Kesetiaan dan Pengorbanan ( 15 Agustus 2025 )

Renungan hari ini dari bacaan Yosua 24:1-13 dan Matius 19:3-12
“Apakah diperbolehkan orang menceraikan istrinya dengan alasan apa saja?” (Mat. 19:3)

Kesetiaan bukan sekadar janji, tetapi sikap hati yang dibuktikan dalam tindakan, bahkan ketika itu menuntut pengorbanan. Kesetiaan adalah keputusan untuk tetap bertahan, melayani, dan mengasihi — bukan hanya saat segalanya mudah, tetapi justru saat keadaan menuntut harga yang mahal.

Dalam Yosua 24:1–13, kita melihat bagaimana Allah menunjukkan kesetiaan-Nya kepada umat Israel. Ia memanggil Abraham dari tanah penyembahan berhala, menuntun keturunannya keluar dari Mesir, memberi kemenangan atas musuh, dan menyediakan tanah yang subur untuk mereka di Kanaan. Semua itu bukan karena umat Israel layak, melainkan karena Allah setia pada janji-Nya, dan Ia rela berkorban demi kebaikan umat-Nya.

Kesetiaan Allah bukanlah pasif. Ia terlibat, Ia bertindak, dan Ia berkorban. Allah menghalau musuh tanpa pedang dan panah dari Israel. Ia juga bekerja dalam kehidupan kita, sering kali secara tak terlihat, untuk menyediakan apa yang kita butuhkan.

Dalam Matius 19:3–12, Yesus berbicara tentang kesetiaan dalam pernikahan. Di tengah budaya yang mencari celah untuk bercerai, Yesus menegaskan bahwa pernikahan adalah ikatan yang kudus dan tidak bisa dipisahkan oleh manusia. “Apa yang telah dipersatukan Allah, tidak boleh diceraikan manusia.” Ini bukan hanya peraturan, melainkan panggilan untuk tetap setia, bahkan saat perasaan lelah, kecewa, atau terluka.

Namun, kesetiaan bukan hanya di hadapan Allah atau dalam pernikahan. Kesetiaan juga harus terlihat dalam kehidupan sehari-hari.  Banyak orang bisa rajin bekerja saat dilihat atasan, tetapi kesetiaan sejati diuji ketika tidak ada yang melihat. Datang tepat waktu, bekerja sun gguh-sungguh, bertanggung jawab, dan tidak curang — semua itu adalah bentuk pengorbanan dari kesetiaan kepada Tuhan, bukan sekadar kepada manusia.

Satu bentuk kesetiaan yang mulia namun sering diabaikan adalah kesetiaan sebagai anak dalam merawat orang tua. Ketika orang tua mulai menua, sakit-sakitan, atau pikun, banyak yang merasa terbebani, lalu menjauh. Namun, kasih sejati tidak demikian. Anak yang setia akan merawat dengan sabar, bahkan ketika hal itu menuntut waktu, tenaga, dan kesabaran yang besar. Ini adalah pengorbanan yang sangat berharga di mata Tuhan, karena menghormati orang tua adalah salah satu perintah yang disertai janji.

Kesetiaan dalam setiap aspek hidup adalah gambaran kecil dari kesetiaan Allah kepada kita. Dalam semua itu, selalu ada harga yang harus dibayar. Tetapi, justru di situlah kesetiaan menjadi indah—karena ia bukan hanya berdiri di atas rasa nyaman, melainkan di atas dasar kasih, pengorbanan, dan ketaatan kepada Tuhan.

Maukah kita setia, bahkan ketika kesetiaan itu menyakitkan? Mari belajar dari Allah yang setia, dan jadikan hidup kita sebagai persembahan yang mencerminkan kasih-Nya,  dalam pernikahan, pekerjaan, keluarga, dan seluruh hidup kita. Amin.

Penulis


Editor

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *