| Renungan hari ini dari bacaan Ibrani 5:7-9; Yohanes 19:25-27. “Dekat salib Yesus berdiri ibu-Nya dan saudara ibu-Nya, Maria istri Klopas, dan Maria Magdaena” (Yoh. 19:25). |
Kemartiran secara tradisional dianggap sebagai ungkapan kasih yang tertinggi kepada Tuhan. Kata martir berarti “saksi”, dan kemartiran merupakan salah satu bentuk kesaksian iman yang paling utama akan Yesus. Seorang martir memberikan kesaksian tentang imannya bukan hanya dengan kata-kata, tetapi bahkan dengan kesediaan untuk menderita dan menyerahkan hidupnya. Dalam arti tertentu, kemartiran menjadi cara yang sangat nyata untuk meneladani Kristus yang rela menderita dan wafat di kayu salib.
Hal itu tampak dalam bacaan Injil hari ini: “Dekat salib Yesus berdiri ibu-Nya dan saudara ibu-Nya, Maria, istri Klopas dan Maria Magdalena” (Yoh. 19:25). Di tengah penderitaan dan penghinaan yang dialami Yesus, Maria tetap berdiri di dekat salib Putranya.
Santo Bernardus menyebut Maria “lebih dari seorang martir.” Ungkapan ini sungguh tidak lazim. Para martir begitu dihormati dalam komunitas Kristen karena keberanian mereka memberikan kesaksian iman sampai menumpahkan darah. Namun, menurut Santo Bernardus, penderitaan Maria di kaki salib Putranya merupakan penderitaan yang begitu dalam, bahkan dapat dikatakan lebih berat daripada siksaan fisik yang paling kejam sekalipun. Tubuh para martir mungkin disiksa, tetapi Maria mengalami penderitaan yang menembus sampai ke kedalaman hatinya ketika melihat Putranya menderita dan wafat di hadapannya.
Namun, apa arti Maria disebut “lebih dari seorang martir”? Apakah penderitaan yang lebih besar berarti seseorang memperoleh penghargaan yang lebih besar? Ataukah penderitaan memiliki makna yang lebih dalam daripada sekadar banyaknya rasa sakit yang harus ditanggung?
Penderitaan Maria memperlihatkan kepada kita bahwa penderitaan yang dipersatukan dengan Kristus dapat menghasilkan buah rohani yang besar.
Pertama, penderitaan dapat menghasilkan ketaatan yang semakin besar. Surat kepada orang Ibrani mengatakan tentang Yesus: “Sekalipun Ia adalah Anak, Ia telah belajar menjadi taat dari apa yang telah diderita-Nya” (Ibr. 5:8). Ketika penderitaan diterima dan dijalani dalam iman, penderitaan dapat menjadi tempat kita belajar taat, percaya, dan menyerahkan diri kepada kehendak Allah. Maria telah menunjukkan ketaatan yang lebih besar.
Kedua, penderitaan yang dipersembahkan bersama Yesus dapat menjadi sumber penghiburan dan penyembuhan bagi orang lain. Santo Paulus berkata, “Sebab, sama seperti kami mendapat bagian berlimpah-limpah dalam kesengsaraan Kristus, dmeikian pula oleh Kristus kami menerima penghiburan berlimpah-limpah” (lih. 2Kor. 1:5). Orang yang pernah mengalami luka dan penderitaan sering kali justru mampu memahami penderitaan orang lain dengan lebih dalam. Maria yang mengalami kehilangan Putranya menjadi Bunda yang mampu hadir bagi mereka yang terluka.
Ketiga, penderitaan yang dijalani bersama Kristus membuka jalan menuju sukacita. Rasul Petrus mengingatkan agar kita bersukacita ketika mendapat bagian dalam penderitaan Kristus (1Ptr. 4:13). Penderitaan yang lebih hebat bersama Yesus berarti sukacita yang lebih besar, sebab kita bersukacita sesuai dengan kadar kita mengambil bagian dalam penderitaan Kristus. Sukacita itu lahir dari keyakinan bahwa penderitaan yang dipersatukan dengan Kristus tidak pernah menjadi sia-sia. Di balik salib terdapat kebangkitan dan kehidupan baru.
Hari ini Gereja memperingati Santa Perawan Maria Berdukacita. Maria mengajarkan bahwa iman tidak hanya diperlukan ketika hidup berjalan sesuai dengan harapan kita. Iman justru diuji ketika kita harus berdiri di bawah salib, ketika doa belum mendapatkan jawaban, ketika kehilangan datang, dan ketika kita tidak memahami jalan Tuhan.
Maria mengajarkan kita untuk tetap berdiri. Berdiri dalam iman ketika hidup terasa berat. Berdiri dalam kasih ketika orang lain terluka. Berdiri dalam pengharapan ketika masa depan belum jelas.
Maka, pada peringatan Santa Perawan Maria Berdukacita ini, marilah kita membiarkan diri kita diubah oleh kesaksian Maria, Bunda Gereja, yang dalam penderitaannya dapat disebut “lebih dari seorang martir.” Dan marilah kita memilih jalan kemartiran kita sendiri: bukan selalu dengan menumpahkan darah, tetapi dengan berani menjadi saksi Kristus dalam kesetiaan, ketaatan, pengampunan, pelayanan, dan kasih, terutama ketika semua itu menuntut pengorbanan.
