| Renungan hari ini dari bacaan Yes 55:6-9; Mat 20:1-16a “Tidakkah aku boleh mempergunakan milikku menurut kehendak hatiku? Atau iri hatikah engkau, karena aku murah hati? (Mat. 20:15) |
Dalam kehidupan menggereja, sering kita bertemu dengan orang-orang yang sudah aktif puluhan tahun dan tetap bersemangat serta setia dalam karya pelayanannya. Kita dapat mendengarkan langsung kisah dari para perintis kegiatan. Kita dapat belajar dari keberhasilan dan kegagalan mereka. Misalnya, dari ayah almarhum, kami dapat mendengarkan cerita seperti itu. Ada banyak tokoh yang dapat memberi inspirasi dan semangat dalam pelayanan. Namun, pengalaman seperti itu tidak jarang membuat kita berpikir: “Betapa kecilnya peran saya”. Tidak juga mengherankan jika kemudian muncul pertanyaan usil: “Apakah di surga nanti, akan ada perbedaan?”
Bacaan hari ini memberi jawabannya. Yesus menjelaskan keadilan Allah dalam Kerajaan Surga melalui sebuah perumpamaan tentang sikap pemilik kebun anggur terhadap para pekerjanya. Semua pekerja mendapat upah harian yang sama. Tidak ada perbedaan berdasarkan berapa lama mereka sudah bekerja pada hari itu. Padahal, menurut logika hitungan dunia, biasanya upah diberikan secara proporsional, sesuai dengan lamanya waktu kerja. Namun, di sinilah letak istimewanya keadilan dan kemurahan hati Tuhan. Terhadap pekerja yang merasa kurang puas dan kemudian memprotes, pemilik kebun menegaskan bahwa upah mereka sudah sesuai dengan kesepakatan di awal. Pemilik kebun anggur sudah memenuhi janjinya. Selain itu, seseorang bebas menggunakan harta miliknya menurut kehendaknya, bukan? Terlebih lagi jika digunakan untuk sebuah kemurahan hati. Karena itu, mereka yang memprotes ditegur dengan tegas: “Iri hatikah engkau, karena aku murah-hati?” (Mat. 20:15).
Sikap iri hati seringkali menjadi pemicu konflik yang sebenarnya tidak perlu terjadi. Pada dasarnya, iri hati adalah rasa ketidakbahagiaan ketika mengetahui orang lain berbahagia. Misalnya, terhadap ‘pendatang baru atau orang yang baru bertobat’ yang kemudian berhasil dan mendapat perhatian dari banyak orang. Alih-alih mendukung supaya orang tersebut dapat semakin berdaya-guna dalam komunitas, sikap iri hati justru dapat mendorong berbagai tindakan negatif: mulai dari yang terselubung, misalnya menunggu ia berbuat kesalahan atau mengalami kegagalan, hingga dsecara nyata bersikap tidak mendukung. Kemurnian motivasi pelayanan yang sudah berlangsung bertahun-tahun, dapat ternoda oleh sikap seperti ini.
Perikop hari ini mengajak kita untuk fokus pada hal yang penting, yaitu bahwa Tuhan selalu adil dan murah hati. Manusia tidak dapat memaksakan keadilan menurut ukuran manusia. Jangan sampai kita memandang kemurahan hati Tuhan sebagai suatu ketidakadilan hanya karena rasa iri hati. Sebab, hal itu sama saja dengan bentuk kegundahan dan penolakan cinta kasih Allah.
Di lain pihak, kemurahan hati Allah selayaknya mendorong mereka yang tersesat untuk segera berbalik dan memohon ampun kepada-Nya. Tuhan akan menerima dan menyayangi mereka, sebagaimana Ia menerima dan menyayangi yang lain. Nabi Yesaya menyerukan pertobatan orang fasik: “Carilah TUHAN selama Ia berkenan ditemui” (Yes. 55:6). Sebab, rancangan Tuhan selalu lebih luhur daripada rancangan manusia (Yes. 55:6-9).
Sejarah kekristenan menunjukkan bahwa ada banyak tokoh yang semula hidup dalam dosa, tetapi kemudian berbalik mencari Tuhan. Mereka kemudian justru dijadikan Tuhan sebagai pembela iman yang utama. Demikian juga kita pada masa sekarang. Kita diajak untuk menyingkirkan sifat iri hati dan mengambil bagian dalam rancangan keselamatan Allah. Khususnya, semoga kita senantiasa dengan tulus turut berbahagia atas keberhasilan orang lain, bergembira atas pertobatan sesama, dan mendukung mereka yang berusaha kembali kepada Tuhan. Amin.
