BERDOA DENGAN TIDAK JEMU-JEMU ( 15 November 2025 )

Renungan hari ini dari bacaan Kebijaksanaan Salomo 18:14-16; 19:6-9 ; Lukas 18:1-8.“Tidakkah Allah akan memberi keadilan kepada orang-orang pilihan-Nya yang siang malam berseru kepada-Nya? Apakah Ia mengulur-ulur waktu sebelum menolong mereka?´ (Luk. 18:7).

Seorang anak kecil yang meminta sesuatu kepada orang tuanya mempunyai senjata yang sangat efektif yaitu menangis. Kalau permintaannya tidak dipenuhi, seorang anak kecil  akan menangis sampai permintaannya itu  dikabulkan. Hal yang sama bisa kita lakukan kalau kita berdoa  kepada Tuhan.  Barangkali kita pernah mengalami rasa putus asa, bahkan tidak lagi mau berdoa , karena merasa doa-doa yang disampaikan tidak kunjung dikabulkan oleh Tuhan.

Dalam perikop ini Tuhan Yesus mengajarkan salah satu sikap yang harus dimiliki oleh orang beriman ketika berdoa,  yaitu  berdoa dengan tidak  jemu-jemu.  Perumpamaan  ini hanya  ditemukan  dalam Injil Lukas. Ada perumpamaan lain yang serupa  yaitu perumpamaan  tentang sahabat yang meminjam roti pada tengah malam  (Luk. 11:5-8). Kedua perumpamaan  tersebut  berbicara tentang seorang yang sedang memerlukan bantuan. Tanpa rasa malu ia meminta tolong kepada orang yang diyakininya sanggup menolongnya.  Karena merasa terganggu, akhirnya orang itu pun memberikan bantuan yang dibutuhkan.

Di sebuah kota, ada seorang hakim yang tidak takut akan Allah dan tidak menghormati siapa pun, ia  suka memandang rendah orang-orang yang datang kepadanya. tidak punya belas kasihan sedikit pun, termasuk dalam perkara orang miskin.

Mengenai para hakim, hukum dalam kitab Ulangan memerintahkan agar mereka memberi keputusan yang adil (Ul. 1:16. Mereka juga diingatkan agar tidak memutarbalikkan keadilan, tidak pandang bulu, dan tidak menerima suap. Sebab, suap membuat buta mata orang-orang bijaksana dan memutarbalikkan perkataaan orang-orang yang benar (Ul. 16 :19).  Seorang hakim yang tidak takut akan Allah, tidak mungkin mengadili suatu perkara dengan adil . 

Hakim yang diceritakan oleh Yesus ini tidak peduli dengan keadilan yang dikehendaki Tuhan. Sikap ini bertentangan dengan sikap seorang hakim yang sejati. Seharusnya hakim yang benar itu  tidak memihak ketika mengadili suatu perkara, termasuk dalam perkara orang miskin.

Di kota itu ada juga seorang janda.. Dalam kitab suci para janda, anak yatim, dan orang asing termasuk dalam kelompok orang miskin yang mendapat perhatian khusus dari Allah. Allah melindungi mereka (Ul.10:17; Kel. 22:22)

Janda itu rupanya sedang terbelit kasus hukum dan berusaha mendapat penyelesaian dalam perkaranya. Mungkin saja hakim itu menanti uang suap darinya, seperti yang sering kita lihat dalam pengadilan di masa sekarang ini, hukum bisa dipermainkan sesuka hati.   Namun, karena janda itu  terlalu miskin, tidak mungkin membayarnya,  sehingga hakim itu menyadari  bahwa   janda itu akan terus mengganggunya jika ia tidak menolong. Akhirnya hakim itu pun membenarkan dia dalam perkara yang dihadapinya. “Namun, karena janda ini menyusahkan aku, baiklah aku membenarkan dia, supaya jangan terus saja ia datang dan akhirnya menyerang aku.” (Luk. 18:5).

Makna dari perumpamaan ini: Yesus meminta para murid-Nya untuk memerhatikan apa yang dilakukan oleh hakim yang tidak adil dan tidak takut akan Tuhan itu. Hakim itu mau menolong janda yang terus memohon bantuannya. Kalau hakim yang tidak adil itu saja dapat berbuat demikian, apalagi Allah. Ia akan memberi keadilan kepada  orang-orang pilihan-Nya yang siang malam berseru kepada-Nya (Luk. 18:7).

Para murid diajak untuk memiliki sikap seperti janda itu, terus bertekun dan berdoa kepada Allah tanpa jemu. Setiap permohonan yang disampaikan dalam doa yang tekun dan tanpa putus asa,  pada waktunya akan dikabulkan Tuhan. Tidak ada doa yang sia-sia. Allah akan mendengarkan doa-doa yang kita sampaikan kepada-Nya dan memberikan yang terbaik dan berguna bagi iman kita.

Penulis

satu Respon

  1. Harus disyukuri, meskipun doa-doa yg kita ungkapkan belum dikabulkan Tuhan, Tuhan selalu mendengarkan doa-doa kita, dan Tuhan mengerti apa yang kita sampaikan, tetapi yg harus kita pahami Tuhan akan mengabulkan doa kita disaat yg tepat, tidak pernah terlambat, tidak pernah terlalu cepat tetapi indah tepat pada waktunya, yg terbaik menurut Tuhan. Tujuan akhir permohonan doa-doa kita adalah keselamatan jiwa-jiwa kita

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *