Teguhlah, Jangan sesat ! ( 17 Februari 2026 )

Renungan hari ini dari bacaan Yakobus  1:12-18; Markus 8:14-21 
“Namun, tiap-tiap orang dicobai oleh keinginannya sendiri, karena ia diseret dan dipikat olehnya.  (Yak. 1:14)

Manusia memiliki proses berpikir yang kompleks. Ketika berhadapan dengan suatu kondisi, banyak faktor yang mempengaruhi proses pemahaman situasi dan penentuan tindakan.  Akal budi, dapat menuntun pemikiran logis, objektif, dan praktis. Tetapi, pengalaman, intuisi, aspek rohani, dan minat pribadi akan menambah ruwet proses berpikir, memberi warna pada pengamatan pancaindra. Biasanya trauma, rasa bersalah, harapan, keinginan, kekhawatiran yang belum selesai, akan berperan besar dalam ‘pembelokan’ atau ‘pengaburan’ pikiran. Kenyataannya, dalam satu peristiwa orang-orang akan mengalami kesan dan pembelajarannya masing-masing. Dalam penggandaan roti, selain para murid terdekat Yesus, ada ribuan saksi mata.  Mungkin saja, mereka mengalami pembelajaran dan kedalaman pengalaman spiritual yang berbeda. Sehingga saat menghadapi situasi yang mirip, akan muncul reaksi dan tanggapan yang beragam.

Suatu ketika Tuhan Yesus dan para murid sedang dalam perjalanan di atas perahu. Lalu Yesus berkata, “Hati-hati dan waspadalah terhadap ragi orang Farisi dan ragi Herodes.” (Mrk. 8:15). Mereka tidak langsung memahami maksud perkataan-Nya. Malah terjadi perdebatan bahwa hal itu dikatakan Yesus, karena saat itu mereka lupa membawa roti. Maka Yesus berkata, “… Belum jugakah kamu paham dan mengerti? Masih degilkah hatimu? Kamu mempunyai mata, tidakkah kamu melihat dan kamu mempunyai telinga, tidakkah kamu mendengar?…” (Mrk. 8:17-18). Kemudian Yesus mengingatkan mereka akan peristiwa penggandaan roti. Bahwa ketika Ia memecah lima roti untuk lima ribu orang, tersisa duabelas bakul penuh. Ketika tujuh roti dipecahkan untuk empat ribu orang, tersisa tujuh bakul penuh (Mrk. 8:19-20). Lalu kata-Nya lagi, “Belum mengertikah kamu?” Pada akhirnya, para murid mengerti bahwa Yesus tidak sedang berbicara tentang masalah ‘ragi roti’, melainkan ‘ajaran’ orang-orang Farisi dan Herodes  (bdk. Mat. 6:12). Yesus ingin supaya para murid berpegang teguh kepada pengajaran Yesus, dan tidak terseret, lalu sesat oleh ajaran yang lain.

Rasul  Yakobus berpesan,  “Saudara-saudaraku yang terkasih, janganlah sesat!  Setiap pemberian yang baik dan setiap anugerah yang sempurna, datangnya dari atas, turun dari Bapa segala terang (Yak. 1:16a). Yakobus bermaksud memberikan inspirasi kekuatan kepada saudara seiman yang mengalami penderitaan dan berbagai pencobaan. Pertama-tama, jangan berkata bahwa cobaan itu datang dari Allah (Yak. 1:13). Menurutnya tiap-tiap orang dicobai oleh keinginannya sendiri, karena ia diseret dan dipikat olehnya. Ketika keinginan dibuahi, ia melahirkan dosa. Setelah dosa itu matang, ia melahirkan maut (bdk. Yak. 1:15). Dengan kata lain, Yakobus mengajak setiap orang untuk melakukan interospeksi diri menyeluruh dan mendalam, terhadap setiap peristiwa kehidupan, dalam hal ini terutama ketika mengalami kemalangan.  Allah segala terang akan menuntun manusia yang rendah hati, yang bersedia menerima pengajaran dan dituntun kepada kebenaran dan kepada kasih Allah yang menyelamatkan. Semoga kami senantiasa setia, berupaya untuk sungguh memahami ajaran dan kehendak-Nya, menjaga kerendahan hati agar terbuka terhadap pengajaran dari Tuhan dalam setiap peristiwa kehidupan, terutama ketika dalam pencobaan. 

“Berbahagialah orang yang bertahan dalam pencobaan, sebab apabila ia sudah tahan uji, ia akan menerima mahkota kehidupan yang dijanjikan Allah kepada orang-orang yang mengasihi Dia.” (Yak. 1:12).

Penulis

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *