Menjadi saksi Kristus ( 5 April 2026 )

Renungan hari ini dari bacaan Kisah Para Rasul 10:34a. 37-43; Yohanes 20:1-9. 
 “Tentang Dialah semua nabi bersaksi bahwa siapa saja yang percaya kepada-Nya, akan mendapat pengampunan dosa melalui nama-Nya”  (Kis. 10:43).

Pada hari ketiga setelah Yesus wafat, pagi-pagi benar Maria Magdalena pergi ke Yesus dan mendapati batu penutup pintu kubur sudah tidak di tempatnya. Karena mengira tubuh Yesus telah diambil orang, ia segera menemui Petrus dan murid yang dikasihi Yesus. Keduanya langsung berlari ke kubur.

Murid yang dikasihi Yesus tiba lebih dulu, lalu menjenguk ke dalam, tetapi tidak langsung masuk. Ia memberi kesempatan kepada Petrus untuk masuk terlebih dulu. Sikap ini menunjukkan kerendahan hati dan sikap hormatnya kepada pemimpin para rasul. Mereka melihat kain kafan terletak di situ, dan kain peluh yang tadinya ada di kepala Yesus, terlipat tersendiri di tempat lain (Yoh. 20:7). Sesudah Petrus barulah murid yang lain itu masuk. “Ia melihatnya dan percaya” (Yoh. 20:8). Ia mulai memahami sesuatu yang melampaui nalar manusia. Sebab, selama itu mereka belum mengerti Kitab Suci yang mengatakan bahwa Ia (Kristus) harus bangkit dari antara orang mati (Yoh. 20:9).

Dari pengalaman ini, kita belajar bahwa iman sering kali mendahului pemahaman. Percaya bukan selalu hasil dari mengerti, tetapi justru membuka jalan menuju pengertian yang lebih dalam.

Maria Magdalena menjadi saksi pertama kebangkitan Yesus. Dalam budaya Yahudi saat itu, kesaksian perempuan kurang dihargai. Namun, Allah justru memilih dia sebagai saksi pertama. Ini menunjukkan bahwa dalam karya keselamatan, Allah melampaui batas-batas sosial manusia.

Petrus dan murid lainnya tidak mengabaikan kesaksian Maria. Mereka mendengarkan dan menanggapinya dengan serius. Dari sini, kita diingatkan bahwa iman yang sejati tidak menutup diri terhadap suara siapa pun, sebab Allah dapat berbicara melalui siapa saja.

Namun kenyataannya, sampai hari ini diskriminasi masih terjadi, terutama terhadap perempuan. Mereka masih kurang mendapat kesempatan dan kurang dihargai. Padahal, semua orang yang percaya kepada Kristus telah diangkat menjadi saudara-saudara-Nya. Di hadapan Tuhan, semua memiliki martabat yang sama. Mengapa masih ada sikap diskriminatif  terhadap perempuan dan kelompok tertentu?

Dalam bacaan Kisah Para Rasul, kita melihat langkah iman yang lebih jauh dari Petrus. Ia yang sebelumnya hidup dalam batasan tradisi Yahudi, yaitu menghindari kontak dengan non-Yahudi, kini digerakkan oleh Roh Kudus untuk melampaui sekat-sekat itu. Ia datang kepada Kornelius, seorang non-Yahudi, perwira dari batalion Italia di Kaisarea. Ia bersaksi tentang Yesus Kristus: tentang hidup-Nya, wafat-Nya di salib, dan kebangkitan-Nya pada hari ketiga, serta penampakkan-Nya. Puncak pewartaannya dirangkum dalam pengakuan iman: bahwa setiap orang yang percaya kepada-Nya akan menerima pengampunan dosa melalui nama-Nya (Kis 10:43).

Di sini kita melihat bahwa kebangkitan Kristus bukan hanya peristiwa iman, tetapi juga sumber perutusan. Iman yang sejati selalu mendorong seseorang keluar dari dirinya, menembus batas-batas, dan menjadi saksi bagi semua orang.

Sebagai orang yang percaya kepada Kristus yang bangkit, kita pun menerima panggilan yang sama: menjadi saksi-Nya. Bahkan Kristus menjanjikan Roh Kudus yang akan menyertai dan menolong orang beriman memberi kesaksian. Namun, kesaksian itu tidak cukup hanya dengan kata-kata. Kesaksian yang sejati lahir dari hidup yang diubah, hidup yang selaras dengan ajaran Kristus dan terbuka terhadap bimbingan Roh Kudus.

Dari sebab itu, marilah kita melakukan introspeksi: Apakah hidup kita sudah mencerminkan Kristus? Apakah kita masih bersikap diskriminatif terhadap sesama? Apakah kita sungguh terbuka terhadap karya Roh Kudus dalam hidup kita?

Menjadi saksi Kristus berarti menghadirkan kasih, keadilan, dan pengampunan dalam kehidupan sehari-hari. Ketika kita memperlakukan sesama dengan hormat, memandang mereka sebagai pribadi yang berharga di dalam Tuhan, ketika kita mengampuni, ketika kita setia dalam kebenaran, di situlah Injil menjadi hidup.

Akhirnya, kesaksian iman bukan pertama-tama soal berbicara tentang Kristus, tetapi memperlihatkan Kristus melalui hidup kita, dalam perkataan dan perbuatan. Dengan demikian, orang lain yang melihat hidup kita dapat semakin mengenal Dia, percaya kepada-Nya, memahami ajaran-Nya, dan mengalami keselamatan dalam nama-Nya.

Penulis

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *