| Renungan hari ini dari bacaan Yesaya 10:5–7.13–16; Matius 11:25–27 “Aku bersyukur kepada-Mu, Bapa, Tuhan langit dan bumi, karena semuanya itu Engkau sembunyikan bagi orang bijak dan orang pandai, tetapi Engkau nyatakan kepada orang kecil” (Mat. 11:25) |
Beberapa kali saya mengikuti kebaktian di sebuah gereja di tengah kota. Setiap kali hadir, perhatian saya selalu tertuju kepada seorang ibu yang tampil sangat sederhana. Beliau duduk di barisan belakang, membawa Alkitabnya, lalu mempersiapkan diri dengan saat teduh sebelum ibadah dimulai. Seusai ibadah, beliau selalu menyapa orang-orang di sekitarnya dengan ramah, “Selamat hari Minggu, Tuhan Yesus memberkati.”
Saya pun beberapa kali berjabatan tangan dengannya. Entah mengapa, setiap kali bertemu, saya merasakan damai dan sukacita yang sulit dijelaskan. Dari sikapnya yang lemah lembut, tutur katanya yang sopan, dan keramahannya, saya seakan melihat pantulan kasih Tuhan Yesus. Belakangan saya mengetahui bahwa beliau melayani sebagai anggota Komisi Diakonia yang setia mendampingi jemaat yang miskin, sakit, serta mereka yang karena keterbatasan fisik tidak dapat datang beribadah.
Pengalaman sederhana itu mengingatkan saya akan perkataan Yesus dalam Injil hari ini. Allah sering kali menyatakan karya dan kemuliaan-Nya bukan melalui orang-orang yang dipandang besar, kaya, pandai, atau memiliki kedudukan tinggi, melainkan melalui orang-orang kecil yang rendah hati, lemah lembut, taat, dan penuh kasih. Di mata dunia mereka mungkin tidak menonjol, tetapi di mata Tuhan mereka menjadi alat yang berharga untuk menghadirkan kasih-Nya.
Sebaliknya, bacaan dari Yesaya memperlihatkan bagaimana bangsa Asyur dipakai Allah sebagai alat untuk menghukum Israel yang telah menyimpang. Namun, setelah memperoleh kemenangan, bangsa Asyur menjadi sombong. Mereka lupa bahwa keberhasilan itu bukan karena kekuatan mereka sendiri, melainkan karena Allah mengizinkannya. Kesombongan membuat mereka menganggap diri sebagai sumber keberhasilan. Karena itulah Allah akhirnya menghukum mereka (bdk. Yesaya 10:16).
Firman Tuhan hari ini mengingatkan kita bahwa keberhasilan, kepandaian, kekayaan, maupun jabatan bukanlah alasan untuk meninggikan diri. Semua yang kita miliki adalah anugerah Tuhan. Ketika seseorang mulai mengandalkan dirinya sendiri dan melupakan Tuhan, ia sedang berjalan menuju kejatuhan. Sebaliknya, orang yang rendah hati akan semakin dipakai Allah untuk menyatakan kasih dan kemuliaan-Nya.
Tuhan Yesus sendiri menjadi teladan yang sempurna. Walaupun Ia adalah Anak Allah, Ia tidak mencari kemuliaan bagi diri-Nya. Ia rela merendahkan diri, dihina, ditolak, bahkan menderita di kayu salib. Dalam segala hal Yesus taat kepada kehendak Bapa. Kerendahan hati dan ketaatan-Nya menjadi jalan keselamatan bagi dunia.
Karena itu, marilah kita belajar menjadi “orang kecil” di hadapan Tuhan: memiliki hati yang sederhana, lemah lembut, murah hati, dan taat kepada kehendak-Nya. Jangan pernah takut untuk mewartakan kebenaran dan membagikan kabar sukacita kepada keluarga, sahabat, maupun siapa saja yang belum mengenal Kristus. Dalam penantian akan kedatangan-Nya, marilah kita tetap setia, memelihara kekudusan hidup, serta melayani dengan rendah hati. Roh Kudus akan memampukan kita menjadi alat bagi penggenapan rencana keselamatan Allah.
Doa
Tuhan Yesus Kristus, berilah kami hikmat, hati yang lembut, rendah hati, dan taat kepada kehendak-Mu. Bentuklah kami menjadi orang-orang yang sederhana namun setia, sehingga melalui hidup kami, kasih dan kemuliaan-Mu dinyatakan kepada dunia. Mampukan kami untuk tetap setia melayani, mewartakan kabar sukacita, dan memuliakan nama-Mu dalam setiap langkah kehidupan kami. Amin.
