| Renungan hari ini dari bacaan Ulangan 30:15-20; Lukas 9:22-25 “Kuperhadapkan kepadamu kehidupan dan kematian, berkat dan kutuk. Pilihlah kehidupan, supaya kamu hidup, baik kamu maupun keturunanmu” (Ul. 30:19). |
Di padang gurun, bangsa Israel berdiri di ambang tanah perjanjian. Melalui Musa, Tuhan menyampaikan firman yang tegas dalam Kitab Ulangan 30:15-20: kehidupan dan keberuntungan ada di satu sisi, kematian dan kecelakaan di sisi lain. Pilihan itu bukan sekadar tentang panjang umur atau kesejahteraan jasmani, melainkan tentang kesetiaan hati. Tuhan meminta umat-Nya untuk mengasihi Dia, hidup menurut jalan-Nya, dan berpegang pada perintah-perintah-Nya. Di situlah kehidupan sejati ditemukan. Namun, memilih Tuhan berarti juga berani meninggalkan segala sesuatu yang menjauhkan kita dari-Nya.
Berabad-abad kemudian, Yesus mengucapkan perkataan yang tidak kalah tajam. Dalam Injil Lukas 9:22-25, Ia menyatakan bahwa Anak Manusia harus menderita, ditolak, dibunuh, dan bangkit pada hari ketiga. Lalu Ia berkata, “Jika seseorang yang mau mengikut Aku, ia harus menyangkal dirinya, memikul salibnya setiap hari, dan mengikut Aku.” (Luk. 9:23). Mengikut Kristus bukanlah jalan yang mudah atau penuh kenyamanan. Itu adalah jalan salib, jalan pengorbanan, penyangkalan diri, bahkan kehilangan.
Kehilangan nyawa dalam terang firman ini bukan semata-mata tentang kematian fisik. Yesus menjelaskan, “Karena siapa saja yang mau menyelamatkan nyawanya, ia akan kehilangan nyawanya. Tetapi, siapa yang kehilangan nyawanya karena Aku, ia akan menyelamatkannya.” (Luk. 9:24). Dunia mengajarkan kita untuk mempertahankan diri, mengejar ambisi, dan mengumpulkan sebanyak mungkin harta, kehormatan, dan pengakuan. Namun, Tuhan memanggil kita untuk menyerahkan semuanya itu jika perlu, demi kesetiaan kepada-Nya.
Ada paradoks ilahi di sini: justru ketika kita rela kehilangan, kita menemukan kehidupan yang sesungguhnya. Ketika kita melepaskan ego, kita memperoleh damai. Saat kita menanggalkan kehendak pribadi demi kehendak Tuhan, kita mengalami sukacita yang tidak dapat diberikan dunia. Pilihan yang dahulu disampaikan Musa – antara hidup dan mati – kini ditegaskan kembali oleh Kristus dalam bentuk yang lebih radikal: pilihlah Aku, sekalipun itu berarti kehilangan segalanya.
Bersedia kehilangan segala sesuatu untuk Tuhan juga berarti berani mengampuni, walau harus mematikan ego pribadi. Mengampuni bukanlah tindakan yang lemah; justru itu adalah wujud keberanian rohani yang besar. Ego kita sering menuntut pembalasan, pembenaran diri, dan pengakuan atas luka yang kita rasakan. Namun, ketika kita memilih untuk mengampuni, kita sedang menyalibkan kesombongan dan menyerahkan hak kita untuk membalas kepada Tuhan. Di situlah kita sungguh-sungguh memikul salib, bukan hanya dalam penderitaan besar, tetapi dalam pergumulan hati yang tersembunyi.
Kadang kehilangan itu nyata: kesempatan yang hilang, reputasi yang tercoreng, atau hubungan yang retak karena kita memilih kebenaran dan kasih. Mengampuni bisa terasa seperti kehilangan harga diri atau kemenangan. Namun, di mata Tuhan, justru di sanalah kita sedang memilih kehidupan. Dengan mematikan ego, kita memberi ruang bagi kasih Tuhan untuk bekerja. Dengan melepaskan dendam, kita membuka pintu bagi damai sejahtera yang sejati.
Musa menutup pesannya dengan seruan, “Pilihlah kehidupan.” Yesus menunjukkan bagaimana memilih kehidupan itu: dengan memikul salib. Salib adalah simbol penderitaan, tetapi juga simbol kasih yang total. Ketika kita memutuskan untuk mengikut Kristus dengan sepenuh hati, kita sedang berkata bahwa tidak ada yang lebih berharga daripada Dia, bahkan harga diri dan keinginan pribadi kita.
Akhirnya, kehilangan nyawa demi Tuhan bukanlah akhir cerita. Ada janji kebangkitan, ada kehidupan kekal, ada persekutuan yang tak terputus dengan Sang Pemberi hidup. Dunia mungkin melihat pengorbanan dan pengampunan sebagai kerugian, tetapi surga melihatnya sebagai harta yang kekal. Maka, marilah kita dengan berani memilih Tuhan setiap hari, bersedia kehilangan apa pun, mematikan ego, dan mengampuni dengan tulus, agar kita memperoleh hidup yang sejati di dalam Dia.
