Milestone Kerajaan Allah ( 23 Agustus 2026 )

Renungan hari ini dari bacaan Yesaya 22:19-23; Matius 16:13-20.
“Engkau adalah Petrus dan di atas batu karang ini Aku akan mendirikan gereja-Ku dan alam maut
tidak akan menguasainya” (Mat. 16:18)

Pada hari ini, tidak mudah menemukan titik temu kedua bacaan, Yesaya 22:19-23 dan Matius 16:13-20. Kedua bacaan ini perlu dibaca berulang-ulang dan dibiarkan berjumpa dalam ruang rohani. Lalu kita bertanya: Allah memberi pesan apa bagiku melalui kedua bacaan ini?
Dalam bacaan pertama, Yesaya 22:19-23, Nabi Yesaya memberikan pewahyuan tentang nasib Kerajaan Yehuda melalui pemberitaan mengenai Sebna dan Elyakim. Dalam bahasa zaman ini, pesan nabi Yesaya dapat dilihat sebagai sebuah peringatan tentang masa depan. Namun, seperti banyak pesan futuristik lainnya, pesan tersebut sering kali diketahui oleh para ahli, tetapi diabaikan oleh para pengambil keputusan.
Di Indonesia pada zaman ini pun hal seperti itu dapat terjadi. Ada peringatan-peringatan, ada tonggak-tonggak peristiwa (milestone) kehadiran Allah yang diabaikan, bahkan oleh para pemimpin agama. Pertanyaannya: Apakah sikap seperti ini juga menjadi sikap pribadi kita masing-masing?
Betapa banyak pesan-pesan peringatan yang terabaikan! Bahkan gegar akibat bencana dan berbagai tanda alam pun kadang tidak menggugah kita. Kita seperti orang yang terikat pada sebuah tiang: kita terus memutari tiang itu, tetapi tidak pernah sungguh-sungguh mengupayakan diri untuk lepas darinya. Kita terikat pada dosa dan kealpaan, lupa untuk berpaling kepada Allah. Kalaupun berpaling, sering kali hanya sekejap di permukaan, lalu kembali lagi kepada pola lama.
Bacaan kedua, Matius 16:13-20, juga menjadi semakin jelas jika kita memperhatikannya dalam konteks perikop sebelumnya. Perikop tentang pengakuan Petrus ini didahului oleh kisah orang Farisi dan Saduki yang meminta tanda kepada Yesus, kemudian dilanjutkan dengan pengajaran Yesus tentang ragi orang Farisi dan Saduki. Orang Farisi dan Saduki mencobai Yesus dengan meminta tanda, sementara Yesus mengingatkan para murid agar berhati-hati terhadap ajaran mereka.
Sampai hari ini, kedua perikop tersebut tetap relevan dan aktual. Bentuknya mungkin berbeda, tetapi isinya masih sama. Kita pun dapat terjebak dalam keinginan untuk terus meminta tanda dari Allah, sementara tanda-tanda kehadiran-Nya sebenarnya sudah ada di hadapan kita. Kita juga dapat terpengaruh oleh “ragi” yang membuat iman kehilangan daya ubahnya.
Perikop Injil yang kita renungkan hari ini setidaknya membawa tiga pesan penting.
Pertama, tentang pengakuan Petrus: Yesus adalah Mesias, Anak Allah yang hidup. Pengakuan ini membawa kita masing-masing untuk merefleksikan: Siapakah Yesus bagiku dalam hidup ini? Apakah Yesus sungguh menjadi pusat hidupku, atau hanya menjadi bagian dari hidupku?
Kedua, tentang sumber pengakuan Petrus. Yesus menegaskan bahwa pernyataan Petrus itu bukan semata-mata hasil pemikiran manusia, melainkan dinyatakan oleh Bapa yang di surga. Karena itu, kita pun perlu bertanya: Apa yang disampaikan Allah Bapa kepadaku mengenai Yesus? Apakah aku sungguh memberi ruang bagi Allah untuk menyatakan diri-Nya dan menuntun hidupku?
Ketiga, tentang perutusan Petrus sebagai batu karang. Petrus dipanggil menjadi batu karang, dan di atas batu karang itu Yesus membangun Gereja-Nya. Gereja Yesus di dunia ini tidak akan dikuasai oleh alam maut. Pesan ini membantu kita melihat diri kita masing-masing: Sejauh mana aku menjadi milestone Kerajaan Allah yang tidak dikuasai oleh maut?
Di sinilah kedua bacaan hari ini menemukan titik temunya. Yesaya mengingatkan kita bahwa Allah hadir dan bekerja dalam sejarah melalui berbagai peristiwa yang menjadi tanda dan peringatan. Injil mengingatkan kita bahwa kehadiran Allah mencapai kepenuhannya dalam pengakuan akan Yesus sebagai Mesias, Anak Allah yang hidup, dan dalam perutusan para pengikut-Nya untuk menjadi tanda kehadiran Kerajaan Allah.
Karena itu, kita tidak hanya dipanggil untuk mengenali tanda-tanda kehadiran Allah, tetapi juga dipanggil untuk menjadi tanda kehadiran Allah. Kita tidak hanya menunggu milestone Kerajaan Allah, tetapi kita sendiri dipanggil untuk menjadi milestone itu: melalui iman, kasih, kebenaran, pengampunan, kepedulian, dan keberanian untuk meninggalkan pola hidup lama yang menjauhkan kita dari Allah.
Allah Bapa, kepada Petrus Engkau telah menyatakan siapa Yesus. Kepada kami semua yang menjadi pengikut Yesus, Engkau mempercayakan tugas untuk menjadi batu karang dan penanda hadirnya Kerajaan-Mu di dunia ini. Berilah rahmat-Mu agar kami sungguh-sungguh mengasihi-Mu dan sesama kami seperti diri kami sendiri. Semoga melalui hidup kami, orang lain dapat mengenali tanda kehadiran Kerajaan-Mu. Amin.

Penulis

satu Respon

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *