| Renungan hari ini dari bacaan Keluaran 12:1-8; Yohanes 13:1-15 “Jadi, jikalau Aku, Tuhan dan Gurumu, membasuh kakimu, kamu pun wajib saling membasuh kakimu” (Yoh. 13:14). |
Ketaatan sering kali dipahami sebagai sesuatu langkah yang sederhana, seolah-olah ketika seseorang memilih untuk taat kepada Tuhan, maka jalannya akan menjadi lebih mudah. Namun, kenyataannya, ketaatan justru kerap membawa seseorang masuk ke dalam badai pergumulan batin yang tidak sederhana. Bacaan dalam Keluaran 12:1-8 dan Yohanes 13:1-15 memperlihatkan bahwa di balik setiap tindakan taat, ada pergulatan iman yang dalam, pergumulan yang sangat manusiawi.
Bayangkan bangsa Israel pada malam Paskah pertama. Mereka hidup dalam tekanan sebagai bangsa yang tertindas. Ketika Tuhan memberi perintah untuk menyembelih anak domba, mengoleskan darahnya di pintu, dan tetap tinggal di dalam rumah, itu bukanlah hal yang mudah dilakukan. Secara manusiawi, pasti ada ketakutan: bagaimana jika apa yang dilakukan menimbulkan kemarahan bangsa Mesir? Bagaimana jika mereka salah mengerti? Bagaimana jika bahaya tetap datang? Di dalam hati mereka, mungkin terjadi tarik-menarik antara iman dan logika, antara percaya dan cemas. Namun, di tengah badai ketidakpastian itu, mereka memilih taat. Ketaatan mereka lahir bukan dari situasi yang tenang, melainkan dalam situasi yang sangat mencekam; melalui pergumulan yang berat.
Pergumulan yang lebih dalam lagi tampak dalam diri Yesus pada malam sebelum penderitaan-Nya. Dalam Yohanes 13:1-15, Yesus membasuh kaki murid-murid-Nya, sebuah tindakan yang tampak tenang di luar, tetapi menyimpan gejolak batin yang luar biasa. Ia tahu bahwa salah satu dari mereka akan mengkhianati-Nya. Ia tahu bahwa penderitaan dan salib sudah sangat dekat. Secara manusiawi, bayangkan tekanan yang Ia rasakan: rasa sedih, kecewa, mungkin juga kesepian karena harus menanggung semua itu seorang diri.
Namun, yang paling berat adalah pergumulan antara kehendak manusia dan kehendak Allah. Sebagai manusia, Yesus tentu merasakan ketakutan akan penderitaan yang harus dilalui-Nya. Ada kemungkinan muncul keinginan untuk menghindar, untuk mencari jalan lain yang tidak seberat itu. Keinginan untuk hidup normal seperti manusia pada umumnya, tidak perlu melalui penghianatan, penderitaan bahkan terpisah dari Allah Bapa yang sangat dikasihi-Nya. Namun, di tengah badai batin itu, Yesus memilih tetap taat. Ia tidak membiarkan perasaan menguasai keputusan-Nya. Ia justru merendahkan diri, membasuh kaki murid-murid-Nya, bahkan termasuk kaki yang akan melangkah pergi untuk mengkhianati-Nya.
Di sinilah kita melihat bahwa ketaatan sejati bukanlah ketiadaan pergumulan, melainkan kesetiaan di tengah pergumulan. Ketaatan tidak menghapus rasa takut, tetapi mengajarkan kita untuk tetap melangkah meskipun takut. Ketaatan tidak selalu menghilangkan keraguan, tetapi menolong kita untuk tetap percaya di tengah keraguan itu.
Dalam kehidupan kita, badai di tengah ketaatan itu sangat nyata. Ada saat-saat ketika kita tahu apa yang benar, tetapi hati kita menolak karena terlalu berat. Kita tahu harus mengampuni, tetapi luka masih begitu terasa. Kita tahu harus jujur, tetapi konsekuensi dari kejujuran yang menakutkan. Kita tahu harus tetap setia, tetapi keadaan seolah tidak berpihak. Di situlah pergumulan batin terjadi: sunyi, tersembunyi, namun sangat menentukan.
Sering kali, pergumulan itu membuat kita lelah. Kita bertanya, “Mengapa harus seberat ini?” atau “Apakah benar ini jalan Tuhan?” Tetapi, justru di titik nadir itulah ketaatan kita dibentuk. Tuhan tidak menuntut kita untuk tidak bergumul, tetapi mengundang kita untuk tetap setia di dalam pergumulan itu.
Yesus telah menunjukkan jalannya. Ia tidak lari dari badai, tetapi berjalan melaluinya dengan ketaatan yang sempurna. Ia mengajarkan bahwa di balik setiap ketaatan yang diperjuangkan dengan air mata, bahkan tetesan darah ada kemuliaan yang sedang dipersiapkan.
Maka, ketika kita berada di tengah badai dan hati terasa goyah, ingatlah: pergumulan itu bukan tanda bahwa kita gagal taat. Justru itu adalah tanda bahwa kita sedang belajar taat dengan sungguh-sungguh. Dan di situlah, kita sedang dibentuk menjadi semakin serupa dengan-Nya. Amin.
