| Renungan hari ini dari bacaan 1Mak 1:10-15. 41-43.54-57.62-64; Luk 18:35-43. “Yesus, Anak Daud, kasihanilah aku!” Luk. 18:38). |
Perikop dari kitab Makabe yang menjadi bacaan hari ini merupakan bagian kisah yang diceritakan dari generasi ke generasi bangsa Israel. Situasi sulit pada masa penjajahan Yunani, yang waktu itu menguasai wilayah Asia, bukan hanya Eropa.
Kesulitan hidup yang dialami oleh bangsa Israel membuat sebagian besar dari mereka lupa sejarah dan perjalanan iman sebagai bangsa terpilih. Pilihan berkompromi, membuat perjanjian dengan bangsa sekitar merupakan jalan yang dipilih. Pilihan ini tentunya berdampak pada pola perilaku hidup bangsa (bdk. 1Mak. 1:12.15). Gambaran yang dikisahkan memang menyedihkan. Kebiasaan sunat dan adat (ay. 42) dihilangkan, pengudusan diri dan kurban persembahan dinodai (ay.43), kitab Taurat dibakar (ay. 56), hari Sabat dicemarkan, bahkan orang menjual diri untuk berbuat jahat (ay.15).
Seperti biasanya dalam masyarakat jajahan, juga dalam sejarah bangsa Indonesia, mereka yang berkompromi dengan penjajah mendapat jabatan. Konsekuensinya mereka menjadi bagian dari penjajah dan menjajah bangsanya sendiri.
Dalam perikop ini (1Mak 1:14) kita juga dapat menelusuri sejarah gedung olahraga, yang juga kita punyai sampai zaman ini. Ini salah satu wisata zaman ini dan juga ada di kota-kota kita.
Tentulah seperti zaman ini juga, tidak semua warga seperti di atas. Ada yang tetap menjaga kemurnian, kekudusan, memilih mati daripada membelot (ay.63). Tradisi kemartiran yang memang ada dalam Sejarah manusia juga terjadi pada periode ini. orang-orang rela mati demi keyakinan mereka.
Perikop ini ditutup dengan gambaran mengerikan. Kemurkaan yang hebat sekali menimpa Israel. (ay. 64)
Pengalaman bangsa Israel itu, relevan untuk direnungkan di zaman ini. Apakah situasi ‘dijajah’ seperti yang dialami oleh bangsa Israel itu juga kita alami zaman ini? Setelah merdeka 75 tahun apakah situasi kita ada miripnya, pun dengan adanya MBG? Apakah pengobatan dan pendidikan gratis membuat kita masih tetap bisa menghayati adat istiadat kita, penghayatan iman kita tanpa perlu kompromi?
Perikop injil (Luk. 18:35-43) yang menjadi bacaan hari ini memberikan kita kisah perjumpaan Yesus dengan orang buta dalam perjalanan di etape terakhirnya sebelum disalibkan.
Masih dalam situasi penjajahan, masa Yesus adalah masa bangsa Israel mengalami penjajahan bangsa Romawi. Situasi hidup bangsa Israel memang relatif jauh lebih baik dibandingkan pada masa penjajahan bangsa Yunani.
Dalam situasi Yesus akan mengakhiri perjalanan misionernya, Dia berjumpa dengan orang buta yang hidupnya mengemis. Situasi ini juga akrab dengan pengalaman kita. Kita masih bisa menjumpai orang buta yang mengemis di pinggir jalan. Perjumpaan pribadi ini, unik dan kreatif. Bayangkanlah menjadi orang buta selama bertahun-tahun, mencari nafkah dengan mengemis. Ini membutuhkan kerendahan hati, kepasrahan hidup, semangat hidup yang ingin hidup lebih baik. Memang dapat kita tanyakan juga, apa yang membuat Lukas tidak menulis nama orang buta itu? Orang buta itu masih bertanya dan penuh harapan.
Dari dialog yang ditulis Lukas, kita tahu bahwa Yesus adalah figur yang terkenal, bahkan sampai kakek moyangnya pun diketahui oleh orang buta.
Dalam perikop itu kita membaca apa sikap orang sekitar orang buta. Ini sikap umum yang juga kita temui di dalam perikop lainnya. Orang buta bukan hanya kehilangan daya lihatnya secara biologis, namun secara sosiologis juga menjadi orang yang terpinggirkan. Nyalinya berseru patut dipuji dan diteladani. Tidak diam saja. Berseru, menyapa dan minta tolong.
Orang buta itu tahu persis apa yang diperlukannya. Ini pesan penulis Injil, Lukas. Kita perlu tahu persis kebutuhan kita, ketika dalam situasi sulit.
Zaman ini sikap orang buta ini menjadi pengingat saat kita ada dalam situasi sulit. Kita tahu betul apa yang kita perlukan dan …. walaupun dalam situasi sulit, masih ingat betul memuliakan Allah. Mari kita hening sejenak, mengingat Kembali perjalanan iman kita masing-masing. Apakah kita memiliki iman seperti orang buta? Apakah kita sungguh memuliakan Tuhan ketika mengalami pemenuhan kebutuhan? Apakah kita ikut memuji Tuhan bersama yang lain?
