| Renungan hari ini dari bacaan : Kisah Para Rasul 12:24-13:5a; Yohanes 12:44-50 “Aku telah datang ke dalam dunia sebagai terang, supaya setiap orang yang percaya kepada-Ku, jangan tinggal di dalam kegelapan” (Yoh.12:46). |
Sabda Tuhan hari ini sungguh menguatkan hati saya. Yesus menyatakan diri-Nya sebagai terang yang datang ke dunia. Terang itu bukan sekadar untuk dilihat, tetapi untuk diikuti, supaya setiap orang yang percaya kepada-Nya tidak lagi tinggal dalam kegelapan.
Kegelapan di sini bukan hanya soal dosa besar. Kegelapan juga hadir dalam hidup yang jauh dari kebenaran, dalam hati yang mengandalkan diri sendiri, dan dalam batin yang perlahan tertutup terhadap karya Allah. Secara kontekstual, sabda ini menjadi penegasan menjelang akhir pelayanan publik Yesus. Ia seperti memberi ajakan terakhir kepada banyak orang yang telah melihat karya-Nya, tetapi masih bimbang untuk percaya.
Gambaran tentang “tinggal dalam kegelapan” ini mengingatkan saya pada kisah seorang sopir ojek online, sebut saja Rafa. Setiap hari ia bekerja dari pagi hingga sore, bahkan tak jarang sampai malam. Panas, hujan, kemacetan, penumpang yang tidak selalu ramah, semuanya harus ia hadapi. Hari-harinya dipenuhi perjuangan yang sering kali melelahkan, bukan hanya tubuh, tetapi juga hati.
Di tengah kesibukannya sebagai pengemudi, Rafa juga dikenal sebagai pelayan Gereja yang aktif. Ia rajin mengikuti doa rosario, terlibat dalam kegiatan lingkungan, dan sering membantu pelayanan liturgi. Namun, waktu demi waktu berlalu, dan kelelahan mulai menggerogoti dirinya. Bukan hanya lelah secara fisik, tetapi juga batin. Ia mulai merasa putus asa karena merasa tidak mampu mencukupi kebutuhan keluarganya dengan baik.
Suatu malam, setelah seharian tidak mendapat cukup pesanan, Rafa duduk sendirian di pinggir jalan. Dalam hati yang lelah dan kecewa, ia berkata, “Katanya Yesus terang dunia… tapi kenapa hidup saya justru gelap seperti ini?”
Kalimat itu sederhana, tetapi jujur. Rafa tidak berhenti datang ke gereja. Ia masih hadir. Ia masih tampak melayani. Namun, hatinya perlahan menjauh. Sukacita dalam pelayanan memudar. Dalam pikirannya, terang seharusnya berarti hidup yang lancar, rezeki yang cukup, dan masalah yang hilang. Ketika semua itu tidak terjadi, ia mulai merasa bahwa Yesus bukan terang bagi hidupnya.
Suatu hari, tanpa direncanakan, Rafa bertemu dengan Pastor Paroki di pinggir jalan saat sedang menunggu penumpang. Seperti biasa, Pastor menyapa dengan hangat dan menanyakan kabarnya. Rafa pun menjawab dengan polos, “Romo, sudah lebih dari setahun rasanya Tuhan memberi saya kegelapan. Setiap hari saya bekerja, tapi rasanya tidak pernah cukup.”
Jawaban itu menjadi awal dari percakapan yang lebih dalam. Keesokan harinya, Pastor mengajak Rafa berbincang di paroki. Dalam percakapan itu, Rafa diajak melihat hidup dari sudut pandang yang baru: bahwa terang Kristus tidak selalu berarti situasi langsung berubah, masalah langsung selesai, atau jalan hidup menjadi mudah. Sering kali terang Kristus hadir bukan dengan mengubah keadaan, melainkan dengan mengubah cara kita memandang dan menjalani keadaan itu.
Di situlah Rafa mulai mengerti: terang Kristus bukan janji bahwa hidup akan selalu mudah, melainkan kepastian bahwa dalam hidup yang tidak mudah pun, kita tidak berjalan sendirian.
Kisah sederhana ini meneguhkan saya bahwa percaya kepada Kristus bukan sekadar pengakuan di bibir, melainkan keputusan setiap hari: keputusan untuk meninggalkan kegelapan dan berjalan dalam terang-Nya. Iman bukan berarti semua persoalan hilang, tetapi hati kita tidak lagi dikuasai oleh gelap. Iman membuat kita tetap mampu melangkah, sebab kita tahu ada terang yang menuntun.
Tinggal dalam terang berarti tetap percaya saat hidup tidak baik-baik saja. Tinggal dalam terang berarti tetap setia saat jawaban Tuhan belum datang. Tinggal dalam terang berarti tetap berjalan bersama Kristus, meski jalan yang dilalui belum menjadi mudah.
Karena itu, sabda hari ini mengajak saya untuk bertanya pada diri sendiri: apakah saya sungguh hidup dalam terang Kristus, atau justru masih tinggal dalam kegelapan hati, kekecewaan, dan rasa putus asa?
Kristus telah datang sebagai terang. Persoalannya bukan apakah terang itu ada, melainkan apakah saya mau berjalan di dalamnya.
Doa
Ya Tuhan, sumber terang sejati, sering kali kami masih berjalan dalam kegelapan karena lebih mengandalkan diri sendiri daripada bersandar pada-Mu. Terangilah hati dan pikiran kami, agar kami semakin berani hidup dalam terang-Mu, percaya sepenuhnya pada tuntunan-Mu, dan tidak lagi tinggal dalam kegelapan. Amin.
