Iman yang Dewasa dan Tetap Setia di Tengah Goncangan Akhir Zaman ( 16 November 2025 )

Renungan hari ini dari bacaan Maleakhi 4:1-2a; Lukas 21:5-19. “Waspadalah supaya kamu jangan disesatkan. Sebab, banyak orang akan datang dengan memakai nama-Ku dan berkata: Akulah Dia,’ dan: Saatnya sudah dekat.Janganlah mengikuti mereka.” (Luk. 21:8) 

Iman yang sejati bukan hanya diucapkan, tetapi dijalani dalam segala kondisi. Di masa ketika dunia semakin penuh kekacauan, ketidakpastian, dan tanda-tanda yang mengarah pada kedatangan Tuhan Yesus kembali, kita dipanggil memiliki iman yang semakin dewasa, semakin kudus, dan setia dalam tugas sehari-hari. Iman yang matang tidak tumbuh dalam kenyamanan, tetapi di tengah pergumulan hidup yang nyata.

Paulus menegur jemaat Tesalonika dan berkata dalam 2 Tesalonika 3:10: “Jika seorang tidak mau bekerja, janganlah ia makan.” Teguran ini bukan sekadar perintah keras, melainkan panggilan untuk hidup dalam tanggung jawab dan ketekunan. Pada waktu itu, sebagian jemaat berhenti bekerja karena merasa Yesus segera datang. Mereka menunggu tanpa melakukan apa-apa, bahkan menjadi beban bagi sesama. Paulus menegur bukan untuk memarahi, tetapi mengarahkan kembali umat kepada cara hidup yang benar hidup yang bertanggung jawab, produktif, dan mencerminkan iman yang dewasa.

Bagi kita hari ini, bekerja bukan hanya kewajiban, melainkan bagian dari ibadah. Melalui pekerjaan, kita menunjukkan kasih, disiplin, dan kesediaan untuk menjadi berkat. Maka kita perlu bertanya dalam hati: Apakah aku bekerja hanya karena rutinitas? Atau aku bekerja untuk memuliakan Tuhan dan menolong sesama?

Dalam Lukas 21:8 Yesus mengingatkan kita agar selalu waspada akan bahaya kesesatan: “Waspadalah, supaya kamu jangan disesatkan… Janganlah kamu mengikuti mereka.” Sebelum kedatangan-Nya yang kedua kali, akan muncul banyak suara yang menyesatkan, ajaran palsu, dan tanda-tanda yang mengejutkan. Banyak hal yang kini terjadi sesungguhnya sudah digambarkan Yesus: peperangan, bencana, ketakutan, pengkhianatan, dan kasih yang makin dingin.

Jika kita melihat keadaan dunia sekarang, kita dapat merasakan betapa firman Tuhan sedang tergenapi di depan mata kita: Konflik antar bangsa, peperangan, dan kebencian sosial terus meningkat. Banyak keluarga hancur karena ego, perselingkuhan, kekerasan, dan kehilangan kasih. Anak-anak kehilangan arah karena terpengaruh budaya instan, hiburan berlebihan, dan kurangnya keteladanan rohani. Nilai moral dan etika merosot; yang salah dianggap benar, yang benar dianggap mengganggu. Banyak orang hidup dalam stres, kecemasan, kesepian, dan kehilangan damai. Pengkhianatan dan luka antar saudara, sahabat, dan keluarga semakin sering terjadi.

Semua ini menggambarkan betapa rapuhnya karakter manusia jika tidak dibangun di atas firman Tuhan. Karena itu, iman kita harus semakin dewasa, bukan hanya percaya Tuhan akan datang kembali, tetapi tetap setia bekerja, bertekun, mengasihi, dan hidup benar.

Namun, firman Tuhan selalu memberi pengharapan. Tuhan berjanji dalam Maleakhi 4:2: “Kamu akan keluar dan berjingkrak-jingkrak seperti anak lembu lepas kandang.” Mazmur 98:5 mengingatkan kita untuk terus memuji Tuhan: “Bermazmurlah bagi Tuhan dengan kecapi dan lagu yang nyaring.”

Di tengah dunia yang gaduh dan moral yang runtuh, kiranya kita tetap menjadi pribadi yang setia dalam iman, dewasa dalam karakter, tegar dalam pengharapan, dan tetap memuliakan Tuhan melalui pekerjaan dan ketaatan kita.

Biarlah iman yang bertumbuh itu mempersiapkan kita menyongsong kedatangan Kristus dengan hati yang teguh, penuh kasih, dan tetap hidup dalam kebenaran.

Penulis

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *