Renungan hari ini dari bacaan Hakim-hakim 9:6-15; Matius 20:1-16a “Tidakkah aku bebas mempergunakan milikku menurut kehendak hatiku? Atau iri hatikah engkau, karena aku murah hati? Demikianlah orang yang terakhir akan menjadi yang terdahulu dan yang terdahulu akan menjadi yang terakhir” (Mat. 20:15-16). |
Kehidupan manusia modern saat ini tidak terlepas dari persoalan pekerjaan, pendapatan, dan persaingan. Kebutuhan ekonomi yang semakin besar, ditambah perkembangan teknologi yang pesat, seringkali memperuncing perbedaan antara generasi, menimbulkan rasa iri, kecewa, bahkan konflik. Banyak orang merasa diperlakukan tidak adil oleh atasan, rekan kerja, atau organisasi. Rasa “lebih senior,” “lebih berjasa,” atau “lebih berpengalaman” membuat manusia sulit menerima bila diperlakukan sama dengan mereka yang baru datang. Inilah pergumulan nyata yang juga dialami umat beriman di tempat kerja maupun dalam pelayanan.
Yesus menggambarkan Kerajaan Allah melalui perumpamaan para pekerja di kebun anggur (Matius 20:1–16). Mereka yang bekerja sejak pagi hingga petang menerima satu dinar, sama dengan yang baru bekerja satu jam. Secara manusiawi, hal ini menimbulkan kekecewaan dan amarah. Mereka yang merasa lebih “berjasa” menuntut upah lebih besar. Tetapi, sang pemilik kebun menegaskan: Ia berdaulat menggunakan miliknya dan memilih berlaku murah hati.
Di sinilah letak perbedaan besar antara cara pandang manusia dan Tuhan. Manusia mengukur keadilan dengan standar usaha, lama kerja, dan besarnya jasa. Tuhan mengukur dengan kasih, kemurahan, dan kedaulatan-Nya. Dunia memakai ranking dan prestasi sebagai tolok ukur. Tetapi, Kerajaan Allah menempatkan kasih sebagai dasar, hingga yang terakhir bisa menjadi terdahulu, dan yang terdahulu bisa menjadi terakhir.
Kita sering berusaha memaksa Tuhan menyesuaikan diri dengan pandangan kita. Namun, firman ini mengingatkan bahwa justru kitalah yang harus menyesuaikan diri dengan pandangan Tuhan. Bila tidak, iman kita mudah goyah dan kita bisa terjebak dalam iri hati, kecewa, dan sikap merasa diri lebih benar.
Renungan ini menuntun kita untuk memahami bahwa keselamatan bukanlah hasil jasa, melainkan anugerah. Tuhan memanggil setiap orang pada waktunya masing-masing, entah sejak muda, di usia produktif, bahkan menjelang akhir hidup. Namun, upah yang Ia berikan sama: kehidupan kekal bersama-Nya. Inilah kemurahan hati Allah yang melampaui akal manusia.
Bagi kita, pelajaran pentingnya adalah jangan mengukur pelayanan, iman, dan berkat Tuhan dengan ukuran duniawi. Fokuslah pada relasi pribadi dengan Tuhan, bukan pada perbandingan dengan orang lain. Tugas kita bukan menghitung “upah,” melainkan bersyukur karena diberi kesempatan melayani di ladang Tuhan.
Firman hari ini mengingatkan bahwa Injil selalu berlawanan dengan cara pandang dunia. Dunia menghargai jasa, pengalaman, dan kedudukan; Tuhan menghargai hati yang rendah dan rela. Saat kita merasa “lebih” dari orang lain, justru saat itulah kita perlu merendahkan diri di hadapan Tuhan. Sebaliknya, saat kita merasa lemah dan tidak berarti, kasih karunia Tuhan justru menguatkan kita.
Mari kita belajar melihat hidup dengan pandangan Tuhan, bukan dengan ukuran manusia. Sebab, kemurahan hati Allah lebih besar dari segala jerih lelah kita. Ketika kita setia berjalan bersama-Nya, upah terbesar yang kita terima bukanlah harta dunia, melainkan hidup kekal di dalam Kerajaan Surga.
Penulis

