JANGAN TERLALU SIBUK HINGGA MELUPAKAN PANGGILAN TUHAN ( 3 November 2026 )

Renungan hari ini dari bacaan Filipi 2:5-11; Lukas 14:15-24.
“Sebab Aku berkata kepadamu: Tidak ada seorang pun dari orang-orang yang telah diundang itu akan menikmati jamuan-Ku.” (Luk. 14:24)

Bacaan ini mengajak kita untuk melihat kembali bagaimana kita menanggapi panggilan Tuhan dalam kehidupan sehari-hari. Dalam bacaan pertama, Rasul Paulus mengajak kita untuk meneladani sikap Yesus yang rendah hati dan taat kepada Bapa. Yesus rela merendahkan diri dan mengorbankan diri-Nya demi keselamatan manusia. Sementara itu, dalam Injil, Yesus menceritakan tentang seorang yang mengadakan perjamuan besar. Ketika para undangan dipanggil untuk datang, mereka justru menolak dengan berbagai alasan. Ada yang sibuk mengurus ladang, ada yang baru membeli ternak, dan ada pula yang baru menikah. Mereka lebih memilih urusan masing-masing daripada menghadiri perjamuan tersebut. Melalui kedua bacaan ini, kita diajak untuk bertanya: apakah kita sudah menyediakan waktu bagi Tuhan, atau justru sering mengabaikan-Nya karena terlalu sibuk dengan urusan sendiri?

            Kita tentu memiliki banyak kesibukan setiap hari. Sebagai mahasiswa, kita harus mengikuti kuliah, mengerjakan tugas, belajar untuk ujian, dan menyelesaikan berbagai tanggung jawab. Karena terlalu sibuk, kita terkadang menunda doa, malas mengikuti misa, atau tidak punya waktu untuk membantu orang lain. Kita mungkin berpikir bahwa masih ada waktu untuk mendekatkan diri kepada Tuhan nanti, setelah semua urusan selesai. Namun, tanpa disadari, kita terus mencari alasan untuk menunda. Kita juga sering lebih mengutamakan keinginan sendiri daripada memperhatikan orang-orang di sekitar kita. Misalnya, ketika teman membutuhkan bantuan, kita memilih tidak peduli karena merasa sedang sibuk. Padahal, kita masih bisa menunjukkan kasih melalui hal-hal sederhana. Jangan sampai kita begitu sibuk mengejar apa yang kita inginkan sampai lupa bahwa Tuhan juga memanggil kita untuk mengasihi-Nya dan sesama.

            Lalu, apa yang bisa kita lakukan? Kita tidak harus meninggalkan semua kesibukan untuk menunjukkan bahwa kita dekat dengan Tuhan. Kita hanya perlu belajar mengatur waktu dan menentukan apa yang benar-benar penting. Di tengah kesibukan kuliah, kita tetap bisa meluangkan waktu untuk berdoa dan membaca Kitab Suci. Ketika ada teman yang mengalami kesulitan, kita bisa membantu sesuai kemampuan kita. Ketika mendapat tugas pelayanan, kita bisa menjalankannya dengan tulus, bukan hanya karena terpaksa atau ingin mendapat pujian. Kita juga perlu belajar rendah hati, berani mengakui kesalahan, dan tidak selalu mengutamakan kepentingan diri sendiri. Sikap-sikap sederhana ini dapat menjadi cara kita menjawab panggilan Tuhan dalam kehidupan sehari-hari.

            Injil hari ini juga mengingatkan kita bahwa Tuhan mengundang semua orang untuk datang kepada-Nya. Dalam perumpamaan tersebut, ketika para undangan pertama menolak, tuan rumah justru mengundang orang-orang yang miskin, cacat, buta, dan lumpuh. Ini menunjukkan bahwa Tuhan membuka pintu bagi siapa saja. Karena itu, kita tidak perlu merasa diri paling baik atau paling pantas di hadapan Tuhan. Kita semua membutuhkan kasih dan pengampunan-Nya. Pertanyaannya, apakah kita mau menerima undangan tersebut dan datang kepada-Nya dengan hati yang terbuka? Jangan sampai kita selalu mempunyai alasan untuk menunda-nunda.

Marilah kita mulai dari hal-hal kecil, yaitu menyediakan waktu untuk Tuhan, peduli kepada sesama, dan belajar mengikuti teladan Yesus yang rendah hati. Semoga kita tidak hanya mendengar panggilan Tuhan, tetapi juga berani menanggapinya melalui tindakan nyata dalam kehidupan sehari-hari. Amin.

Penulis
Bible Learning Loving The Truth
Paskalis Edwin I Nyoman Paska

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *