Tuhan yang Mencari dan Menyelamatkan ( 25 Mei 2026 )

Renungan hari ini dari bacaan Kejadian 3:9-15.20; Yohanes 19:25-34 “Manusia itu memberi nama Hawa kepada istrinya, seba dia menjadi ibu semua yang hidup” (Kej. 3:20).

Ketika merenungkan bacaan hari ini, hati dipenuhi rasa haru dan syukur yang mendalam. Betapa besar kasih Tuhan kepada manusia. Walaupun manusia jatuh ke dalam dosa dan menjauh dari-Nya, Tuhan tidak pernah meninggalkan ciptaan-Nya. Justru Tuhanlah yang lebih dahulu mencari manusia yang hilang. Pertanyaan Allah kepada Adam, “Di manakah engkau?” bukanlah suara murka, melainkan panggilan kasih dari seorang Bapa yang merindukan anak-Nya kembali pulang.

Sering kali kita pun seperti Adam: bersembunyi karena rasa malu, kecewa, luka, dan dosa. Kita takut datang kepada Tuhan karena merasa tidak layak. Namun, firman Tuhan hari ini mengingatkan bahwa kasih Tuhan selalu lebih besar daripada kelemahan manusia. Bahkan ketika manusia jatuh, Tuhan sudah menyiapkan jalan keselamatan. Di tengah hukuman dan penderitaan akibat dosa, Allah memberikan janji pengharapan: keturunan perempuan akan meremukkan kepala ular. Janji itu akhirnya digenapi dalam diri Yesus Kristus.

Dalam Injil Yohanes, kita melihat puncak kasih Tuhan di kayu salib. Yesus rela menyerahkan hidup-Nya demi menyelamatkan kita dan seluruh umat manusia. Di tengah penderitaan yang begitu besar, Yesus tetap memikirkan kita. Ia menyerahkan Maria kepada murid yang dikasihi-Nya, dan melalui peristiwa itu Maria menjadi Bunda bagi seluruh Gereja.

Maria tetap berdiri setia di bawah salib. Ia tidak meninggalkan Yesus dalam penderitaan. Kesetiaan Maria mengajarkan kita untuk tetap percaya kepada Tuhan, bahkan ketika hidup terasa gelap, berat, dan penuh salib. Iman sejati bukan hanya tetap percaya saat semuanya baik-baik saja, tetapi juga tetap bertahan ketika hati terluka dan harapan terasa jauh.

Saat lambung Yesus ditikam dan keluar darah serta air, hati terasa begitu tersentuh. Dari lambung Kristus mengalir kasih yang memberi kehidupan baru. Darah dan air itu melambangkan sakramen-sakramen Gereja, terutama Ekaristi dan Pembaptisan. Tuhan tahu manusia lemah dan mudah jatuh. Karena itu, Ia memberikan Gereja dan sakramen-sakramen agar kita tetap melekat pada-Nya.

Melalui Ekaristi, kita menerima kasih Kristus yang menghidupkan dan menguatkan jiwa. Melalui Sakramen Tobat, kita dipulihkan ketika jatuh dalam dosa. Tuhan tidak pernah lelah menerima anak-anak-Nya yang mau kembali kepada-Nya.

Renungan hari ini mengajak kita untuk berhenti bersembunyi dari Tuhan. Jangan biarkan rasa bersalah, kegagalan, atau dosa membuat kita menjauh dari kasih-Nya. Datanglah kepada Tuhan apa adanya, sebab Dia tidak datang untuk menghukum, melainkan untuk mencari, mengampuni, dan menyelamatkan.

Yang Tuhan inginkan hanyalah hati yang mau kembali kepada-Nya dengan penuh percaya.

Penulis
Bible Learning Loving The Truth

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *