| Renungan hari ini dari bacaan Filipi 3:3-8a; Lukas 15: 1-10 “Demikian juga akan ada sukacita di surga karena satu orang berdosa yang bertobat, lebih daripada sukacita karena sembilan puluh sembilan orang benar yang tidak memerlukan pertobatan.” (Luk. 15:7) |
Dalam bacaan Injil hari ini, Yesus menunjukkan bahwa pertobatan seseorang membawa sukacita di surga. Melalui perumpamaan tentang domba dan dirham yang hilang, Yesus memperlihatkan bahwa Allah tidak mengabaikan mereka yang tersesat, tetapi menghendaki mereka kembali kepada-Nya. Pesan ini menjadi penting karena orang Farisi dan ahli Taurat justru bersungut-sungut melihat Yesus menerima para pemungut cukai dan orang berdosa. Mereka sulit memahami mengapa orang-orang tersebut mendapat tempat di hadapan Yesus. Namun, melalui perumpamaan-Nya, Yesus menegaskan bahwa setiap orang yang berdosa tetap memiliki kesempatan untuk bertobat dan kembali kepada Allah.
Perumpamaan ini disampaikan ketika orang Farisi dan ahli Taurat bersungut-sungut karena Yesus menerima para pemungut cukai dan orang berdosa. Mereka mempertanyakan mengapa Yesus mau menerima orang-orang yang dianggap tidak pantas. Namun, Yesus justru menunjukkan bahwa orang berdosa tetap memiliki kesempatan untuk kembali kepada Allah. Ia menegaskan bahwa pertobatan seseorang membawa sukacita di surga. Dengan demikian, Yesus memperlihatkan bahwa Allah tidak menutup pintu bagi mereka yang ingin kembali kepada-Nya.
Dalam kehidupan nyata, terkadang seseorang melakukan kesalahan yang membuatnya kehilangan kepercayaan dari orang lain. Ada yang pernah mengecewakan keluarga, menyakiti teman, atau mengambil keputusan yang membawa dirinya semakin jauh dari kehidupan yang baik. Meskipun kemudian menyadari kesalahannya dan berusaha berubah, tidak semua orang mudah menerima perubahan tersebut. Masa lalu sering kali menjadi alasan seseorang terus dinilai, bahkan ketika ia sudah berusaha memperbaiki diri.
Hal serupa dapat terjadi dalam hubungan manusia dengan Tuhan. Ketika seseorang menyadari kesalahan dan ingin kembali mendekat kepada-Nya, mungkin muncul perasaan malu atau tidak pantas. Ada yang merasa sudah terlalu jauh meninggalkan kehidupan iman, sehingga sulit untuk memulai kembali. Padahal, Injil hari ini menunjukkan bahwa Tuhan tidak menunggu manusia menjadi sempurna untuk menerima mereka. Ia menghendaki pertobatan dan membuka kesempatan bagi mereka untuk kembali.
Dalam suratnya kepada jemaat di Filipi, Paulus juga menunjukkan perubahan dalam cara memandang kehidupannya. Berbagai hal yang dahulu menjadi kebanggaannya tidak lagi menjadi ukuran utama. Setelah mengenal Kristus, ia menyadari bahwa mengenal Tuhan jauh lebih berharga daripada segala keuntungan yang pernah dimilikinya. Pengalaman Paulus memperlihatkan bahwa seseorang dapat mengalami perubahan ketika hidupnya diarahkan kepada Kristus.
Melalui kedua bacaan ini, kita diajak menyadari bahwa kesempatan untuk kembali kepada Tuhan selalu terbuka. Pertobatan bukan berarti seseorang tidak pernah melakukan kesalahan, melainkan kesediaan untuk meninggalkan kehidupan lama dan mulai berjalan dalam arah yang baru. Tuhan tidak menghendaki manusia terus terjebak dalam kesalahan masa lalunya, tetapi memberikan kesempatan untuk memperbaiki kehidupan.
Kesempatan yang diberikan Tuhan juga mengajak kita untuk melihat sesama dengan lebih terbuka. Ketika seseorang berusaha berubah, mungkin yang dibutuhkannya bukanlah penilaian atas kesalahan yang pernah dilakukan, melainkan penerimaan dan dukungan untuk memulai kembali.
Semoga bacaan hari ini membantu kita menyadari bahwa tidak ada masa lalu yang harus menjadi alasan untuk berhenti kembali kepada Tuhan. Selama masih ada kerinduan untuk bertobat, selalu ada jalan untuk memulai kehidupan yang baru bersama-Nya. Amin
