Ketika Aku Berserah, Tuhan Memampukan Aku ( 16 Oktober 2026 )

Renungan hari ini dari bacaan Efesus 1: 11-14; Injil: Lukas 12: 1-7
“Bahkan rambut kepalamu pun terhitung semuanya. Jangan takut! Kamu lebih berharga daripada banyak burung pipit” (Luk. 12:7).

Pada tahun 2011, saya mengalami sakit yang membuat saya sulit berjalan, bahkan sulit bangun dari tempat tidur tanpa pertolongan orang lain. Setelah menjalani pengobatan, saya dinyatakan menderita penyakit autoimun. Saat itu, saya tidak memahami apa sebenarnya penyakit tersebut. Yang saya ketahui hanyalah bahwa penyakit ini tidak mudah disembuhkan.

Kesedihan dan ketakutan memenuhi hati saya. Sebagai seorang ibu tunggal yang bekerja di sebuah perusahaan swasta, saya memikirkan masa depan ketiga anak saya yang masih sekolah. Bagaimana jika saya tidak bisa bekerja lagi? Bagaimana saya membiayai pendidikan mereka dan memenuhi kebutuhan hidup kami?

Di tengah pergumulan itu, saya hanya bisa berserah kepada Tuhan. Dalam doa, saya berkata, “Tuhan, sekiranya penyakit saya tidak dapat sembuh, saya terima. Tetapi, jangan sampai saya tidak dapat mencari nafkah, karena anak-anak yang Engkau percayakan kepada saya masih membutuhkan biaya sekolah dan kami pun harus hidup.”

Saya tetap menjalani pengobatan dan berusaha bekerja sebaik mungkin. Di tengah keadaan tersebut, saya mulai melayani di paroki. Tanpa saya sadari, itulah awal perjalanan pelayanan saya kepada Tuhan yang terus berlangsung hingga hari ini.

Mungkin penyakit itu masih ada dan terkadang saya merasakan dampaknya ketika kelelahan. Namun, saya mengalami bahwa Tuhan memampukan saya menjalani tanggung jawab sebagai seorang ibu. Saya percaya, dalam perjalanan itu, kuasa Roh Kudus senantiasa menuntun dan menguatkan saya.

Waktu terus berjalan. Ketiga anak saya akhirnya menyelesaikan pendidikan mereka. Anak sulung saya menikah pada tahun 2015, sedangkan kedua anak saya yang lain kini telah hidup mandiri dan memiliki pekerjaan yang saya syukuri sebagai berkat Tuhan.

Hari ini, saya masih aktif bekerja dan tetap melayani Tuhan. Pelayanan bukan lagi sekadar kegiatan yang saya lakukan, tetapi menjadi bagian penting dalam hidup saya. Tuhan telah memberi saya kesempatan untuk tetap menjalankan tanggung jawab sebagai ibu sekaligus melayani-Nya.

Ketika merenungkan perjalanan hidup ini, saya menyadari bahwa Tuhan tidak selalu menjawab doa dengan cara menghilangkan semua kesulitan. Namun, di tengah kesulitan itu, Ia memberikan kekuatan untuk terus melangkah dan menjalani tanggung jawab yang dipercayakan kepada saya.

Firman Tuhan dalam Lukas 12:7 mengingatkan saya bahwa saya berharga di mata-Nya. Sementara itu, Efesus 1:13–14 mengingatkan saya akan karunia Roh Kudus yang menjadi jaminan bagi kita sebagai milik Allah.

Saya belajar bahwa berserah kepada Tuhan bukan berarti berhenti berusaha. Berserah berarti tetap melangkah, melakukan bagian kita dengan setia, dan percaya bahwa Tuhan menyertai perjalanan kita.

Saya tidak tahu seluruh rencana Tuhan atas hidup saya, tetapi saya belajar untuk terus percaya, bekerja, dan melayani-Nya. Bagi saya, itulah salah satu wujud nyata iman: tetap setia dalam keadaan apa pun, karena hidup saya dan keluarga saya berada dalam tangan-Nya. Tuhan Yesus Memberkati.

Penulis

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *