IMAN YANG NYATA DALAM KASIH ( 13 Oktober 2026 )

Renungan hari ini dari bacaan Galatia 4;31b-5:6; Lukas 11:37-41. “Sebab bagi orang-orang yang ada dalam Kristus Yesus hal bersunat atau tidak bersunat tidak mempunyai arti, hanya iman yang bekerja oleh kasih.” (Galatia 5:6)

Saudara-saudari yang terkasih, sering kali kita mengukur iman seseorang dari apa yang dapat kita lihat. Orang yang rajin berdoa, aktif dalam kegiatan Gereja, tekun mengikuti Misa, atau suka membantu orang lain mudah kita anggap sebagai orang yang beriman. Namun, semua itu baru menunjukkan apa yang tampak dari luar. Tuhan mengajak kita melihat lebih dalam: apakah iman yang kita miliki sungguh bekerja dalam hidup kita melalui kasih?

Dalam bacaan pertama, Paulus mengingatkan jemaat di Galatia bahwa Kristus telah memerdekakan mereka. Karena itu, mereka tidak perlu kembali hidup sebagai orang yang terikat pada hal-hal lahiriah. Paulus bahkan mengatakan bahwa yang penting bukanlah soal bersunat atau tidak bersunat, tetapi iman yang bekerja oleh kasih. Dengan kata lain, iman bukan sekadar sesuatu yang kita akui atau kita tunjukkan. Iman harus hidup dan menghasilkan kasih dalam kehidupan sehari-hari..

Hal yang sama kita dengarkan dalam Injil. Yesus diundang makan oleh seorang Farisi. Orang itu heran karena Yesus tidak membasuh tangan sebelum makan. Yesus kemudian menunjukkan bahwa manusia sering kali lebih sibuk memperhatikan bagian luar, sementara keadaan hati justru dilupakan. Dari luar seseorang dapat terlihat baik dan taat, tetapi di dalam hatinya masih ada iri hati, keserakahan, kemarahan, atau keinginan untuk dipuji. Bagi Yesus, perubahan yang sejati harus dimulai dari dalam.

Saya sendiri pernah mengalami hal yang membuat saya belajar tentang hal ini. Ketika mengerjakan suatu tugas atau pelayanan, saya berusaha melakukannya dengan baik. Saya ingin semuanya berjalan lancar dan memberikan hasil yang baik. Tetapi, ketika usaha itu tidak mendapat perhatian atau penghargaan seperti yang saya harapkan, saya merasa kecewa. Dari pengalaman itu saya menyadari bahwa saya bisa melakukan sesuatu yang baik, tetapi hati saya belum sepenuhnya tulus. Masih ada keinginan untuk dilihat, dihargai, dan diakui.

Pengalaman tersebut menyadarkan saya bahwa iman yang nyata bukan hanya terlihat dari apa yang saya lakukan, tetapi dari kasih yang menjadi dasar saya melakukan semuanya. Kita bisa membantu orang lain, tetapi masih ingin dipuji. Kita bisa melayani, tetapi ingin dianggap penting. Kita bisa rajin berdoa, tetapi masih sulit mengampuni. Karena itu, Tuhan tidak hanya mengajak kita bertanya, “Apa yang sudah saya lakukan?” tetapi juga, “Dengan hati seperti apa saya melakukannya?

Kristus telah membebaskan kita supaya kita tidak hidup hanya untuk memenuhi penilaian manusia. Kita tidak perlu terus-menerus membuktikan bahwa kita adalah orang baik. Yang Tuhan kehendaki adalah hati yang semakin dibentuk oleh kasih-Nya. Ketika iman sungguh hidup dalam diri kita, kasih itu akan tampak dalam cara kita berbicara, mengampuni, menolong, melayani, dan memperlakukan orang lain.

Karena itu, hari ini marilah kita bercermin pada diri sendiri. Ketika tidak ada yang melihat, apakah saya masih mau berbuat baik? Ketika kebaikan saya tidak dihargai, apakah saya tetap mau mengasihi? Mungkin Tuhan mengajak kita memulai dari hal yang sederhana: lebih sabar kepada keluarga, berani meminta maaf, mengampuni orang yang menyakiti kita, dan berbuat baik tanpa menunggu pujian.

Sebab, pada akhirnya Tuhan tidak hanya melihat apa yang tampak dari luar. Ia melihat hati dan kasih yang kita hidupi. Semoga iman kita tidak berhenti pada kata-kata, kebiasaan, atau penampilan keagamaan, tetapi sungguh bekerja melalui kasih. Dengan demikian, iman kita bukan hanya terlihat, melainkan benar-benar nyata dalam hidup kita.

Penulis
Bible Learning Loving The Truth

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *