Musim Kehidupan ( 6 November 2025 )

Renungan hari ini dari bacaan Yesaya 30:19–21.23–26; Matius 9:35; 10:1.6–8.“Walaupun Tuhan memberi kamu roti kesesakan dan air kesengsaraan, Pengajarmu tidak akan menyembunyikan diri lagi, dan matamu akan terus melihat Dia” (Yes. 30:20).

Perjalanan hidup ini melewati berbagai musim. Ada musim ketika kita tertawa lega, tetapi ada pula musim ketika air mata menjadi teman setia. Ada masa panen yang dipenuhi dengan sukacita, namun ada pula masa menabur yang penuh tantangan. Dalam semua itu, Tuhan tidak pernah meninggalkan kita. Bahkan, melalui berbagai musim inilah kita menemukan warna-warna kehidupan yang membentuk siapa diri kita sesungguhnya.

Kitab Yesaya menggambarkan bahwa bangsa Israel pernah berada dalam musim yang kelam. Mereka mengalami kesusahan dan tekanan. Seperti “roti kesesakan” dan “air penindasan,” itu adalah musim hidup di mana segala sesuatu terasa berat dan membingungkan. Namun, Tuhan berkata bahwa Ia mendengar tangisan mereka. Tidak ada musim yang terlalu kelam sehingga kondisi mereka tidak terpantau oleh-Nya.

Menariknya, Tuhan tidak menjanjikan bahwa musim sulit langsung berakhir, namun Ia menjanjikan sesuatu yang lebih berharga: Ia akan mengajar, menuntun, dan membuka mata mereka. Dalam setiap musim, ada pelajaran yang diperoleh. Dalam musim kesesakan, umat belajar untuk mendengar suara Tuhan berkata, “Inilah jalan yang benar – Ikutlah ini.” Di balik musim yang kelam, lahirlah kepekaan rohani.

Kemudian Yesaya beralih pada musim pemulihan. Tuhan berjanji menurunkan hujan, memberi panen yang melimpah, menyuburkan tanah, dan bahkan menyembuhkan luka-luka umat-Nya. Cahaya bulan seperti cahaya matahari, dan cahaya matahari menjadi tujuh kali lebih terang. Ini adalah musim ketika terang datang, ketika sukacita kembali, dan ketika warna hidup berubah dari kelam menjadi cerah. Musim pemulihan bukan hanya mengembalikan keadaan, tetapi memperindah kehidupan dengan pengalaman baru yang penuh syukur.

Dalam Injil Matius, kita melihat bagaimana Yesus berjalan dalam berbagai musim kehidupan orang-orang di sekitarnya. Ia mendatangi kota dan desa, bertemu orang yang sakit, lemah, dan orang yang tersisih. Yesus hadir dalam musim duka mereka dan membawa warna baru: pengajaran, pengharapan, dan kesembuhan. Belas kasihan-Nya memperlihatkan bahwa Tuhan tidak hanya hadir dalam musim baik, tetapi juga dalam musim paling kelam.

Ketika Yesus memanggil dan mengutus para murid, Ia sebenarnya sedang membawa mereka masuk ke musim baru dalam hidup mereka. Mereka tidak hanya mengikuti, tetapi juga melayani. Mereka diberi kuasa untuk menyembuhkan dan memulihkan. Namun, keindahan dari musim baru ini bukan pada kuasa itu sendiri, tetapi pada warna rohani yang mereka peroleh: belas kasihan, kerendahan hati, dan pemahaman yang lebih dalam tentang hati Allah.

Setiap musim membawa pelajaran. Musim sulit membawa keteguhan hati. Musim kesesakan menumbuhkan kepekaan. Musim pemulihan membawa ucapan syukur. Musim pelayanan melahirkan kedewasaan dan kerendahan hati. Setiap musim menambahkan warna baru, membentuk mosaik kehidupan yang indah ketika dilihat dari perspektif Tuhan.

Pada akhirnya, hidup kita menjadi indah bukan karena hanya berisi musim cerah, tetapi karena setiap musim, kelam maupun terang, memberi warna yang tak tergantikan. Tuhan bekerja di setiap musim untuk menjadikan hidup kita penuh makna dan keindahan.

Penulis


Editor

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *