| Renungan hari ini dari bacaan Yesaya 55: 10-11; Matius 13 :1-23. “Demikianlah firman-Ku yang keluar dari mulut-Ku: ia tidak akan kembali kepada-Ku dengan sia-sia, tetapi akan melaksanakan apa yang Kukehendaki” (Yes. 55:11). |
Pernahkah kita merasa bahwa mendengarkan firman Tuhan tidak membawa banyak perubahan dalam hidup? Kita mengikuti Misa setiap Minggu, membaca Kitab Suci, atau mendengarkan renungan, tetapi masalah tetap datang, kelemahan yang sama masih berulang, dan hidup terasa berjalan biasa saja. Dalam keadaan seperti itu, kita bisa bertanya, “Apakah firman Tuhan sungguh bekerja dalam hidupku?”
Melalui Nabi Yesaya, Tuhan memberikan sebuah jaminan yang meneguhkan hati. Firman-Nya diibaratkan seperti hujan dan salju yang turun dari langit. Air itu tidak pernah kembali sebelum membasahi bumi, menyuburkannya, dan membuat benih bertumbuh. Demikian pula firman Tuhan. Firman-Nya tidak pernah gagal. Firman-Nya selalu membawa kehidupan dan melaksanakan kehendak-Nya (Yes. 55 :10-11).
Sabda inilah yang kemudian dijelaskan Yesus melalui perumpamaan tentang seorang penabur (Mat. 55: 1-23). Tuhan Yesus adalah penaburnya, sedangkan tanah itu adalah hati kita, benih yang ditaburkan adalah firman Tuhan. Tuhan Yesus adalah penabur yang baik yang tidak kenal lelah untuk menabur dan tidak pilih kasih dalam menabur benih itu. Benih itu selalu baik, penuh daya hidup, dan mampu menghasilkan buah. Namun, hasilnya bergantung pada keadaan tanah tempat benih itu jatuh. Ada hati yang keras sehingga firman tidak sempat masuk. Ada hati yang dangkal sehingga semangat beriman cepat padam saat menghadapi pencobaan. Ada pula hati yang dipenuhi kekhawatiran, kesibukan, dan keinginan duniawi sehingga firman terhimpit dan tidak berkembang.
Sering kali kita hanya berharap Tuhan mengubah hidup kita, tetapi lupa mempersiapkan hati untuk menerima firman-Nya. Padahal, firman Tuhan tidak pernah kehilangan kuasa. Yang perlu terus dibaharui adalah hati kita. Hati yang mau mendengar, merenungkan, dan melaksanakan firman akan menjadi tanah yang subur. Di sanalah benih iman bertumbuh sedikit demi sedikit hingga menghasilkan buah.
Buah itu tidak selalu berupa keberhasilan besar atau mukjizat yang luar biasa. Buah firman tampak dalam hal-hal sederhana: kita menjadi lebih sabar menghadapi keluarga, lebih jujur dalam pekerjaan, lebih mudah mengampuni, lebih setia berdoa, dan tetap berharap ketika menghadapi kesulitan. Mungkin perubahan itu berlangsung perlahan, tetapi seperti benih yang bertumbuh di dalam tanah, Tuhan sedang bekerja dengan cara yang sering kali tidak kita sadari.
Hari ini Tuhan masih menaburkan firman-Nya ke dalam hati kita. Ia percaya bahwa firman itu mampu mengubah hidup kita. Maka, marilah kita membuka hati seluas-luasnya. Biarkan firman itu berakar, bertumbuh, dan menghasilkan buah. Sebab, Tuhan sendiri telah berjanji bahwa firman-Nya tidak akan pernah kembali kepada-Nya dengan sia-sia.
Tuhan Yesus Memberkati.
