| Renungan hari ini dari bacaan Kisah Para Rasul 6: 1-7; Yohanes 6: 16 – 21. |
Dalam Injil diceritakan bahwa hari mulai gelap. Murid-murid Yesus turun ke danau, naik ke perahu, dan menyeberang ke Kapernaum. Namun, ada satu kalimat yang terasa begitu dalam: “Hari sudah gelap dan Yesus belum juga datang” (Yoh. 6:17).
Gelap di sini bukan berarti ditinggalkan. Murid-murid tetap berada dalam ketaatan; mereka berangkat karena diperintahkan Yesus. Namun, justru di tengah ketaatan itu, badai datang di malam hari, dan Yesus seolah-olah “tidak ada”.
Pengalaman ini sangat dekat dengan hidup kita. Terkadang kita sudah berusaha hidup benar, rajin berdoa, bekerja dengan jujur, tetapi masalah tetap datang. Tuhan terasa jauh, seakan terlambat. Namun, perikop ini mengajarkan: keterlambatan Yesus bukan berarti Ia lupa. Ia datang tepat pada waktunya, justru pada saat kita paling membutuhkan-Nya.
Di tengah badai itu, Yesus datang dan berkata: “Aku ini, jangan takut!” Di sini Ia bukan sekadar menyapa. Kata “Aku ini” berasal dari bahasa Yunani egō eimi, yang menunjuk pada nama Allah sendiri: “AKU ADALAH AKU”, seperti yang diwahyukan kepada Musa. Artinya, Yesus menyatakan identitas-Nya: Allah sendiri hadir di tengah badai.
Maknanya bagi kita sangat kuat: Dia yang berjalan di atas air adalah Tuhan yang sama yang membelah Laut Merah. Badai setinggi apa pun tidak lebih tinggi dari kaki-Nya. Karena itu, perintah-Nya bukan “jangan ada badai”, melainkan: “jangan takut”, sebab Dia ada.
Sering kali kita lelah “mendayung” hidup sendirian: pekerjaan, keluarga, persoalan hidup. Tetapi, saat kita “menerima Yesus ke dalam perahu”, artinya mengundang Dia masuk ke dalam rumah, keputusan, dan luka-luka kita, perjalanan hidup menjadi berbeda. Bukan berarti badai langsung hilang, tetapi kita tidak lagi sendirian, dan kita akan sampai ke tujuan bersama Dia.
Maka doa kita menjadi sederhana namun mendalam:
Tuhan Yesus, malam ini perahu hidupku mungkin goyah. Angin kencang dan arah terasa tidak jelas. Tetapi, Engkau berkata, “Aku ini, jangan takut.” Aku percaya Engkau lebih besar daripada badaiku. Masuklah ke dalam perahuku, dalam keluargaku, pekerjaanku, dan hatiku. Bawalah aku sampai ke pantai yang Engkau rencanakan.
Kita boleh takut. Kita boleh lelah. Tetapi, jangan mendayung sendirian. Undang Yesus masuk ke dalam perahu hidup kita. Ia tidak menjanjikan badai akan hilang, tetapi Ia menjanjikan: “Aku ada. Jangan takut. Kita sampai bersama.”
Pengalaman serupa juga terjadi dalam kehidupan Gereja perdana (Kis. 6:1–7). Ketika jumlah murid semakin bertambah, justru muncul masalah: sungut-sungut. Para janda berbahasa Yunani merasa dianaktirikan dalam pelayanan.
Ini menunjukkan bahwa di mana pun kita berkarya, dalam keluarga, gereja, maupun tempat kerja, gesekan dan konflik adalah hal yang wajar. Semakin bertumbuh, semakin besar pula potensi masalah. Yang penting bukan “tidak ada konflik”, tetapi bagaimana kita menyelesaikannya dengan kasih dan hikmat.
Para rasul menyadari prioritas mereka: doa dan pelayanan firman. Namun, mereka juga tidak mengabaikan kebutuhan praktis. Solusinya bukan melakukan semuanya sendiri sampai kelelahan, tetapi membagi tugas kepada orang-orang yang penuh Roh dan hikmat. Dari sinilah lahir tujuh diakon pertama.
Ini menjadi pelajaran penting bagi kita: Tuhan tidak memanggil kita menjadi “superman”. Dalam keluarga, suami-istri perlu berbagi peran. Dalam Gereja, setiap orang memiliki panggilan dan tanggung jawabnya masing-masing. Pelayanan yang sehat adalah pelayanan yang tahu prioritas dan berani mempercayakan tugas kepada orang lain.
Hasilnya nyata: setelah masalah diselesaikan dan tugas dibagi dengan baik, “Firman Allah makin tersebar dan jumlah murid makin bertambah” (Kis. 6:7). Bahkan banyak imam menyerahkan diri.
Artinya, kesatuan dan keteraturan membuka jalan bagi karya Tuhan yang lebih besar. Sebaliknya, jika energi habis untuk konflik, pewartaan Injil terhambat. Tetapi, jika konflik diselesaikan dengan doa dan hikmat, Gereja justru bertumbuh.
Karena itu, kita diajak untuk berani melihat masalah, tidak gengsi untuk berbagi tugas, dan tetap mengutamakan doa serta firman. Dengan hati seperti Stefanus, penuh iman dan Roh Kudus, pelayanan kita tidak menjadi sumber keributan, tetapi menjadi sarana agar Firman Tuhan semakin tersebar.
Tuhan, jadikan aku pembawa damai dan solusi, bukan sumber sungut-sungut. Masuklah ke dalam perahu hidupku dan pakailah aku dalam karya-Mu. Amin.
