Pilihlah  Allah atau Ilah-ilah ( 16 Agustus 2025 )

Renungan hari ini dari bacaan Yosua 24:14-29 dan Matius 19:13-15. “Biarkanlah anak-anak itu,jangan halang-halangi mereka datang kepada-Ku,sebab orang-orang yang seperti inilah yang memiliki Kerajaan Surga” (Mat. 19:14)

Pengajaran moral yang terbaik yang bisa dilakukan orang tua bagi anak-anak bukanlah hanya dengan kata-kata melainkan dengan teladan.

Menjelang kematiannya Yosua mengumpulkan semua suku Israel di Sikhem untuk mengadakan upacara pembaruan perjanjian. Dalam upacara perjanjian ini Yosua mengajak seluruh orang Israel mengingat kembali sejarah bangsa itu di masa lampau dan melihat semua yang telah dilakukan Tuhan untuk mereka dan nenek moyang mereka: Tuhan selalu menjaga mereka dan memenuhi janji-Nya dengan memberikankan Tanah Kanaan kepada mereka. Menanggapi kesetiaan Tuhan ini, orang Israel diharapkan menunjukkan kesetiaan kepada-Nya yaitu dengan beribadah hanya kepada-Nya.

Setelah memaparkan karya Tuhan bagi orang Israel, Yosua meminta mereka  membuat penilaian: baik atau tidak beribadah kepada Tuhan yang telah melakukan semua itu. Yosua juga menghadapkan umat Israel pada pilihan: Tuhan atau ilah-ilah lain. Kalau memilih Tuhan mereka harus  meninggalkan ilah-ilah lain, dan sebaliknya. Mereka tidak dapat  memilih sekaligus Tuhan dan ilah-ilah lain. Tidak ada kompromi karena digambarkan Tuhan adalah Allah yang cemburu (Yos. 24:19). Mereka harus menentukan sendiri kepada siapa mereka akan beribadah. Kepercayaan kepada Tuhan adalah pilihan yang harus diputuskan secara bebas.Tuhan tidak memaksa orang untuk percaya kepada-Nya.

Yosua memberikan diri menjadi teladan bagi orang Israel tentang bagaimana menanggapi kasih setia Tuhan. “Pilihlah pada hari ini kepada siapa kamu akan beribadah: ilah-ilah yang kepadanya nenek moyangmu beribadah disebrang Sungai Efrat, atau ilah-ilah orang Amori yang negerinya kamu diami ini? Tetapi, aku dan seisi rumahku, kami akan beribadah kepada Tuhan!” ( Yos. 24:15 ).Dengan memberikan contoh apa yang dibuat keluarganya, Yosua memberi motivasi kepada orang Israel untuk membuat keputusan yang benar. Dengan demikian orang Israel  bertanggungjawab atas keputusan bebas yang mereka buat berdasarkan hati nurani mereka sendiri, sehingga mereka tidak bisa menyalahkan orang lain di kemudian hari. Memang tidak mudah untuk selalu setia pada jalan Tuhan. Dibutuhkan komitmen yang kuat dan ketika gagal kita perlu segera mengambil keputusan untuk kembali ke jalan yang benar.  

 Pada bacaan Injil hari ini, Yesus  memberikan jawaban kepada para murid  ketika ada orang membawa anak-anak kecil kepada Yesus untuk diberkati dan didoakan tetapi dihalang-halangi oleh murid-murid-Nya. Mereka mungkin berpikir bahwa anak-anak itu hanya akan  mengganggu Yesus.  Yesus malah berkata, “Biarkanlah anak-anak itu, jangan menghalang-halangi mereka datang pada-Ku, sebab orang-orang yang seperti inilah yang memiliki Kerajaan Surga” (Mat. 19:14). Yesus menyambut anak-anak itu dan dalam diri anak-anak itu Ia menunjukkan contoh dan jalan masuk ke dalam Kerajaan Surga. Kerajaan Surga bukanlah milik orang yang berkuasa dan terkemuka, tetapi milik orang-orang lemah, terabaikan, orang kecil dan orang-orang yang tidak dianggap dalam masyarakat. Yesus  menyambut siapa saja yang datang kepada-Nya, tidak memandang status sosialnya. Dalam masyarakat Yahudi zaman itu, anak-anak termasuk golongan orang yang tidak berdaya, bergantung  dan menerima dari orang lain. Setiap orang harus menyadari bahwa Kerajaan Surga adalah  anugerah Tuhan, bukan hasil kerja kerasnya.

Untuk menerima anugerah Tuhan kita harus memiliki hati yang murni dan polos, dan melaksanakan perintah Tuhan dengan keyakinan bahwa Tuhan berkehendak baik. Kita perlu selalu membina hati nurani agar selalu jujur dan polos dihadapan Tuhan. Kiranya kita selalu memiliki hati yang polos dan jujur seperti anak kecil untuk menerima dan menghayati kehendak Tuhan dalam hidup kita.

Penulis

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *