Iman Sejati di Tengah Keganasan Dunia ( 3 Juli 2025 )

Renungan hari ini dari bacaan Efesus 2:19-22 dan Yohanes 20:24-29
“Karena engkau telah melihat Aku, engkau percaya. Berbahagialah mereka yang tidak melihat, namun percaya.” (Yoh. 20:29).

Dalam Yohanes 20:24–29, kita membaca kisah yang begitu dekat dengan pergumulan manusia: Thomas, murid Yesus yang tidak percaya akan kebangkitan-Nya sampai ia melihat dan menyentuh sendiri bekas luka di tangan dan lambung-Nya. Thomas ingin bukti. Ia ingin kepastian. Namun, Yesus menjawabnya dengan kasih, bukan kemarahan. Ia berkata, “Karena engkau telah melihat Aku, engkau percaya. Berbahagialah mereka yang tidak melihat, namun percaya.” (Yoh. 20:29).

Iman sejati bukan soal melihat lebih dulu, tetapi mempercayai sebelum melihat. Iman bekerja bukan di mata, namun di hati, yang diimplementasikan dalam tindakan — dan itulah yang tercermin dalam sebuah peristiwa perusakan Villa Veronika di Cidahu, Sukabumi. Peristiwa itu bukan sekadar berita sosial, melainkan cermin bagaimana iman diuji di tengah ketidakadilan, dan kasih sejati diberi ruang untuk menjawab dengan tindakan, bukan kemarahan.

Pada hari Jumat, 27 Juni 2025, ratusan warga secara tiba-tiba merusak rumah singgah milik Ibu Maria Veronica. Villa yang kadang digunakan untuk kegiatan ibadah, doa, dan persekutuan telah menjadi sasaran kemarahan karena dianggap tidak memiliki izin resmi sebagai tempat ibadah. Dalam waktu singkat, gerbang, gazebo, taman, bahkan sepeda motor dan kamar mandi dirusak.

Namun, bukan pada peristiwa perusakannya yang menggetarkan hati, melainkan pada respon mereka yang dirugikan. Alih-alih membalas dengan amarah, keluarga pemilik villa menanggapi dengan pengampunan.

Ketika Gubernur Jawa Barat, Dedi Mulyadi, datang dan menyerahkan bantuan pribadi sebesar Rp 100 juta untuk membantu renovasi, mereka melakukan sesuatu yang jauh lebih mulia: mereka memutuskan sebagian dana itu akan digunakan untuk membangun kembali fasilitas umum, termasuk mushola, dan memperbaiki lingkungan sekitar villa — tempat orang-orang yang sebelumnya justru merusak milik mereka.

Apa yang mereka lihat? Tidak ada pertobatan publik dari warga. Tidak ada permintaan maaf terbuka. Tetapi, seperti Yesus kepada Tomas, mereka menjawab dengan kasih lebih dahulu. Mereka mempercayai bahwa di balik kerusakan, masih ada kemungkinan pemulihan. Bahwa di balik kebencian, masih ada ruang untuk pengampunan. Mereka memilih untuk percaya —tanpa melihat tanda pertobatan terlebih dahulu. Mereka menunjukkan iman yang sesungguhnya.

Sulit dicerna secara nalar, tetapi begitulah jalan iman bekerja. Seperti kata Yesus dalam Matius 5:44, “Kasihilah musuhmu dan berdoalah bagi mereka yang menganiaya kamu.” Ibu Veronika dan keluarganya menunjukkan bahwa iman tidak hanya diucapkan, tetapi dibuktikan dalam keputusan — keputusan yang melawan logika dunia.

Iman yang diimplementasikan dalam bentuk pengampunan yang mereka tunjukkan bukan kelemahan, tetapi kekuatan spiritual. Iman mereka bukanlah perisai untuk membela diri, melainkan jendela yang memperlihatkan kemuliaan Kristus. Di tengah kekecewaan dan kehancuran, mereka tidak membiarkan luka batin mengeras menjadi dendam. Sebaliknya, mereka membiarkan kasih mengalir, melimpah sampai kepada mereka yang mungkin tidak layak menerimanya.

Peristiwa ini menjadi contoh bahwa iman yang sejati dibuktikan  di tengah krisis, di tengah benturan dengan kebencian, dan di saat harus memilih antara membalas atau mengasihi. Keluarga ini memilih mengasihi dengan tindakan iman. Mereka memilih jalan salib. Mereka memilih menanggung luka sambil tetap percaya bahwa Allah tetap berdaulat atas segala hal, dan bahwa kasih-Nya tidak gagal.

Hari itu, mungkin bangunan mereka dirusak. Tetapi, iman mereka justru membangun jembatan. Mungkin, melalui jembatan itulah, orang-orang yang pernah membenci, suatu saat akan mengerti apa arti kasih yang sejati. Amin

Penulis


Editor

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *