| Renungan hari ini dari bacaan Dan. 7:2-14; Luk. 21:34-36. “Langit dan bumi akan berlalu, tetapi perkataan-Ku tidak akan berlalu.” (Lukas 21:33) |
Ketika Yesus berbicara tentang tanda-tanda akhir zaman, Ia tidak bermaksud membuat para murid tenggelam dalam ketakutan atau kebingungan. Ia memakai perumpamaan sederhana tentang pohon ara sebuah gambaran yang sangat dekat dengan kehidupan orang Yahudi pada zaman itu. Pohon ara yang mulai bertunas menandakan datangnya musim panas, suatu masa yang penuh panen, kehangatan, dan kehidupan baru. Dengan gambaran yang begitu sederhana dan mudah dipahami, Yesus mengajak para murid untuk belajar membaca setiap tanda yang Allah berikan. Artinya, Tuhan sering berbicara melalui hal-hal kecil dalam hidup kita, dan Ia mengundang kita untuk peka serta menyadari bahwa kehadiran-Nya tidak pernah jauh dari keseharian kita.
Yesus kemudian menjelaskan bahwa sebagaimana kita bisa membaca tanda-tanda alam, demikian pula kita harus peka melihat karya Allah dalam perjalanan hidup. Banyak peristiwa terjadi di sekitar kita perubahan zaman, dinamika sosial, tantangan keluarga, bahkan kesulitan pribadi dan semua itu bisa menjadi “tunas-tunas rohani” yang memberi isyarat bahwa Allah sedang berkarya. Sayangnya, manusia sering lebih cepat melihat badai dibandingkan pertumbuhan kecil yang sedang Tuhan tumbuhkan. Kita lebih sering memusatkan perhatian pada masalah, ketakutan, atau berita-berita menegangkan, daripada melihat bahwa di balik semuanya itu, Kerajaan Allah sedang bergerak mendekat. Yesus mengajarkan bahwa orang beriman harus memiliki mata batin yang dapat melihat harapan, bahkan ketika kenyataan tampak gelap dan tidak pasti.
Ketika Yesus mengatakan, “Angkatan ini tidak akan berlalu, sebelum semuanya terjadi,” Ia hendak menegaskan bahwa rencana Allah bukanlah sesuatu yang abstrak atau jauh di ujung waktu. Kerajaan Allah bukan hanya milik masa depan, tetapi sedang nyata hadir dalam kehidupan umat beriman masa kini. Kerajaan Allah hadir ketika seseorang memilih untuk mengampuni daripada membenci, ketika seseorang memilih kejujuran daripada kelicikan, ketika seseorang mau menjadi terang dalam lingkungannya meski banyak orang tidak peduli. Kerajaan Allah bergerak dalam hal-hal sederhana, dalam pilihan sehari-hari yang mencerminkan iman. Dengan kata lain, Yesus ingin menumbuhkan keyakinan dalam diri kita bahwa Allah tidak menunda karya-Nya; Ia bekerja saat ini, di hari ini, di tengah hidup kita yang penuh perjuangan.
Namun bagian yang paling kuat dari perikop ini terdapat pada ayat emas: “Langit dan bumi akan berlalu, tetapi perkataan-Ku tidak akan berlalu.” Inilah dasar harapan orang beriman. Dunia bisa berubah, situasi bisa memburuk, hidup bisa penuh ketidakpastian. Apa yang hari ini tampak kuat bisa runtuh besok, apa yang hari ini menjanjikan bisa hilang begitu saja. Tetapi Sabda Tuhan adalah satu-satunya yang tetap, teguh, dan dapat diandalkan. Sabda-Nya bukan hanya kata-kata, melainkan janji hidup yang menopang kita ketika langkah terasa berat. Dalam kesedihan, Sabda Tuhan memberi penghiburan; dalam kebingungan, Sabda-Nya memberi arah; dalam kerapuhan, Sabda-Nya menjadi kekuatan. Maka, siapa pun yang membangun hidupnya di atas Sabda Tuhan tidak akan mudah goyah, karena ia berdiri di atas fondasi yang kekal.
Pada akhirnya, renungan ini mengajak kita untuk membuka mata hati dan belajar membaca “tunas-tunas” kecil yang Tuhan tumbuhkan dalam hidup kita. Barangkali tunas itu berupa kesempatan baru, relasi yang dipulihkan, kebiasaan baik yang mulai terbentuk, atau kekuatan kecil yang Tuhan tanamkan dalam diri kita untuk menghadapi hari demi hari. Jika kita melihatnya dengan iman, kita akan menyadari bahwa Kerajaan Allah tidak jauh, melainkan sedang bertumbuh dalam diri kita. Semoga kita menjadi pribadi yang tidak hanya melihat tanda-tanda, tetapi juga menyambutnya dengan sukacita. Dan di atas segalanya, marilah kita memegang teguh Sabda Yesus satu-satunya yang tidak akan berlalu sebagai pelita yang menuntun langkah kita di tengah dunia yang terus berubah.
