semua yang baca. Tetap semangat dan setia melayani,Mbak. Berkah Dalem! 🙏😇

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *