Ketika Standar Dunia Dibalikkan Allah ( 9 September 2026 )

Renungan hari ini dari bacaan Korintus 7:25-31; Lukas 6:20-26
“Berbahagialah, hai kamu yang miskin, karena kamulah
yang empunya Kerajaan Allah” (Luk. 6:20).

Ketika membaca kedua perikop ini pertama kali, seolah sulit ditarik benang merahnya. Apalagi kalau membaca renungan kemarin. Apakah hubungannya? Apakah pesan kedua perikop ini untuk kita semua hari ini?

Setelah membaca berulang kali, pelan-pelan benang merahnya ketemu. Kedua pesan ini selaras dan merupakan pesan kepada para pengikut Kristus pada zaman surat itu ditulis dan Injil diwartakan. Membaca sekali lagi, benang merah itu semakin jelas kaitannya dan pesannya untuk kita di zaman ini.

Pada saat Rasul Paulus sedang berada di kota Efesus, umat di Korintus mengiriminya surat dan menanyakan berbagai persoalan, termasuk mengenai status perkawinan bagi para gadis atau orang yang belum menikah di tengah “kesesakan” atau masa-masa krisis yang sedang dihadapi. Umat di Korintus pada saat surat ditulis sedang mengalami situasi darurat atau kesesakan waktu itu, kemungkinan besar berupa krisis sosial, penganiayaan, atau kesulitan ekonomi lokal yang membuat hidup menjadi lebih berat.

Pesan Rasul Paulus sangat relevan untuk umat di Korintus saat itu. Dalam situasi seperti itu, apa sikap yang perlu diambil oleh para jemaat di Korintus agar tidak terikat pada hal-hal duniawi? Paulus mengingatkan bahwa dunia dalam bentuknya yang sekarang sedang berlalu. Karena itu, kehidupan tidak boleh seluruhnya digantungkan pada apa yang ada dan sedang terjadi di dunia.

Zaman ini, terutama di Indonesia, kita juga sedang mengalami berbagai situasi yang tidak mudah: krisis sosial, kesulitan ekonomi lokal, bencana beruntun, letusan gunung api seolah-olah menjadi suatu orkestra gunung api meletus, kebakaran hutan, banjir, gempa, keracunan makanan, dan korupsi luar biasa yang sistemik. Dalam situasi seperti ini, pesan Rasul Paulus agar kita tidak terikat pada hal-hal duniawi tentu sangat relevan. Kita hidup di tengah dunia, tetapi jangan sampai hidup kita diperbudak oleh dunia dan segala sesuatu yang ditawarkannya.

Membaca bagian pertama ini, lalu membaca perikop Injil Lukas 6:20-26, kita semakin terhenyak. Kok ada empat Sabda Bahagia dan empat kutukan? Perikop ini selaras dengan yang ada di Injil Matius. Namun, kondisi yang digambarkan dalam perikop Lukas sangat nyata: ada kemiskinan harfiah, kelaparan fisik, air mata, penderitaan, bahkan penolakan dan penganiayaan.

Ketika membaca perikop ini, kita menemukan pesan Yesus yang membalikkan makna yang selama ini sudah dihayati. Menderita, miskin, dan lapar secara jasmani sering dianggap sebagai tanda mengalami kutukan Tuhan. Tetapi Yesus menyatakan dengan tegas dan jelas bahwa mereka yang berada dalam keadaan demikian justru dapat menjadi orang-orang yang mengandalkan Tuhan dan diberkati.

“Berbahagialah, hai kamu yang miskin, karena kamulah yang empunya Kerajaan Allah” (Luk. 6:20). “Berbahagialah, hai kamu yang sekarang ini lapar, karena kamu akan dipuaskan; berbahagialah, hai kamu yang sekarang ini menangis, karena kamu akan tertawa” (Luk. 6:21). Bahkan mereka yang dibenci, dikucilkan, dicela, dan ditolak karena nama Yesus disebut berbahagia (Luk. 6:22).

Sebaliknya, pada bagian yang sama, Yesus memberikan peringatan yang keras kepada mereka yang kaya: “Celakalah kamu, hai kamu yang kaya, karena dalam kekayaanmu kamu telah memperoleh penghiburanmu” (Luk. 6:24). Celakalah mereka yang sekarang ini kenyang, karena akan lapar; yang sekarang ini tertawa, karena akan berdukacita dan menangis (Luk. 6:25). “Celakalah kamu, jika semua orang memuji kamu, karena secara demikian juga nenek moyang mereka telah memperlakukan nabi-nabi palsu” (Luk. 6:26).

Di sinilah benang merah kedua perikop itu semakin jelas. Standar kebahagiaan hidup dibalikkan. Apa yang dianggap dunia sebagai keberhasilan dan kebahagiaan tidak selalu menjadi ukuran di hadapan Allah. Bukan uang, kuasa, takhta, popularitas, dan kenikmatan yang menjamin keselamatan, melainkan keterarahan hidup kepada Allah.

Paulus mengingatkan agar kita tidak terikat pada dunia yang sedang berlalu. Yesus mengingatkan agar kita tidak menjadikan kekayaan, kenyamanan, kelimpahan, dan pujian manusia sebagai sumber keselamatan. Keduanya mengarahkan kita kepada satu hal: Allah harus tetap menjadi pusat hidup kita.

Dalam kondisi saat ini yang tidak baik-baik saja, kita semua dipanggil menjadi Kabar Gembira itu. Kita dipanggil menunjukkan kasih kepada sesama, pun dalam langkah terkecil sekalipun. Mungkin kita tidak mampu mengubah seluruh keadaan, tetapi kita selalu dapat melakukan sesuatu: menolong, berbagi, mendengarkan, menguatkan, dan hadir bagi mereka yang sedang mengalami kesesakan.

Kiranya di tengah dunia yang tidak baik-baik saja ini, kita tidak kehilangan arah. Jangan sampai kesulitan membuat kita hanya mengejar dunia. Jangan sampai kekayaan membuat kita merasa aman tanpa Allah. Jangan sampai penderitaan membuat kita merasa ditinggalkan Allah. Sebab kebahagiaan sejati bukan terutama tentang apa yang kita miliki, melainkan kepada siapa hidup kita diarahkan.

Allah, di tengah kesesakan kami hari-hari ini, biarlah mata dan hati kami tetap terarah kepada-Mu, bukan kepada hal-hal duniawi yang sedang mengikat kami. Berilah kami keberanian untuk menunjukkan kasih, pun dengan langkah kecil kepada sesama kami. Amin.

Penulis

satu Respon

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *